Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Fadli Zon Tanggapi Soal Istana dan Kekalahan Prabowo Dalam Survey
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Fadli Zon Tanggapi Soal Istana dan Kekalahan Prabowo Dalam Survey

Telegrafi Selasa, 24 April 2018 | 03:48 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Wakil Ketua DPR Fadli Zon katakan langkah Kementerian Agama (Kemenag) merilis 200 penceramah yang direkomendasikan pemerintah sebagai kebijakan yang cacat secara metode. FILE/Dok/Ist. Photo
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Hasil terkini dari beberapa lembaga survei menunjukkan elektabilitas Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto masih dibawah Jokowi. Terbaru, hasil survei Litbang Kompas, Jokowi diketahui elektabilitasnya mencapai 55,9 persen, sedangkan Prabowo mencapai 14,1 persen. Sebelumnya, di survei yang dilaksanakan oleh Cyrus Network juga elektabilitas Jokowi masih tinggi dibandingkan Prabowo.

Menyikapi semua hal diatas, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon soal survei tersebut. Menurutnya, hasil survei belum tentu merefleksikan apa yang sesungguhnya.

“Nanti kita lihat saja ya. Survei itu belum tentu merefleksikan apa yang sesungguhnya. Hanya menjadi salah satu indikator,” ujar Fadli di Gedung DPR, Senin (23/04/18).

Ia mengatakan, survei merupakan indikator awal mengingat Pemilu 2019 masih dilaksanakan satu tahun lagi. Oleh karena itu menurutnya hasil survei tersebut merupakan hal yang biasa. Sebab kenyataannya akan terbukti pada saat kontestasi dimulai oleh rakyat langsung tahun depan.

“Kami masih yakin Pak Prabowo akan menang, melihat banyak janji dari pemerintah sekarang itu tidak delivered, tidak terealisasi, kemudian juga keadaan ekonomi jauh seperti dulu yang pernah dijanjikan tidak meroket malah pertumbuhan ekonomi turun,” katanya.

Selain itu, di masa kepemimpinan sekarang hidup rakyat juga dinilainya semakin sulit karena mereka sulit mencari pekerjaan. Termasuk juga harga-harga kebutuhan pangan yang meroket terus-menerus.

“Saya kira itu tidak bisa di-convert dengan angka-angka statistik untuk menyenangkan. Jadi harusnya dihadapi. orang-orang di sekitar presiden juga seharusnya jangan Asal Bapak Senang,” katanya.

Dikatakan Fadli, lembaga-lembaga survei yang melakukan survei tersebut berbeda dalam merepresentasikan hasil surveinya. Menurutnya, jika ia sendiri membuat survei di media sosial, rata-rata hasilnya menginginkan presiden baru.

“Kalau head to head Pak Jokowi dengan Pak Prabowo di medsos itu rata-rata yang menang selalu Pak Prabowo. ya pernah Jokowi juga sekali,” katanya.

Oleh karena itu ia meminta lembaga-lembaga survei untuk mendeklarasikan mereka dibiayai oleh siapa untuk transparansi. Ia tidak menginginkan ada lembaga survei yang merupakan bagian dari political consultant bekerja seolah independen tetapi sesungguhnya ada donaturnya.

“Kita sama-sama tahu lah, sudah berapa kali pemilu kan juga begitu. Kami juga melakukam ada lembaga survei yang seperti itu. Jadi harusnya lembaga-lembaga itu mengumumkan demi transparansi. Mereka itu di belakangnya siapa,” jelasnya.

Fadli juga membantah terkait soal majunya Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) karena ada permintaan dari pihak Istana agar Joko Widodo (Jokowi) mempunyai penantang di Pemilu 2019 mendatang.

“Tidak ada (permintaan pihak Istana) dari awal kok. Sejak dibentuk capres, kami memang (mengajukan) Pak Prabowo, kalau kemarin kalah atau dikalahkan, itu persoalan biasa dalam demokrasi,” ujarnya

“Pak Prabowo tidak pernah ada opsi di luar jadi capres,” tegasnya.

Ia mengatakan, setelah kalah di Pemilu 2014, Prabowo bahkan tidak mengutak-atik sama sekali pemerintahan Jokowi ataupun merecokinya selama 3,5 tahun ini. Oleh karena itu, katanya, sekarang sudah waktunya presiden berganti di pemilu tahun depan.

Fadli juga menyebut jika partai koalisinya, seperti PKS atau PAN tidak mempermasalahkan dengan kembali majunya Prabowo sebagai capres dari Gerindra. Pihaknya juga tidak membicarakan nama lain untuk diusung menjadi capres dengan partai-partai tersebut, kecuali Prabowo. (Red)


Photo Credit : Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon tanggapi soal survei yang menyatakan bahwa elektabilitas Prabowo masih jauh dibawah Jokowi. | File/Dok/Ist. Photo

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Menggapai Indonesia Emas dan Falsafah Kepemimpinan Nasional Dalam Perspektif Keindonesiaan
Waktu Baca 9 Menit
Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit

Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?