Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Intip Perkembangan Industri Pornografi di Abad 21
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Lifestyle

Intip Perkembangan Industri Pornografi di Abad 21

Telegrafi Kamis, 9 Februari 2017 | 06:28 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Bagikan

Jika menilik dari sejarah, industri pornografi mulai merangkak naik dan  mendapatkan pasarnya sejak dekade 90-an. Salah satu pemicu kian populernya pornografi adalah kehadiran teknologi mass video yang memungkinkan khalayak menikmati ‘sajian panas’ secara pribadi di rumah. Memasuki abad 21, akses pornografi pun semakin mudah didapat berkat kian majunya teknologi internet, sehingga bintang porno favorit kita pun tidak lagi sekedar Miyabi.

Jadi, seperti apa sebenarnya perbedaan industri pornografi di dekade 90-an dan abad 21? Kami mengulasnya secara singkat dan padat di bawah ini.

1. Tumbuhnya Tren Pornografi DIY

Awal mula perkembangan industri pornografi banyak mengambil inspirasi dari proses pembuatan film, seperti memiliki skenario, memiliki tata lampu terstruktur, hingga audisi para pemainnya. Namun, belakangan industri pornografi justru terlihat semakin ‘natural’ alias tidak begitu memikirkan konsep menyeluruh layaknya proses pembuatan sebuah film. Alhasil, kita pun kini lebih banyak terpapar konten-konten pornografi yang terkesan spontan, dan faktanya hal tersebut disukai banyak orang.

2. Semakin Banyak Orang Menonton Film Porno, Termasuk Wanita

NONTON PORNO

Terkait semakin bergantungnya industri pornografi terhadap internet, maka semakin besar pula kesempatan publik untuk mengaksesnya, termasuk penikmat dari kaum hawa. Itulah mengapa PornHub menjadi situs pornografi terbesar di seantero dunia.

3. Protes Kebijakan Penggunaan Kondom

Sejak merebaknya isu penyakit AIDS di akhir dekade 80-an, himbauan penggunaan kondom pun meluas di tengah masyarakat, tidak terkecuali di industri pornografi. Bahkan di beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris, penggunaan kondom pada industri pornografi adalah himbauan keras yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat.

Namun, hal tersebut sering mendapat pertentangan, terutama dari sub industri pornografi gay, karena dinilai mengurangi esensi ‘panas’ dari industri esek-esek ini. Hingga pada akhirnya kini kebijakan terkait cenderung diserahkan pada masing-masing rumah produksi, dan aturan hukum pastinya stagnan sebatas himbauan.

4. Pendapatan Industri Pornografi Semakin Berkurang

Tersangka utama dalam masalah ini adalah pembajakan. Ketika internet semakin mudah diakses oleh publik, di saat itu pula potensi pembajakan merebak luas. Kini, para penyedia konten pornografi lebih memilih bekerja sama dengan situs-situs porno dibandingkan mendistribusikan secara mandiri ke publik. Setidaknya melalui situs porno, akses terhadap konten esek-esek tersebut dapat tersaring secara selektif melalui metode berlangganan.

5. Munculnya Sub Pornografi Alternatif

Saat ini industri pornografi tidak hanya dikuasai oleh kelompok heteroseksual dan homoseksual, melainkan juga oleh kelompok alternatif lainnya, seperto transseksual, amatir, hingga feminis. Kebebasan untuk mengekspresikan hasrat seksual dalam bentuk audio visual meruapakan ciri industi pornografi saat ini. Alhasil, publik pun mendapat lebih banyak opsi tonton pornografi yang sekaligus mendorong munculnya beragam kepuasan seksual baru.


Photo SHUTTERSTOCK

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026
Waktu Baca 2 Menit
BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026
Waktu Baca 3 Menit
Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit

Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop

Waktu Baca 2 Menit

Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern

Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Baju Padel Wanita
Lifestyle

5 Rekomendasi Baju Padel Wanita Terbaik Dengan Harga Di Bawah Rp. 300.000

Waktu Baca 4 Menit
Gindaco - Promo Hari Kartini
Lifestyle

Rayakan Semangat Kartini, F&B ID Hadirkan Promo Spesial untuk Perempuan di Seluruh Indonesia

Waktu Baca 6 Menit
Program CKG bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dan mengurangi beban penyakit yang bisa dicegah. FILE/IST Photo
Lifestyle

DPR RI dan Komdigi Tekankan Pentingnya Preventif Kesehatan Nasional

Waktu Baca 2 Menit
Lifestyle

Korban Tas Branded Hilang Desak EcoRing Tanggung Jawab

Waktu Baca 5 Menit
Lifestyle

Kesehatan Jadi Salah Satu Prioritas Utama Pemerintah

Waktu Baca 3 Menit
Lifestyle

Jelang Natal dan Tahun Baru Kemana Tujuan Wisata Anda? Simak Info Dari Kemenpar Ini

Waktu Baca 3 Menit
[Gambar 1] Liburan Nikmat, Budget Hemat_BCA Digital dan ASTINDO Hadirkan DOLAN Travel Fair 2025
Lifestyle

Liburan Nikmat, Budget Hemat: BCA Digital dan ASTINDO Hadirkan DOLAN Travel Fair 2025

Waktu Baca 6 Menit
PUMA H-Street
LifestyleRilis

Isyana Sarasvati Warnai Peluncuran PUMA H-Street di Seoul dengan Gaya Autentik dan Energi Global

Waktu Baca 5 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?