Belajar Dari Semangat Gotong Royong Menabung Air

Belajar Dari Semangat Gotong Royong Menabung Air

"Saya datang kesini karena saya mengapresiasi kesadaran warga di kampung Purwantoro ini menjaga lingkungannya dan merubah keadaan dengan semangat gotong royong, mereka tidak bergantung bantuan pemerintah tapi kesadaran dirinya luar biasa,"

Belajar Dari Semangat Gotong Royong Menabung Air
Telegraf, Malang – Dulunya, warga RW 23 Gang IV Kampung Glintung, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, adalah penghuni gang-gang sempit di Kota Malang dan tiap tahun jadi langganan banjir. Kampung ini kotor, berbau, banyak sampah berserakan. Bahkan mirisnya lagi sempat dijuluki “Kampung Juara 1 Memandikan Jenazah”. Lho kenapa? Karena tingkat kematian warganya tinggi akibat tingkat kesehatan rendah.

Namun sejak beberapa tahun silam warga kampung itu berubah total. Mereka mengubah mindset berpikirnya bagaimana hidup berdampingan dengan lingkungan yang sehat. Mereka menjaga kampungnya dari sampah yang berserakan dan menjadikan lingkungan yang bersih. Gang sempit yang tadinya kumuh dan banyak sampah kini sangat bersih.

Setiap warga secara sukarela menanam tanaman hias maupun sayur mayur di depan rumahnya masing-masing. Hingga membuat suasana pemandangan gang yang tadinya sempit dan berbau menjadi hijau asri dan nyaman dipandang. Warga secara bahu membahu bergotong royong menghijaukan kampungnya hingga kini kampung itu dikenal sebagai Kampung Glintung Go Green.

Masing-masing warga RT memiliki hidroponik yang ditanami sayur mayuran. Bahkan, kampung ini juga memproduksi tanaman sayur hidroponik dan sudah dipasarkan. Harganya pun bervariatif dan ada yang mencapai hingga Rp 2 juta.

Gang-gang kecil itupun dipenuhi oleh tanaman hias baik di polbek maupun di pot-pot dibawah maupun digantung. Tampak sekali hijau dan asri. Menariknya di kampung ini juga menyediakan homestay bagi pengunjung yang ingin menginap di RW 23 Purwantoro. Tarifnya bermacam-macam mulai dari Rp10 ribu sampai Rp125 ribu.

Kesadaran warga terbangun sejak Bambang Irianto, Ketua RW 23 Kampung ini “hadir” dan memotivasi mereka untuk melakukan perubahan. “Saya tidak akan kasih surat pengantar ngurus KTP, atau akte lahir atau ngurus surat-surat jika yang bersangkutan tidak menanam tanaman di rumahnya dan disiplin menjaga kebersihan dengan membuat tempat sampah,” ujar Bambang Irianto menceritakan pengalamannya mendorong kesadaran warga.

Keberhasilan kampung ini memotivasi warganya untuk sadar lingkungan dan sadar menyelamatkan air bersih bumi digagas Ir Bambang Irianto selaku Ketua RW 23 Purwantoro didampingi rekannya Prof Dr Ir Muh Bisri.

Ajakan Bambang Irianto tidak sia-sia. RW 23 Kampung Glintung yang tadinya kumuh, sumpek dan kotor kini menjadi asri dan enak untuk dihuni karena udaranya sangat bersih. Kesadaran warga RW 23 Kampung Glintung mengubah hidupnya terhadap lingkungan mengantar nama Kota Malang ikut harum di dunia internasional.

Keberhasilan kampung ini menghijaukan lingkungannya dan menyelamatkan air membuat kampung Glintung menjadi salah satu nominator Kampung Dunia dalam Guangzhou Award for Urban Inovation. Perwakilan warga Kampung Glintung Kota Malang inipun diundang ke Guangzhou Tiongkok pada 5-8 Desember 2016 mendatang bersama 15 kota dunia lainnya yang menjadi finalis.

Tak sekadar meraih penghargaan, RW 23 Kampung Glintung Kota Malang kini jadi langganan wisata edukasi dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan kemarin mahasiswa asing dari 40 negara sempat mampir ke kampung ini.

Wisatawan tak hanya belajar tentang menghijaukan lingkungan tempat tinggal, mereka juga disuguhkan inovasi warga yang menciptakan sistem sumur artesis. Teknologi inovator sumur ini sangat bersahabat dengan alam. Sumur artesis dan biopori merupakan bagian dari usaha warga Kampung membangun Gerakan Menabung Air (Gemar).

Upaya warga menyelamatkan air bersih bumi ini kemudian didukung FT Universitas Brawijaya. Kampus ini mendorong warganya membuat 4 sumur injeksi dan 100 biopori untuk menyimpan air hujan dan air sungai agar bisa digunakan warga jika musim kemarau tiba.

Inovasi menyelamatkan air bersih itu mengantar kampung ini meraih nominator Guangzhou Award for Urban Innovation. Semua itu tidak lepas dari good practise yang dinilai dari penerapan program Gemar dalam implementasi SDGs. “Diharapkan mampu berbagi informasi dan pengalaman tentang isu-isu pembangunan dan juga peran pemerintah daerah dalam pelaksanaan Agenda Global (Suistainable Development Goals & New Urban Agenda),” kata Bambang.

Mengambil tema “Water Banking Movement for Empowering Local Economic Development”, Gemar  dimulai dari perubahan mindset warganya. Bambang menilai, membangun lingkungan berdasar kebutuhan warga, dimulai dari diri masing-masing.

“Manfaat yang dirasakan oleh warga, bukan saja pada peningkatan kehidupan sosial , namun juga meningkatnya kehidupan ekonomi karena kampung ini menjadi kampung wisata edukasi. Banyak wisatawan belajar banyak dan replikasi dengan kampung ini,” ujar Bambang dengan bangga terhadap kampungnya.

Keberhasilan warga RW 23 Kampung Glintung mengubah mindsetnya bergotong royong menyelamatkan lingkungan menggugah Plt Gubernur DKI Jakarta yang juga Dirjen Otonomi Daerah Soni Sumarsono membawa para pejabat lingkungan dan kebersihan Pemprov DKI untuk belajar dari warga kampung di kota apel ini.

“Saya datang kesini karena saya mengapresiasi kesadaran warga di kampung Purwantoro ini menjaga lingkungannya dan merubah keadaan dengan semangat gotong royong, mereka tidak bergantung bantuan pemerintah tapi kesadaran dirinya luar biasa,” ujar Soni Sumarsono saat berkunjung ke RW 23 Kampung Glintung, Kelurahan Purwosari Kota Malang.

Soni mengaku ia membawa beberapa pejabat Pemprov DKI untuk belajar memotivasi warga. “Agar keberhasilan kampung ini mengubah keadaannya bisa ditiru daerah lainnya, saya berharap kesadaran lingkungan di kampung ini tidak hanya di Glintung saja tapi juga di kampung-kampung lainnya di Kota Malang dan bahkan Indonesia,” ujar alumnus UGM Yogyakarta itu. (Edi Winarto)
KBI Telegraf

close