Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Induk Macan: Menyelami Kearifan Lokal Dalam Jejak Parenting di Era Media Sosial
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

Induk Macan: Menyelami Kearifan Lokal Dalam Jejak Parenting di Era Media Sosial

Hanna Iffah Senin, 21 Agustus 2023 | 14:15 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Buku Induk Macan
Bagikan

TELEGRAF – Di tengah dinamika yang menggerakkan tren parenting dan pengaruh yang meluas dari dunia media sosial, muncul sebuah karya yang menerangi perbincangan— “Induk Macan”. Buku ini tampil dengan tujuan merevolusi pandangan mengenai parenting, mengaitkan harmoni dengan ciri khas budaya Indonesia, Jakarta (21/08/23).

Krista Endinda, sang penulis, terpanggil oleh pemahaman mendalam terhadap perkembangan pola asuh anak di tanah air. Dikenal akrab dengan panggilan Dinda, Ia merangkul ambisi untuk mengarahkan para orang tua Indonesia dalam menempuh jalur berimbang—membesarkan anak-anak yang memeluk akar budaya Timur sembari mengambil esensi penting dari pendekatan parenting ala Barat.

Krista Endinda, yang juga dikenal sebagai content creator seputar parenting, rajin menyebarkan pengetahuan tentang mengasuh anak melalui media sosial. Kiprahnya kini ditingkatkan melalui pendidikan S2 di Bank Street College, New York, dengan fokus pada infant toddler development and family engagement.

“Saya ingin meluruskan persepsi yang akhir-akhir ini umum terjadi bahwa mengadopsi gaya parenting Barat akan menjadikan kita sebagai orang tua yang lebih baik,” ungkap Krista Endinda. Dalam pernyataannya, Dinda mengajak kita untuk menilik pandangan yang lebih luas, mengajukan pertanyaan penting mengenai penilaian budaya Barat yang sering kali dianggap lebih unggul dan dijadikan standar.

Ia memperingatkan bahwa mengikuti tren budaya Barat tanpa penyaringan dapat mengakibatkan konflik internal bagi kita yang hidup dalam budaya Timur. Melalui “Induk Macan”, Dinda mencoba mengajak orang tua Indonesia untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan anak-anak mereka sambil tetap memelihara akar budaya yang melekat.

Pesan inti yang tersirat dalam buku ini adalah tentang bagaimana kita sebagai orang tua dari latar budaya Timur tidak perlu menolak atau mengesampingkan tradisi hanya karena munculnya ide-ide baru dalam parenting. Salah satu contohnya adalah kebiasaan budaya Timur yang mengajarkan untuk memanggil yang lebih tua dengan sebutan “bapak” atau melalui tindakan “salim”.

Sebaliknya, budaya Barat sering kali lebih santai dalam memanggil dengan nama, bahkan kepada yang lebih tua. Hal ini mengacu pada nilai hierarki sosial yang kuat dalam budaya Timur. Jika orang tua memperkenalkan budaya Barat kepada anak-anak mereka tanpa pemahaman yang tepat, bisa terjadi perbenturan yang mendalam, topik ini dibahas lebih mendalam dalam “Induk Macan”.

“Induk Macan” menjadi sebuah penawar bagi orang tua Indonesia yang seringkali keliru memahami konsep gentle parenting yang muncul di media sosial. Kesalahpahaman ini tanpa disadari bisa menghasilkan pengadopsian pola parenting yang tidak selaras dengan nilai budaya setempat. Dalam “Induk Macan”, Dinda berupaya meluruskan jalan orang tua dan memberi mereka keyakinan untuk mengasuh anak dengan rasa percaya diri.

Lebih dari sekadar panduan parenting, “Induk Macan” menandakan penggabungan antara wawasan global dalam pengasuhan anak dengan kebijaksanaan lokal. Ia mengajarkan kita tentang betapa pentingnya menghargai identitas budaya dalam membentuk ikatan batin dan kualitas pengasuhan yang lebih baik.

Kini, buku “Induk Macan” telah beredar di seluruh Indonesia dan bisa diperoleh melalui toko buku online “Sarang Aksara,” yang terdapat pada marketplace terkemuka di Indonesia. Dalam masa promosi dari 20 hingga 31 Agustus, buku “Induk Macan” bisa dibeli dengan harga istimewa 75 ribu rupiah (dari harga normal 95 ribu rupiah). Kesempatan ini memberikan para orang tua kemudahan untuk menggali wawasan yang berharga mengenai cara mendidik anak dengan keseimbangan antara tradisi dan tren modern.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?