Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Kolaborasi dan Teknologi Digital Jadi Kunci Sukses dalam Pengembangan Produk Berbasis Kearifan Lokal
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

Kolaborasi dan Teknologi Digital Jadi Kunci Sukses dalam Pengembangan Produk Berbasis Kearifan Lokal

Yuliana Jumat, 4 Desember 2020 | 18:59 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Photo Credit : Ilustrasi UMKM Batik. ANTARA
Photo Credit : Ilustrasi UMKM Batik. ANTARA
Bagikan

Telegraf, Di tengah tantangan besar yang ditimbulkan pandemi Covid-19 terhadap dunia usaha, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap adaptif dan inovatif. Mereka menjalin kolaborasi dan mengandalkan teknologi digital untuk memasarkan produk-produk yang berbasis kearifan lokal. Hal ini menjadi topik bahasan webinar yang diadakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dengan tema “Pandemi dan Peluang Bisnis Berbasis Kearifan Lokal”, pada Jumat (27/11/2020).

Denden Sofiudin, seorang pemilik usaha kopi di Temanggung, membuktikan sendiri strategi tersebut untuk mengembangkan bisnis yang telah dirintisnya sejak 2015. Dia mendirikan Rumah Kopi Temanggung guna memfasilitasi hasil panen kopi dan tembakau dari para petani lokal.

“Dari sisi teknis, saya awalnya tidak memiliki pengetahuan dasar tentang kopi. Namun, saya berpengalaman dalam dunia digital. Jadi, saya mencoba menawarkan kopi lokal Temanggung secara online, dan ternyata respons pasar bagus,” kata Denden, dalam Webinar KPCPEN, Jumat lalu.

Setelah sukses, Denden mengajak beberapa temannya untuk melakukan hal yang sama. Dia bahkan turun tangan untuk mengajari teman-temannya tentang pemanfaatan teknologi digital yang kini banyak tersedia secara gratis atau tidak berbayar.

“Saya membuat sejumlah titik koordinat untuk mereka di Google Maps, dengan kata kunci ‘Kopi Temanggung’. Harapannya, siapa pun yang melintasi Temanggung tertarik untuk mencicipinya, dan calon konsumen cukup mencari lokasi penjual di Google Maps, lalu memilih penjual kopi yang sesuai dengan seleranya,” jelas Denden, sambil menambahkan, kolaborasi menjadi hal mutlak yang dilakukan untuk mengembangkan bisnis lokal.

Upayanya untuk memasarkan kopi secara online lantas berbuah manis meski di tengah pandemi. Menurut pengakuan Denden, nyaris seluruh penjualan Rumah Kopi Temanggung dilakukan di kanal online. “Distribusi dan 95% penjualan Rumah Kopi Temanggung berasal dari kanal online,” ujar Denden.

Lebih dari Sekadar Pemasaran Digital

Satya Bilal, Wakil Sekjen International Council for Small Business, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan, pelaku UMKM jangan hanya berkutat dengan pemasaran digital.  Mereka juga perlu mengasah beberapa keahlian lain. Pertama, mencari dan menambah akses keuangan (pinjaman/modal); kedua, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (karyawan); ketiga, berkolaborasi; keempat, berinovasi; serta kelima membuat laporan keuangan secara profesional.

“Pelaku UMKM harus menjadi pebisnis yang lebih profesional. Mereka juga perlu mengasah insting bisnis. Kalau sebelumnya kita merasa puas dengan memperoleh dana Rp 100 rupiah, kita harus mampu mencapai lebih dari itu. Adaptasi bisnis harus selalu dilakukan agar kita bisa bertahan di tengah pandemi. Penggunaan anggaran pun harus tepat sasaran,” jelas Satya.

“Banyak sekali sektor-sektor ekonomi kreatif yang berkembang. Di Indonesia Timur, misalnya, kita memiliki begitu banyak satwa-satwa air, dan bisnis aquascape pun bermunculan di saat pandemi. Banyak UMKM yang sebetulnya berkembang, dan ada merek lokal, Sociolla, setelah dirintis selama lima tahun, berhasil berekspansi hingga ke Vietnam,” ujarnya lagi.

Dengan kekayaan budaya lokal dan potensi daerah di Indonesia, peluang bisnis masih terbuka luas bagi para pelaku UMKM. Penguasaan teknologi digital dan kepiawaian mengelola bisnis merupakan dua aspek yang menjadi kunci sukses untuk mengembangkan bisnis di era pandemi.


Photo Credit: Ilustrasi Pandemi dan Peluang Bisnis Berbasis Kearifan Lokal. FILE/DOK/Photo Antara

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026
Waktu Baca 2 Menit
BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026
Waktu Baca 3 Menit
Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit

Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop

Waktu Baca 2 Menit

Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern

Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?