Jokowi: Ada Apa Dengan Warna Biru, Apakah Warna Tersebut Memang Favoritnya?

Oleh : Ishwari Kyandra


Dalam satu pekan terakhir Presiden Joko “Jokowi” Widodo terlihat kerap memilih benda berwarna biru untuk dipakainya dalam beraktivitas. Mantan Gubernur DKI itu memilih payung berwarna biru untuk melindunginya dari hujan deras yang menerpa ibukota pada Jumat, 2 Desember.

Jokowi ketika itu memang tengah menjadi sorotan, karena tetap memilih untuk menembus derasnya hujan agar bisa menunaikan salat Jumat bersama ratusan ribu massa di silang Monumen Nasional. Selain kehadirannya yang menjadi perbincangan, publik juga memperhatikan payung berwarna biru navy yang dipilihnya.

Netizen ramai mencari tahu merk dari payung tersebut dan di mana mereka bisa memperolehnya. Dalam situasi lainnya, Jokowi terlihat membeli sendal berwarna senada di sebuah pusat perbelanjaan di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Melalui akunnya di media sosial, mantan Walikota Solo itu berkisah sandal berwarna biru navy itu sedang diskon dan buatan dalam negeri. Sehingga, dia memutuskan untuk membeli.

Ada apa sebenarnya antara Jokowi dengan benda berwarna biru?

“Itu tadi malam, warnanya banyak dan saya senang yang (warna) biru,” ujarnya kepada media yang menemuinya di sela kunjungan kerja ke Balikpapan pada Senin, 5 Desember.

Apakah pemilihan warna tersebut menunjukkan sikap terhadap partai politik tertentu? Sebab, selama penyelenggaraan Pilkada DKI, hubungan antara Jokowi dan pemimpin Partai Demokrat, yang notabene berwarna biru menjadi renggang.

Enggak ada. Enggak ada (kaitannya),” tutur dia.

Dia beralasan si penjual sedang memberi diskon besar sehingga dia semakin berminat untuk membelinya.

“Diskonnya 50 persen. Ternyata saya diberi diskon tambahan lagi 20 persen. Jadi dari Rp 290 ribu menjadi Rp 119 ribu,” katanya.

Apa Kaitannya Dengan Warna Parpol Tertentu?

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, menilai sikap Jokowi yang kerap memilih warna biru akhir-akhir ini tidak tertutup kemungkinan memang mengarah kepada partai politik tertentu. Warna biru juga bisa merefleksikan diri Jokowi yang kalem dan tidak menyukai konflik.

Jokowi, kata Siti tentu ingin membangun Indonesia hingga di akhir masa kepemimpinannya secara harmonis dan merangkul sesama. Itu sejalan dengan slogan yang kerap digunakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono yakni “yes we can”.

“Bisa jadi Pak Jokowi memang ada obsesi ke sana. Politik itu kan cair. Anda kan tidak bisa mengatakan bahwa Jokowi milik PDI-P atau Nasdem. Malah, kini dia sangat dekat dengan Golkar, partai yang dulu menentangnya ketika Pilpres,” ujar Siti ketika dihubungi Rappler melalui telepon pada Senin, 5 Desember.

Siti juga meminta masyarakat untuk tidak naif. Sebab, dalam dunia politik, apa pun mungkin. Kepentingan itu lah yang di atas segalanya dan menyatukan mereka.

“Lagipula negara ini kan tidak akan bisa membangun kalau tidak tercipta stabilitas keamanan. Mengapa di era orde baru bisa bertahan selama 32 tahun? Karena pemerintahan ketika itu menjaga betul agar keamanan dan politik betul-betul dijaga stabilitasnya,” kata dia lagi.

Jika fraksi di antara kekuatan politik ini tetap dibiarkan berlarut-larut, maka ujung-ujungnya bisa berdampak negatif kepada kebijakan pemerintah. Akhirnya, Indonesia semakin tertinggal jauh dibandingkan bangsa lain.


Photo Credit : Antara/Puspa Perwitasari

Lainnya Dari Telegraf


 

Copyright © 2024 Telegraf. KBI Media. All Rights Reserved. Telegraf may receive compensation for some links to products and services on this website. Offers may be subject to change without notice. 

Telenetwork

Kawat Berita Indonesia

close