Intip Perkembangan Industri Pornografi di Abad 21

Intip Perkembangan Industri Pornografi di Abad 21

"Industri pornografi sekarang kian variatif."

Intip Perkembangan Industri Pornografi di Abad 21


Jika menilik dari sejarah, industri pornografi mulai merangkak naik dan  mendapatkan pasarnya sejak dekade 90-an. Salah satu pemicu kian populernya pornografi adalah kehadiran teknologi mass video yang memungkinkan khalayak menikmati ‘sajian panas’ secara pribadi di rumah. Memasuki abad 21, akses pornografi pun semakin mudah didapat berkat kian majunya teknologi internet, sehingga bintang porno favorit kita pun tidak lagi sekedar Miyabi.

Jadi, seperti apa sebenarnya perbedaan industri pornografi di dekade 90-an dan abad 21? Kami mengulasnya secara singkat dan padat di bawah ini.

1. Tumbuhnya Tren Pornografi DIY

Awal mula perkembangan industri pornografi banyak mengambil inspirasi dari proses pembuatan film, seperti memiliki skenario, memiliki tata lampu terstruktur, hingga audisi para pemainnya. Namun, belakangan industri pornografi justru terlihat semakin ‘natural’ alias tidak begitu memikirkan konsep menyeluruh layaknya proses pembuatan sebuah film. Alhasil, kita pun kini lebih banyak terpapar konten-konten pornografi yang terkesan spontan, dan faktanya hal tersebut disukai banyak orang.

2. Semakin Banyak Orang Menonton Film Porno, Termasuk Wanita

NONTON PORNO

Terkait semakin bergantungnya industri pornografi terhadap internet, maka semakin besar pula kesempatan publik untuk mengaksesnya, termasuk penikmat dari kaum hawa. Itulah mengapa PornHub menjadi situs pornografi terbesar di seantero dunia.

3. Protes Kebijakan Penggunaan Kondom

Sejak merebaknya isu penyakit AIDS di akhir dekade 80-an, himbauan penggunaan kondom pun meluas di tengah masyarakat, tidak terkecuali di industri pornografi. Bahkan di beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris, penggunaan kondom pada industri pornografi adalah himbauan keras yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat.

Namun, hal tersebut sering mendapat pertentangan, terutama dari sub industri pornografi gay, karena dinilai mengurangi esensi ‘panas’ dari industri esek-esek ini. Hingga pada akhirnya kini kebijakan terkait cenderung diserahkan pada masing-masing rumah produksi, dan aturan hukum pastinya stagnan sebatas himbauan.

4. Pendapatan Industri Pornografi Semakin Berkurang

Tersangka utama dalam masalah ini adalah pembajakan. Ketika internet semakin mudah diakses oleh publik, di saat itu pula potensi pembajakan merebak luas. Kini, para penyedia konten pornografi lebih memilih bekerja sama dengan situs-situs porno dibandingkan mendistribusikan secara mandiri ke publik. Setidaknya melalui situs porno, akses terhadap konten esek-esek tersebut dapat tersaring secara selektif melalui metode berlangganan.

5. Munculnya Sub Pornografi Alternatif

Saat ini industri pornografi tidak hanya dikuasai oleh kelompok heteroseksual dan homoseksual, melainkan juga oleh kelompok alternatif lainnya, seperto transseksual, amatir, hingga feminis. Kebebasan untuk mengekspresikan hasrat seksual dalam bentuk audio visual meruapakan ciri industi pornografi saat ini. Alhasil, publik pun mendapat lebih banyak opsi tonton pornografi yang sekaligus mendorong munculnya beragam kepuasan seksual baru.


Photo SHUTTERSTOCK

KBI Telegraf

close