Telegraf – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengembangkan model operasional baru dalam pengelolaan kredit melalui pembangunan Loan Factory. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan efisiensi proses sekaligus memperkuat pengendalian risiko di tengah tingginya volume permohonan kredit, khususnya kredit pemilikan rumah (KPR).
Direktur Utama Nixon LP Napitupulu menyebutkan, rata-rata pengajuan KPR yang mencapai sekitar 1.000 aplikasi per hari menuntut adanya sistem kerja yang lebih terstandarisasi. Menurutnya, pendekatan berbasis individu yang selama ini digunakan berpotensi menimbulkan ketidakkonsistenan dalam skala besar.
Transformasi ini merupakan kelanjutan dari perubahan proses bisnis kredit BTN sejak 2019, ketika perseroan mulai mengalihkan sebagian fungsi pemrosesan kredit dari cabang ke Regional Loan Processing Center (RLPC).
Model tersebut kini dikembangkan lebih lanjut menjadi sistem terpusat berbasis proses melalui Loan Factory.
Dalam skema baru ini, seluruh tahapan kredit—mulai dari input data, verifikasi, analisis, hingga persetujuan dan pencairan—dikonsolidasikan dalam satu alur kerja yang terintegrasi. BTN juga mulai mengadopsi decision engine dalam proses credit scoring untuk mempercepat analisis sekaligus menjaga konsistensi penilaian risiko.
Direktur Operations I Nyoman Sugiri Yasa menjelaskan bahwa model terpusat ini mengurangi potensi inefisiensi yang sebelumnya muncul akibat proses yang tersebar di berbagai unit kerja. Selain itu, integrasi ini dinilai mempermudah pengawasan dan memperbaiki tata kelola dokumen serta proses underwriting.
Dari sisi manajemen risiko, Direktur Risk Management Setiyo Wibowo menilai pendekatan terpusat memungkinkan peningkatan kualitas proses secara lebih konsisten. Menurutnya, evolusi dari sistem desentralisasi ke terpusat memberikan ruang bagi penerapan standar yang lebih seragam serta penguatan kontrol internal.
BTN juga menargetkan percepatan waktu pemrosesan kredit dari rata-rata sekitar enam hari kerja menjadi lebih singkat, seiring dengan integrasi sistem dan pemanfaatan teknologi. Penggunaan otomasi dan kecerdasan buatan mulai diterapkan untuk mendukung proses input, verifikasi, dan analisis data kredit.
Secara bisnis, pengembangan Loan Factory mencerminkan upaya industri perbankan dalam menyeimbangkan pertumbuhan kredit dengan kualitas aset, terutama di segmen pembiayaan perumahan yang permintaannya terus meningkat. Pendekatan berbasis proses dan teknologi menjadi kunci untuk menjaga konsistensi penyaluran kredit dalam skala besar sekaligus meminimalkan risiko.