Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Gelombang Baru Para Pengungsi Rohingya Mulai Padati Bangladesh
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Internasional

Gelombang Baru Para Pengungsi Rohingya Mulai Padati Bangladesh

Telegrafi Selasa, 10 Oktober 2017 | 13:23 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Reuters/Mohammad Ponir Hossain
Bagikan

Telegraf, Bangladesh – Jumlah warga Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar menuju Bangladesh pada Senin (09/10/2017) melonjak menurut beberapa pejabat, dengan laporan tentang anak-anak yang meninggal dunia karena kelaparan, kelelahan dan demam dalam gelombang pengungsi terbaru seperti dilansir dari AFP.

Gelombang pengungsi yang masuk dari negara bagian Rakhine yang menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa total sudah mencapai 519.000 orang dalam enam pekan terakhir sempat mereda dalam beberapa hari terakhir dengan penurunan kedatangan pengungsi menjadi sekitar 2.000 sehari menurut Organisasi Migrasi Internasional.

Namun pada Senin para saksi mata mengatakan satu gelombang pengungsi baru datang dengan menggunakan kapal menyeberangi bagian sempit Sungai Naf yang memisahkan Bangladesh dari Myanmar di desa perbatasan Anjumanpara.

Anggota dewan Anjumanpara Sultan Ahmed mengklaim puluhan ribu pengungsi telah tiba pada Senin, sementara koresponden AFP di lokasi kejadian melihat sedikitnya 10.000 pendatang baru sepanjang siang hingga petang hari.

Letnan Komandan Manzurul Hassan Khan, seorang komandan Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB), memperkirakan sekitar 6.000 warga Rohingya tiba pada siang hari.

“Ini tetap kedatangan Rohingya tertinggi setidaknya dalam dua pekan terakhir,” katanya kepada AFP.

Di antara pengungsi yang baru datang ada dua anak lelaki berusia dua setengah tahun dan tiga tahun yang meninggal dunia begitu masuk Bangladesh karena kelaparan dan kelelahan.

“Orangtua mereka memberi tahu kami mereka meninggal karena kelaparan. Mereka dikubur di pekuburan desa kami,” katanya.

Satu anak lelaki lain yang berusia empat tahun meninggal dunia karena demam menurut fotografer AFP di lokasi kejadian.

“Sang ayah menggendong anaknya yang sakit. Dia shok begitu menyadari anaknya telah menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan berperahu,” kata si fotografer.

Para saksi mata mengatakan Rohingya berhamburan datang sebelumnya, namun itu kemudian menjadi aliran tetap kemudian dan bertambah banyak pada malam hari.

PBB memperkirakan 519.000 pengungsi Rohingya telah tiba dari negara bagian Rakhine sejak 25 Agustus, ketika serangan militan Rohingya terhadap pasukan keamanan Myanmar memicu balasan mematikan dari militer negara itu.

Mereka ingin mencapai kamp-kamp pengungsi di distrik Cox’s Bazar di Bangladesh.

Para sakdi mata di perbatasan menggambarkan orang-orang tua dan anak-anak berbaring bertebaran di tanah, kelelahan dan dehidrasi setelah melalui perjalanan panjang.

Ahmed mengatakan banyak Rohingya menghindari rute utama di Sungai Naf menyusul kecelakaan kapal dan patroli perbatasan ketat oleh pasukan keamanan yang merusak lusinan perahu untuk mengendalikan gelombang pengungsi dan penyelundupan obat.

Perlintasan batas Anjumanpara adalah titik sempit di sungai itu yang tidak memiliki pagar kawat berduri , namun perjalanan melintasi daerah itu melibatkan penyeberangan berbahaya dan perjalanan bermil-mil di antara hamparan tanaman padi menuju Bangladesh.

Dalam dua pekan terakhir sedikitnya 37 orang tewas dan yang lainnya dikhawatirkan tewas setelah dua perahu berpenumpang penuh pengungsi Rohingya terbalik, satu di Sungai Naf, dan yang lain di Teluk Bengali. (Red)

Photo Credit : Reuters/Mohammad Ponir Hossain


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara
Waktu Baca 11 Menit
Inspire Rally Series 2026 Digelar di Bekasi
Padel Jadi Ruang Baru Kaum Urban Bangun Koneksi, Inspire Rally Series 2026 Digelar di Bekasi
Waktu Baca 4 Menit
Bersama DPR, Komdigi Dorong Partisipasi Rakyat Dalam Pertahanan Semesta Digital
Waktu Baca 2 Menit
Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026
Waktu Baca 2 Menit
BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026
Waktu Baca 3 Menit

Lawan Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Masyarakat Melek Literasi Keuangan

Waktu Baca 2 Menit

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru

Waktu Baca 10 Menit

Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat

Waktu Baca 2 Menit

DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Internasional

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit
Internasional

Trump Ancam Kanada Jika Terus Melakukan Hubungan Perdagangan Dengan China

Waktu Baca 5 Menit
Internasional

Indonesia dan Prancis Tegaskan Kerja Sama Dalam Pertemuan Paris

Waktu Baca 2 Menit
Internasional

Ancaman Trump Terhadap Greenland Bangkitkan Rasa Persatuan di Denmark

Waktu Baca 11 Menit
Internasional

AS Kirim Kapal Perang ke Iran, Trump: Mereka Kami Awasi Sangat Ketat

Waktu Baca 7 Menit
Internasional

JPMorgan dan CEO Jamie Dimon Kena Gugat Rp84 Triliun Oleh Presiden Trump

Waktu Baca 5 Menit
Internasional

Pidato Prabowo di WEF Davos, Tegakkan Konstitusi dan Supremasi Hukum

Waktu Baca 2 Menit
Internasional

Resmi Hengkang Dari WHO Amerika Serikat Tinggalkan Setumpuk Hutang

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?