Telegraf, Jakarta – Perkembangan teknologi tidak bisa dielakan lagi, ini sudah mutlak sebagai insan berpendidikan terus mengasah kemampuan dalam mengimbanginya.
Teknologi kecerdasan buatan (artificial inteligence) telah mampu menggantikan peran manusia di beberapa sektor pekerjaan, bahkan dengan hasil yang lebih akurat dan efisien. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin berkembang, berdampingan dengan kecerdasan manusia.
Hal itu diungkapkan oleh Djisman Simandjuntak selaku Rektor Universitas Prasetiya Mulya di sela sela wisuda di Jakarta.
“Kita akan melihat pekerjaan tahun 2025, belum ada sekarang kita akan melihat dunia dimana lowongan berbeda dari apa yg kita saksikan sekarang, kita akan melihat lowongan yang ada sekaang diambil alih oleh mesin,” tuturnya Selasa (11/12).
Ia menjelaskan untuk mesin akan mengambil alih sebagian pekerjaan pekerjaan manusia sehingga manusia memperlukan banyak waktu dan kesempatan dalam mengejar karier yang lebih kreatif.
“Institusi pendidikan sebagai lini terdepan dalam peningkatan kulitas generasi penerus harus mampu beradaptasi dengan cepat, menyesuaikan dengan keterampilan yang wajib dimiliki di masa depan. Pendidikan universitas harus membuka diri pada era baru dan memimpin, atau paling tidak mengikuti perubahan yang ada. Misi dari pendidikan tinggi tidak hanya untuk melatih dan mengembangkan bakat-bakat untuk masa ini saja tetapi juga mempersiapkan mereka untuk masa depan,” jelas Djisman.

Hadir dalam Wisuda Prof. Ben Shenglin, Professor and Dean, Academy of Internet Finance and International Business School, Zhejiang University sekaligus menjadi key note speaker pada acara wisuda.
“Singularity” telah diperluas dari matematika ke ranah kecerdasan visual melalui buku oleh Raymond Kurzweii yang berjudul “The Singularity Is Near”
Buku tersebut merujuk pada momen penting ketika kecerdasan buatan melampaui kemanusiaan dan memicu perubahan drastis dalam lingkungan sosial.
“Dampak transformative dari kecerdasan buatan pada aktivitas ekonomi sudah tidak terbantahkan, begitu juga pada pasar tenaga kerja. Akan tetapi sebagai teknologi yang masih baru, adaptasi dari kecerdasan buatan dalam bidang ekonomi dan finansial masih pada tahap awal dan akan memiliki dampak positif pada aktifitas ekonomi, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan manusia, bila ada tuntunan dari peraturan yang positif dan efektif,” jelas Shenglin.
Selain terus memupuk mahasiswanya untuk mengembangkan potensi dirinya Djisman menjelaskan bahwa Tahun ini Prasetiya Mulya juga menginisiasi program studi baru, yaitu program MM New Ventures Innovation (NVI). Program ini merupakan pondasi untuk membentuk pola pikir terstruktur yang dibutuhkan, khususnya untuk mengambil keputusan strategis yang cepat dan inovatif dalam bisnis startup, sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. (Red)
Credit Photo : Prasmul Menuju Singularity Economy/istimewea