Izin Ekspor Freeport Untuk Lakukan Ekspor Belum Mendapat Perpanjangan

Tanggal:



Telegraf, Jakarta – PT Freeport Indonesia belum mendapatkan perpanjangan rekomendasi izin ekspor konsentrat tembaga. Pasalnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum menyelesaikan evaluasi permohonan tersebut. Adapun izin ekspor perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu berakhir sejak 16 Februari kemarin.

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama berharap pemerintah segera menerbitkan perpanjangan izin ekspor. Namun dia belum bisa memastikan apakah ada pengiriman konsentrat keluar negeri yang mengalami penundaan. “Kami masih menunggu dari ESDM. Semoga (izin) dapat segera (diperoleh),” kata Riza di Jakarta, Minggu (18/02/2018).

Evaluasi yang dilakukan ESDM antara lain memastikan kemajuan pembangunan smelter. Minimal 90% dari rencana kerja selama satu tahun terhitung sejak diterbitkannya rekomendasi ekspor. Bila tidak mencapai batas minimum tersebut maka tidak diberikan perpanjangan izin ekspor.

Freeport sudah menunjuk PT Surveyor Indonesia untuk mengevaluasi progres smelter. Hasil evaluasi itu sudah dilampirkan dalam berkas permohonan perpanjangan izin ekspor. Surveyor menyatakan kemajuan pembangunan smelter mencapai 2,45%. Capaian itu sesuai dengan rencana pembangunan selama satu tahun. Pasalnya ada sekitar 38 item rencana kerja yang digarap selama satu tahun terakhir.

Freeport sudah mulai membangun smelter sejak 2014 silam. Smelter itu berlokasi di Gresik, Jawa Timur dengan kapasitas 2 juta ton konsentrat. Namun hingga kini pembangunan tersebut belum masuk dalam tahap konstruksi.

Baca Juga :   Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Jokowi: Stop Beli Produk Impor

Pasalnya Freeport menginginkan kepastian perpanjangan operasi pasca kontrak berakhir di 2021. Saat ini kelanjutan operasi itu menjadi bagian dalam perundingan dengan pemerintah terkait penyusunan lampiran detil Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu beralih status menjadi IUPK seiring dengan kebijakan pemerintah yang melarang pemegang Kontrak Karya untuk ekspor konsentrat sejak awal 2017. Hanya pemilik IUPK yang membangun smelter diizinkan ekspor hingga 2022. Tercatat satu pemegang Kontrak Karya yang telah beralih status menjadi IUPK yakni PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Amman sebelumnya bernama PT Newmont Nusa Tenggara. (Red)


Photo Credit : Sejak berakhir 16 Februari PT Freeport Indonesia belum mendapatkan kembali perpanjangan rekomendasi izin ekspor konsentrat tembaga. Bloomberg/Dadang Tri


 

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya
Telegraf

PLN Buka Program Tambah Daya, Bisa Lewat Aplikasi

Telegraf - PT PLN (Persero) mengajak masyarakat memanfaatkan program...

Membangun Generasi Emas Di Era Digital

Telegraf - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama...

Penyaluran Kredit Bank BTN di Wilayah Timur Indonesia Capai 171 Persen

Telegraf - Program Bank Tabungan Negara (BTN) Solusi yang...

Penanganan Covid-19 di Indonesia Dapatkan Apresiasi Dari PBB

Telegraf - Penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia mendapatkan apresiasi...