Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Hasil Riset: Rokok Murah Berbahaya Bagi Si Miskin dan Generasi Muda
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Hasil Riset: Rokok Murah Berbahaya Bagi Si Miskin dan Generasi Muda

Telegrafi Selasa, 6 September 2016 | 03:53 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Bagikan

Jakarta, Telegraf – Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan (PKEKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyatakan harga rokok murah akan membahayakan kelompok miskin dan generasi muda karena akan terus mengkonsumsi, sehingga harga dan cukai harus ditingkatkan.

Peneliti PKEKK Rahma Indira mengatakan pihaknya melakukan penelitian tentang pengendalian konsumsi tembakau sepanjang Desember 2015—Januari 2016. Dia menuturkan terdapat 1.000 responden yang terdiri dari perokok dan bukan perokok.

Dia menuturkan selama ini sekitar 60 persen lebih perokok justru berasal dari kalangan miskin dan sekitar 30 persen lebih anak-anak merokok di bawah usia 10 tahun. Di sisi lain, Rahma menegaskan, rokok di Indonesia dijual murah untuk menarik perokok pemula.

Penelitian PKEKK menemukan 76 persen responden menyatakan akan berhenti merokok jika harga satu bungkus rokok mencapai Rp50.000. Sehingga, Rahma menegaskan, kenaikan harga dan cukai juga akan membantu kelompok miskin tak mengkonsumsi rokok.

“Kenaikan harga rokok memutus rantai kemiskinan dan melindungi generasi muda,” kata Rahma ketika dihubungi CNNIndonesia.com di Jakarta, Senin (22/8).

Dia menyatakan kenaikan harga itu juga akan memaksa kelompok miskin untuk lebih selektif menggunakan pendapatannya. Sedangkan untuk kelompok kaya dan menjadi candu, sambungnya, konsumsi rokok akan terus dilakukan.

Rahma menegaskan rokok juga berhubungan dengan penyakit yang ditimbulkan. Kelompok miskin yang terkena dampak kesehatan, sambungnya, tak akan mampu juga untuk membiayai pengobatan yang dilakukannya.

Baca Juga :  BTN Jakarta International Marathon 2026 Diproyeksi Putar Ekonomi di Atas Rp200 Miliar

BPS menyatakan persentase penduduk miskin di pedesaan meningkat dari 14,09 persen per September 2015 menjadi 14,11 persen per Maret 2016 karena peranan komoditas makanan. Jenis komoditas yang berpengaruh di antaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras dan mie instan.

Oleh karena itu, PKEKK menyatakan, kenaikan harga dan cukai rokok dapat dikembalikan untuk pengendalian konsumsi rokok macam pembayaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), melatih petani tembakau untuk peralihan kerja, serta pembinaan generasi muda dalam olah raga serta seni. Selain itu, papar Rahma, juga dapat dialokasikan untuk riset dan promosi kesehatan.

PKEKK menyatakan, semakin murah rokok, maka semakin banyak dikonsumsi dan memperbanyak perokok yang akhirnya membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, sambung Rahma, kenaikan harga dan cukai rokok dapat membantu menyelamatkan jutaan jiwa di Indonesia. (Ist/asa)

Remaja yang merokok. PKEKK Universitas Indonesia menyatakan harga rokok murah akan membahayakan kelompok miskin dan generasi muda, sehingga harga dan cukai harus ditingkatkan.
Remaja yang merokok. PKEKK Universitas Indonesia menyatakan harga rokok murah akan membahayakan kelompok miskin dan generasi muda, sehingga harga dan cukai harus ditingkatkan.

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Program CKG bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dan mengurangi beban penyakit yang bisa dicegah. FILE/IST Photo
DPR RI dan Komdigi Tekankan Pentingnya Preventif Kesehatan Nasional
Waktu Baca 2 Menit
Perkuat Pertahanan Semesta, Kominfo dan DPR Dorong Percepatan Transformasi Digital
Waktu Baca 2 Menit
BTN Salurkan 6 Juta KPR, Perkuat Akses Hunian bagi 24 Juta Masyarakat Indonesia
Waktu Baca 2 Menit
Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup
Waktu Baca 3 Menit
PGN Perkuat Ekosistem BBG, Dorong Penggunaan Gas untuk Kendaraan Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan
Waktu Baca 3 Menit

Kominfo dan DPR RI Dorong Ruang Aman Digital Demi Kesehatan Mental Anak

Waktu Baca 2 Menit

BTN Genjot Penyaluran Kredit, Tembus Rp400,63 Triliun di Kuartal I/2026

Waktu Baca 2 Menit

Kominfo dan DPR RI Dorong Literasi Digital Guna Ciptakan Ruang Siber Ramah Anak

Waktu Baca 3 Menit

BTN Jakarta International Marathon 2026 Diproyeksi Putar Ekonomi di Atas Rp200 Miliar

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

BTN Bangun Loan Factory, Dorong Efisiensi dan Kendali Risiko Kredit

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DSLNG Bidik Produksi Hingga 2,105 Juta Ton, Alokasi Kargo Tunggu Arah Pemerintah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DSLNG Raih PROPER Hijau 2026, Dorong Efisiensi dan Nilai Ekonomi Berkelanjutan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Investor Kripto Capai 20 Juta, OJK Perkuat Edukasi di Tengah Ketidakpastian Global

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Ekspor Perdana STRK ke Singapura, Perusahaan Bidik Diversifikasi Pendapatan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

LPS Tuntaskan 100% Pelaporan SPT dan LHKPN 2025 Tepat Waktu

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN Ubah Persepsi Publik, Tak Lagi Sekadar Bank KPR

Waktu Baca 4 Menit
PROPAMI
Ekonomika

PROPAMI Gelar Serial Ramadhan Talkshow 2026 Bahas Profesi Penasehat Investasi

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?