Telegraf — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah terus memperkuat hilirisasi industri sebagai strategi utama transformasi ekonomi nasional di tengah tekanan global, termasuk risiko geopolitik dan gangguan rantai pasok.
Dalam keynote speech pada forum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Airlangga menyoroti potensi dampak ketegangan geopolitik terhadap stabilitas ekonomi global.
“Ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi,” ujarnya, Jumat (17/4).
Meski demikian, pemerintah menilai fundamental ekonomi domestik masih solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,11% pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,3% pada 2026, didukung inflasi yang terkendali serta tingkat kepercayaan konsumen yang tetap kuat.
Airlangga menambahkan, ketahanan ekonomi juga ditopang oleh permintaan domestik yang berkontribusi sekitar 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Struktur pembiayaan kita relatif sehat dengan rasio utang luar negeri yang terjaga, sementara sektor perbankan tetap solid dengan likuiditas dan permodalan yang kuat,” katanya.
Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat bauran kebijakan untuk meredam dampak eksternal. Dari sisi fiskal, optimalisasi penerimaan negara dan efisiensi belanja dilakukan, disertai pengalihan anggaran ke sektor produktif. Sementara dari sisi moneter, koordinasi dengan Bank Indonesia diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Koordinasi kebijakan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas, termasuk melalui intervensi pasar dan penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal,” ujar Airlangga.
Di sisi lain, pemerintah juga mempercepat penyaluran stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat, termasuk bantuan sosial dan program perlindungan sosial. Upaya penguatan ketahanan energi juga dilakukan melalui pengembangan biodiesel B50 dan energi baru terbarukan.
Selain fokus domestik, pemerintah memperluas kerja sama internasional untuk mendiversifikasi risiko dan memperkuat akses pasar ekspor. Sejumlah perjanjian dagang seperti Indonesia–EU CEPA dan Indonesia–Canada CEPA terus didorong penyelesaiannya.
Airlangga juga menyinggung penguatan kerja sama bilateral, termasuk dengan Rusia, dalam sektor energi dan industri. Menurutnya, kerja sama tersebut mencakup pengamanan pasokan energi hingga pengembangan hilirisasi mineral.
“Kerja sama internasional menjadi bagian penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional,” kata Airlangga.
Pemerintah juga aktif dalam berbagai forum global untuk mendukung transisi energi dan ketahanan kawasan, termasuk melalui inisiatif Asia Zero Emission Community.
Forum tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, termasuk perwakilan kementerian, akademisi, serta pelaku ekonomi.