Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Dedi Mulyadi: Pancasila Sudah Final Sebagai Ideologi Negara
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Dedi Mulyadi: Pancasila Sudah Final Sebagai Ideologi Negara

Telegrafi Sabtu, 2 Juni 2018 | 07:19 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
M. Iqbal Maulud
Bagikan

Telegraf, Purwakarta – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (DM) berpendapat, agar Pancasila itu jangan hanya dijadikan sebagai simbol pengakuan semata. Tapi harus juga diterjemahkan dan di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, memupuk kembali rasa persatuan melalui gotong royong dan membangun keadilan bagi seluruh masyarakat. Artinya, harus lebih diaplikasikan‎ dalam kehidupan nyata. “Pancasila itu harus menjadi spirit untuk mewujudkan kesejahteraan semua elemen masyarakat,” ujarnya

Menurutnya, pendalaman ideologi negara itu dalam konteks kelembagaan memang penting. Akan tetapi, menjadikan Pancasila sebagai alat penggerak untuk ‘keguyuban’ masyarakat, itu akan jauh lebih penting.

“Misalnya, saling membantu antar sesama yang mengalami kesusahan,” jelasnya di Purwakarta, (01/05/18).

Selain itu, dalam pengamalannya negara harus juga memberlakukan reward dan punishment untuk masyarakat. Misalnya, mengapresiasi kepada masyarakat yang rajin goyong royong dan memberikan hukuman bagi masyarakat yang individualis.

“Karena terkadang, banyak yang mengaku Pancasialis tapi sama tetangga saja tak saling kenal,” ungkapnya.

Dedi juga berpendapat, negara berkewajiban untuk menciptakan kehidupan sosial untuk warganya. Sehingga, Pancasila yang menjadi ideologi negara ini hadir untuk menjadi solusi. Jadi, bukan hanya sekedar perdebatan wacana.

“Pancasila itu sudah final sebagai ideologi negara. Jadi, fokusnya bukan lagi wacana, tetapi harus dijadikan spirit perubahan bangsa. Kehidupan sosial yang harmonis harus tercipta. Kemudian, Negara harus memperhatikan kebutuhan warga miskin. Misalnya, ketersediaan pangan, sandang dan papan,” tegasnya.

“Pancasila itu bukan hanya simbol saja. Tapi, harus menjadi nilai aplikatif, bahkan dalam system kenegaraan maupun hukum. Selain itu, harus dirumuskan pula kerangka berfikir Pancasila yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Dedi menilai, kerangka berfikir Pancasila, harus sudah menjadi dasar dalam system kehidupan bernegara. Termasuk, penjabaran kaidah-kaidah dari isi setiap sila pancasila itu sendiri yang bisa sekaligus mengatur masyarakat.

Dedi pun menjelaskan, dari sila pertama saja sudah tergambar bagaimana Pancasila membangun semangat toleransi dalam berkeyakinan. Contoh lainnya, membangun semangat gotong-royong melalui kaidah persatuan, serta mengedepankan musyawarah dalam menghadapi masalah, hingga berkeadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jadi, menurut saya, nilai ketuhanan, kemanusian, persatuan, permusyawaratan hingga berkeadilan yang merupakan isi Pancasila, merupakan kerangka berfikir yang sangat luar biasa. Apalagi bisa diterjemahkan dalam keseharian,” ‎pungkasnya. (Red)


Photo Credit : Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa Pancasila membangun semangat toleransi dalam berkeyakinan. FILE/M. Iqbal Maulud

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Menggapai Indonesia Emas dan Falsafah Kepemimpinan Nasional Dalam Perspektif Keindonesiaan
Waktu Baca 9 Menit
Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit

Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?