Bahas PJJ dan Online Learning, Menristekdikti Kumpulkan 90 Pimpinan PTN

Bahas PJJ dan Online Learning, Menristekdikti Kumpulkan 90 Pimpinan PTN

”Tampaknya kita tidak bisa menunggu lagi, kita harus melakukan perubahan. Perubahan itu harus kita lakukan pada disruptive technology era dan kita bisa memanfaatkan peluang yang baik. Di Eropa dan Amerika terkenal dengan istilah revolusi industri 4.0. Namun di China beda, mereka mengenal istilah “Made in China 2025”.

Bahas PJJ dan Online Learning, Menristekdikti Kumpulkan 90 Pimpinan PTN


Telegraf, Tangerang Selatan – Menristekdikti Mohamad Nasir menggelar pertemuan dengan pimpinan 90 Perguruan Tinggi Negeri di Kampus Universitas Terbuka, Tangerang Selatan. Pertemuan itu membahas Sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan Online Learning pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia.

Dalam pertemuan dengan mereka yang tergabung dalam Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) itu, Menristekdikti mengatakan, pendidikan tinggi di Indonesia harus melakukan perubahan dengan melaksanakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Hal itu bertujuan, sambung dia, untuk mengantisipasi perkembangan dunia yang begitu cepat.

”Tampaknya kita tidak bisa menunggu lagi, kita harus melakukan perubahan. Perubahan itu harus kita lakukan pada disruptive technology era dan kita bisa memanfaatkan peluang yang baik. Di Eropa dan Amerika terkenal dengan istilah revolusi industri 4.0. Namun di China beda, mereka mengenal istilah “Made in China 2025”. Jadi target mereka pada 2025 semua dunia menggunakan produk negeri Tiongkok. Saat ini mereka sedang menggembangkan kereta cepat sampai ke Eropa. Negara lain sudah menggembangkan ekonomi kelas dunia, di sinilah peran pendidikan tinggi di Indonesia agar dapat mengisi pembangunan yang ada di negeri ini,” ujar Nasir, Senin (16/4/2018).

Nasir menambahkan, PJJ harus tetap memperhatikan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Menristekdikti juga mengingatkan, sistem PJJ harus diawasi dan didampingi dengan cara pengelolaan sistem PJJ, bagaimana sistem pendidikan, sistem pemberian tugas, serta sistem penjaminan mutu, yang merupakan bentuk dari cyber university.

Sebagai kampus yang sudah terlebih dahulu menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memberikan mandat kepada Universitas Terbuka (UT) untuk memberi masukan dan mendukung seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh. Hal itu, sesuai dengan kapasitas dan fasilitas yang dimiliki UT.

Terkait itu, Rektor Universitas Terbuka (UT) Ojat Darojat menilai bahwa momentum tersebut menjadi kehormatan bagi UT. Dan UT, menurut dia, telah mengambil langkah konkret membangun kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk mensukseskan program stratergis PJJ dan Online Learning.

“UT siap sukseskan dan membantu perguruan tinggi lain dalam program PJJ dan Online Learning. Setidaknya, UT sudah mendandatangi Nota Kesepemahaman dengan Universitas Borneo Tarakan (UBT), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (Unimed), Universitas Soedriman (Unsoed), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Institut Teknologi Sumatera dan kali ini dengan Universitas Jember, Universitas Lampung (Unila), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Universitas Bangka Belitung (UBB),” terangnya.

Sementara itu, Rektor Insitut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Kadarsah Suryadi berharap agar dengan diselenggarakannya sistem pendidikan jarak jauh ini, dapat meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Indonesia yang saat ini masih di angka 31,5%.

“Saya kira, sepertu apa yang disampaikan Pak Menteri ketika bertemu di Medan lalu, bahwa kita dapat meningkatkan APK kita yang rendah dibanding Malaysia 37.2%, Thailand 51.2%, Singapura 82.7% dan Korea 92.4%,” katanya. (Red)


Photo Credit : Menristekdikti Mohamad Nasir menggelar pertemuan dengan pimpinan 90 Perguruan Tinggi Negeri di Kampus Universitas Terbuka. | File/Dok/Ist. Photo

 

KBI Telegraf

close