Telegraf — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan pada Februari 2026 tetap terjaga di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang solid. Namun, peningkatan tensi geopolitik global dan dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat menjadi tantangan utama yang berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK sekaligus Pjs Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan kinerja ekonomi nasional hingga kuartal IV 2025 tetap kuat dan menjadi modal penting memasuki awal 2026.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen (year on year), sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,11 persen. Inflasi headline meningkat terutama akibat efek basis rendah tahun sebelumnya, namun indeks keyakinan konsumen masih berada di zona optimis dan aktivitas manufaktur tetap ekspansif,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Selasa (25/2/2026).
Meski demikian, Friderica menegaskan risiko eksternal tetap perlu diwaspadai. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal IV 2025 hanya 1,4 persen, di bawah ekspektasi pasar, dengan tekanan inflasi yang kembali meningkat sehingga menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
“Peningkatan tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi pada awal 2026, termasuk di kawasan Timur Tengah, berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global,” katanya.
Di pasar domestik, tekanan mulai terlihat. Plt Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Februari 2026 ditutup di level 8.235,49 atau terkoreksi 1,13 persen secara month to date dan 4,76 persen secara year to date.
“Sehubungan dengan volatilitas pasar di awal Maret 2026 yang dipicu eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, OJK terus memantau pergerakan pasar dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan,” ujar Hasan.
Meski IHSG terkoreksi, aktivitas transaksi tetap tinggi. Rata-rata nilai transaksi harian saham pada Februari 2026 tercatat Rp25,62 triliun, konsisten di atas Rp20 triliun sejak Agustus 2025. Investor asing juga mencatatkan net buy Rp0,36 triliun, berbalik dari posisi net sell Rp9,88 triliun pada Januari.
Dari sisi industri pengelolaan investasi, kinerja masih positif. Nilai aset kelolaan (AUM) mencapai Rp1.115,71 triliun per 26 Februari 2026, naik 7 persen secara year to date. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp726,26 triliun, tumbuh 3,5 persen secara month to date dengan net subscription Rp16,09 triliun sepanjang Februari.
Sementara itu, jumlah investor pasar modal kembali bertambah 1,8 juta investor baru hingga total mencapai 22,88 juta investor per 25 Februari 2026.
Di sektor perbankan, OJK mencatat kredit tumbuh 9,96 persen (yoy) pada Januari 2026 menjadi Rp8.557 triliun. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit investasi sebesar 22,38 persen. Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 10,76 persen menjadi Rp10.076 triliun, dengan rasio permodalan (CAR) tetap kuat di level 25,87 persen.
Secara keseluruhan, OJK menilai fondasi ekonomi domestik masih solid dengan intermediasi perbankan yang terjaga, pasar modal yang tetap aktif, serta optimisme konsumen yang bertahan. Namun, risiko eksternal dan dinamika geopolitik global menjadi tantangan utama yang perlu diantisipasi untuk menjaga momentum pertumbuhan pada Februari dan bulan-bulan berikutnya.