Alumni Erasmus University Bicara Soal Pentingnya Kolaborasi Bangun Kekuatan

"Untuk memecahkan segala persoalan terkait pandemi dan dampaknya pada capaian SDGs, dibutuhkan upaya kolaborasi lintas bidang dan peran. Bukan hanya dari peneliti, tetapi juga bersama knowledge users, seperti pemerintah, pembuat kebijakan, dan implementer program di lapangan"

Alumni Erasmus University Bicara Soal Pentingnya Kolaborasi Bangun Kekuatan

Telegraf – Dampak pandemi Covid-19 mempengaruhi terhadap capaian SDGs bidang kesehatan, yaitu kemunduran capaian target kesehatan global 5-8 tahun ke belakang, selain itu juga menjadi pintu masuk utama dalam memperbaiki dan mengkokohkan sistem kesehatan yang saat ini di jalankan termasuk Indonesia.

Hal itu di ungkapkan oleh dr. Ahmad Fuady, PhD. Alumnus kampus Erasmus University Medical Center Rotterdam, The Netherlands saat menjadi pembicara dalam talk show ‘Strengthening Public Health: Partnering in a time of Covid-19 pada perhelatan pekan Kerjasama pendidikan dan riset Indonesia-Belanda (WINNER) 2020.

“Untuk memecahkan segala persoalan terkait pandemi dan dampaknya pada capaian SDGs, dibutuhkan upaya kolaborasi lintas bidang dan peran. Bukan hanya dari peneliti, tetapi juga bersama knowledge users, seperti pemerintah, pembuat kebijakan, dan implementer program di lapangan,” ungkap Fuady yang juga salah satu tim peneliti di fakultas Kesehatan Universitas Indonesia.

Lanjutnya Fuady menjelaskan kolaborasi, di samping daya utamanya membangun kekuatan bersama, juga perlu disiapkan dengan baik lewat pemahaman yang selaras dan komunikasi yang jernih dari semua pihak yang terlibat. Inilah mengapa penguatan Kerjasama dan kolaborasi lintas disiplin ilmu juga sangat dibutuhkan untuk bisaa keluar dari krisis pandemi Covid-19.

Sementara itu Suci Anatasia, yang juga alumnus program beasiswa StuNed di Vrije Universiteit Amsterdam tahun 2016, dan sekaligus Dosen di jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes Kemenkes Jakarta mengatakan dampak COVID 19 juga berdampak pada Pendidikan Vokasi Kesehatan di Indonesia, khususnya bidang Ortotik Prostetik. Ini karena, pembelajaran melalui daring.

“Pendidikan ortotik prostetik tidak hanya di kelas namun mayoritas juga dihabiskan dengan praktek Lab dan klinik, dengan sistem pembelajaran daring, tentu saja hal ini tidak lagi dapat dilakukan sehingga beberapa modifikasi pembelajaran diterapkan untuk tetap menjaga capaian pembelajaran dan kompetensi mahasiswa,” kata Suci.

Melalui survey terkait pembelajaran daring dari 537 responden yang berasal dari Jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes Jakarta 1 dan Poltekkes Surakarta, dan juga di lakukan pada sekolah ortotik di Asia Tenggara diantaranya SSPO (Thailand), CSPO (Kamboja), MSPO (Myanmar) dan SLSPO (Srilanka) menunjukan bahwa semua responden tidak setuju dengan pernyataan bahwa dengan pembelajaran ‘daring’ keterampilan dan kompetensi praktek dalam bidang ortotik prostetik dapat tercapai dengan baik dan efektif.

“Hal ini disebabkan karena dalam pendidikan vokasi khususnya ortotik prostetik pembimbingan (bed side teaching) dan praktek yang dilakukan secara langsung (hands on) merupakan kunci keberhasilan pencapaian kompetensi mahasiswa,” kata Suci.

Kolaborasi Indonesia dengan belanda itu sangat penting tak hanya Beland, Kerjasama dengan Asia Tengara juga sangat penting untuk mewujudkan kesinambungan pelayanan ortotik prostetik di masa mendatang.

‘Selain kolaborasi dengan pihak di Indonesia dan Asia Tenggara, kolaborasi dengan peneliti Belanda juga sangatlah esensial untuk mewujudkan pengembangan terkait kesinambungan (sustainability) pelayanan ortotik prostetik di masa datang yaitu melibatkan teknologi 3D printing dan metode baru daur ulang,” tutupnya. (AK)


Photo Credit : Suci Anatasia alumnus program beasiswa StuNed di Vrije Universiteit Amsterdam tahun 2016, saat menjadi pembicara di talk show WINNER 2020. FILE/Doc/Ist

 

Atti K.