Telegraf, Purwakarta – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (DM) berpendapat, agar Pancasila itu jangan hanya dijadikan sebagai simbol pengakuan semata. Tapi harus juga diterjemahkan dan di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, memupuk kembali rasa persatuan melalui gotong royong dan membangun keadilan bagi seluruh masyarakat. Artinya, harus lebih diaplikasikan dalam kehidupan nyata. “Pancasila itu harus menjadi spirit untuk mewujudkan kesejahteraan semua elemen masyarakat,” ujarnya
Menurutnya, pendalaman ideologi negara itu dalam konteks kelembagaan memang penting. Akan tetapi, menjadikan Pancasila sebagai alat penggerak untuk ‘keguyuban’ masyarakat, itu akan jauh lebih penting.
“Misalnya, saling membantu antar sesama yang mengalami kesusahan,” jelasnya di Purwakarta, (01/05/18).
Selain itu, dalam pengamalannya negara harus juga memberlakukan reward dan punishment untuk masyarakat. Misalnya, mengapresiasi kepada masyarakat yang rajin goyong royong dan memberikan hukuman bagi masyarakat yang individualis.
“Karena terkadang, banyak yang mengaku Pancasialis tapi sama tetangga saja tak saling kenal,” ungkapnya.
Dedi juga berpendapat, negara berkewajiban untuk menciptakan kehidupan sosial untuk warganya. Sehingga, Pancasila yang menjadi ideologi negara ini hadir untuk menjadi solusi. Jadi, bukan hanya sekedar perdebatan wacana.
“Pancasila itu sudah final sebagai ideologi negara. Jadi, fokusnya bukan lagi wacana, tetapi harus dijadikan spirit perubahan bangsa. Kehidupan sosial yang harmonis harus tercipta. Kemudian, Negara harus memperhatikan kebutuhan warga miskin. Misalnya, ketersediaan pangan, sandang dan papan,” tegasnya.
“Pancasila itu bukan hanya simbol saja. Tapi, harus menjadi nilai aplikatif, bahkan dalam system kenegaraan maupun hukum. Selain itu, harus dirumuskan pula kerangka berfikir Pancasila yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Dedi menilai, kerangka berfikir Pancasila, harus sudah menjadi dasar dalam system kehidupan bernegara. Termasuk, penjabaran kaidah-kaidah dari isi setiap sila pancasila itu sendiri yang bisa sekaligus mengatur masyarakat.
Dedi pun menjelaskan, dari sila pertama saja sudah tergambar bagaimana Pancasila membangun semangat toleransi dalam berkeyakinan. Contoh lainnya, membangun semangat gotong-royong melalui kaidah persatuan, serta mengedepankan musyawarah dalam menghadapi masalah, hingga berkeadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Jadi, menurut saya, nilai ketuhanan, kemanusian, persatuan, permusyawaratan hingga berkeadilan yang merupakan isi Pancasila, merupakan kerangka berfikir yang sangat luar biasa. Apalagi bisa diterjemahkan dalam keseharian,” pungkasnya. (Red)
Photo Credit : Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa Pancasila membangun semangat toleransi dalam berkeyakinan. FILE/M. Iqbal Maulud