Indonesia Butuh Peran dan Solusi Para Pakar Guna Wujudkan Pertanian Berkelanjutan

"Banyak negara masuk ke jurang resesi yang dalam. Perekonomian Indonesia juga ikut melemah, tetapi sektor pertanian tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,19%,"

Indonesia Butuh Peran dan Solusi Para Pakar Guna Wujudkan Pertanian Berkelanjutan


Telegraf – Sektor pertanian membutuhkan peran para peneliti dan pakar dalam bidang tanah, lahan dan iklim. Kontribusi mereka sangat penting dalam rangka merumuskan kebijakan pembangunan pertanian Indonesia yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo dalam pembukaan Seminar Internasional Pengelolaan Lahan Tropis yang Berkelanjutan 2020 yang digelar secara virtual, Rabu, (16/09/2020).

“Dunia mengalami degradasi lahan dan terkena dampak perubahan iklim sehingga butuh solusi dari para pakar agar pertanian tetap tangguh,” katanya.

Menurut Syahrul, para pakar pertanian juga patut berbangga dan bersyukur karena sektor pertanian telah membuktikan lebih tangguh di tengah gempuran pandemik Covid-19.

“Banyak negara masuk ke jurang resesi yang dalam. Perekonomian Indonesia juga ikut melemah, tetapi sektor pertanian tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,19%,” ungkapnya.

Para pakar dibutuhkan karena sejumlah tantangan masih dihadapi Indonesia. Sebut saja perubahan iklim telah meningkatkan ketidakpastian prediksi iklim dan curah hujan yang berdampak pada perubahan waktu tanam.

Demikian pula meningkatnya permukaan air laut telah menyebabkan resiko salinitas tanah meningkat. Beberapa daerah melaporkan peningkatan banjir rob dan penyempitan garis pantai.

“Indonesia membutuhkan kontribusi dari para pakar untuk mengatasi persoalan tersebut,” imbuhnya.

Indonesia sebagai negara tropis yang wilayahnya sebagian besar berombak hingga bergunung juga mengalami laju degradasi lahan yang tinggi.

“Curah hujan dan suhu tinggi menyebabkan proses erosi, dekomposisi, pelapukan dan pemasaman tanah berjalan sangat cepat,” ungkap Syahrul.

Bahkan penggunaan pupuk anorganik secara massif dan intensif sejak revolusi hijau ternyata bukan tindakan solutif. Kandungan bahan organik di dalam tanah cepat terkuras, menyebabkan tanah menjadi keras, akar sulit bernafas, biji sulit menjadi bernas.

Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry mengakui persoalan pertanian tropis hanya dapat diatasi dengan inovasi teknologi dari para pakar dan praktisi yang bergelut langsung di lapangan.

“Praktisi pertanian dapat memberikan umpan balik agar inovasi teknologi para pakar sesuai dengan kebutuhan pertanian tropis,” kata Fadjry.

Sebaliknya para pakar dapat mendiagnosis persoalan-persoalan yang dihadapi di lapangan.

Seminar bertajuk 1st International Conference Sustainable Tropical Land Management itu dihadiri sejumlah pakar ilmu tanah internasional seperti Takashi Kosaki, President of The International Union of Soil Sciences dari Jepang. Hadir pula Budiman Minasny, ahli digital soil mapping dari Universitas Sydney, Australia.

Baca Juga :   Kemenhub Pastikan Pergerakan Transportasi Terkendali

Sementara dari Indonesia hadir Budi Mulyanto, Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).

“Lebih dari 200 pakar berdiskusi di forum ini dengan peserta lebih dari 515 orang dari berbagai negara,” kata Setiari Marwanto, peneliti dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor, yang juga ketua panitia seminar.

Konferensi tersebut akan berlangsung selama 3 hari, sejak Rabu-Jum’at, 16-18 September 2020.

“Event ini akan menjadi agenda 2 tahunan para pakar ilmu tanah, lahan, dan iklim,” jelas Setiari.

Menurut Takashi Kosaki, kesadaran masyarakat atas pentingnya tanah dalam menopang pertanian dan lingkungan yang berkelanjutan dapat diwujudkan dengan mengenalkan tanah kepada anak-anak usia dini di sekolah dasar.

“Sampaikan kepada anak-anak dengan bahasa dan percobaan sederhana,” kata Takashi.

Takashi memberi contoh bahwa anak-anak dapat dikenalkan tanah dapat menyerap polusi lingkungan. “Caranya sederhana, tunjukkan tanah dapat menyerap warna tinta atau bau di sekolah,” pungkasnya.


Photo Credit: Petani di Indonesia dengan aktifitas garapan sawahnya. FILE/Faisal Amin

 

Shan Santi

close