Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Kualitas Manusia Indonesia Harus Terus Diperbaiki
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

Kualitas Manusia Indonesia Harus Terus Diperbaiki

Telegrafi Kamis, 22 Desember 2016 | 17:36 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf, Jogjakarta – Data komparasi Indeks Pembangunan Manusia pada tahun 2015 menunjukkan adanya ketertinggalan posisi Indonesia di urutan 110 dari 188 negara. Hal tersebut menjelaskan  bagaimana kualitas manusia masih menjadi persoalan yang dihadapi bangsa ini. Selain pendidikan, kesehatan menjadi salah satu dasar untuk membangun kualitas manusia dan menjadikan Indonesia bangsa dengan peradaban yang adiluhung.

“Seperti halnya tanaman, untuk mendapatkan buah yang berkualitas diperlukan bibit yang baik, tanah yang cocok, dan dipelihara oleh tangan petani yang profesional. Kualitas manusia Indonesia akan baik kalau disiapkan bibit manusia yang baik, tumbuh dengan baik di lingkungan yang baik, dan dipelihara oleh abdi negara yang profesional,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof.Dr.dr. Sutaryo, Sp.AK., Rabu (21/12/2016).

Prof. Sutaryo memaparkan berbagai indikator yang menunjukkan persoalan kualitas manusia yang dihadapi Indonesia, diantaranya Angka Harapan Hidup yang masih rendah, angka kematian bayi yang masih tinggi, serta kasus kekurangan gizi pada anak atau stunting. Kesenjangan dalam layanan kesehatan juga menjadi salah satu persoalan yang ia perhatikan.

“Tidak semua provinsi di Indonesia dapat memenuhi standar pelayanan kesehatan yang memadai. Daerah yang tersedia untuk melayani penduduk masih rendah. Daerah dan masyarakat pinggiran belum semua dapat menikmati pelayanan kesehatan seperti yang diharapkan,” jelasnya.

Pernyataan Sutaryo ini sebelumnya juga telah dikemukakannya dalam orasi ilmiah Dies Natalis Universitas Gadjah Mada ke-67, Senin (19/12) lalu. Ia menambahkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) memiliki peran strategis untuk mewujudkan Indonesia sehat. Dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari presiden hingga masyarakat desa, GERMAS dapat menjadi amunisi ampuh untuk mewujudkan cita-cita di atas.

Belajar dari sejarah, ia menjelaskan bahwa keberhasilan program kesehatan paling baik dilaksanakan dengan sistem komando. Salah satu contohnya dalam pemberantasan penyakit malaria pada era Soekarno, dibentuklah Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM) yang dalam lima tahun berhasil membasmi penyakit paling mematikan saat itu. Keberhasilan lain juga terjadi pada pemberantasan cacar, pemberian vaksin polio, keluarga berencana, serta pembentukan puskesmas yang terlaksana di bawah komando presiden. Untuk itu, diperlukan sistem komando yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) untuk melaksanakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Budaya hidup sehat yang dimulai dengan GERMAS, menurutnya, paling baik dilaksanakan melalui pendidikan. Pendidikan kesehatan di lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah sebagai pilar budaya hidup sehat. Peran utama adalah ibu dan guru. Oleh karena itu, pendidikan ibu dan guru harus menjadi program utama pemerintah.

“Masa kanak-kanak adalah masa emas yang sangat penting untuk membangun budaya sehat. Guru, setelah ibu, adalah manusia terbaik dalam membudayakan hidup sehat,” ujar Prof. Taryo.

Selain itu, peran pemerintah juga diperlukan dalam membangun kerja sama antara pemerintah, akademisi, pebisnis, serta masyarakat untuk menciptakan reformasi organisasi. Reformasi dalam koordinasi diantara semua institusi riset kesehatan, baik negeri atau swasta, diperlukan untuk menjamin kecukupan obat dan alat kesehatan.

“Indonesia sudah mempunyai institusi yang hebat seperti Biofarma Bandung, LIPI, Litbangkes, Pusat penelitian di Perguruan Tinggi, serta pabrik obat milik pemerintah dan swasta, tetapi masih bekerja sendiri-sendiri. Semua harus berjalan bersama dengan panduan Negara sejak dari riset sampai produksi hingga kebijakan pemasaran,” jelasnya.

Ia mengambil contoh India yang telah melakukan strategi tersebut. Karena itu, ia mengusulkan kunjungan Presiden Joko Widodo ke India harus segera ditindaklanjuti dalam kerja sama pembangunan farmasi dan alat kesehatan, disamping turut menjajaki kerja sama dengan negara-negara lain.

“Penguatan terhadap kebijakan obat nasional ini sangat diperlukan. Agar GERMAS berhasil, perlu menerapkan model komando presiden dengan gerakan yang sistematik dan masif,” pungkasnya. (Red)

Photo credit : Posbali


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026
Waktu Baca 2 Menit
BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026
Waktu Baca 3 Menit
Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit

Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop

Waktu Baca 2 Menit

Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern

Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?