Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca “Garudaku Kafir” dan “Bhineka Tunggal Duka”, Apakah Ini Simbol Perlawanan?
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

“Garudaku Kafir” dan “Bhineka Tunggal Duka”, Apakah Ini Simbol Perlawanan?

Telegrafi Jumat, 19 Mei 2017 | 02:02 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf – Sejumlah poster dan spanduk bertuliskan “Garudaku Kafir” dan “Bhinneka Tunggal Duka” ditemukan tersebar di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), Kota Semarang, pada Selasa (16/5/2017). Meskipun belum diketahui pasti apa maksudnya, otoritas kampus setempat buru-buru mencopotnya dan melapor ke polisi.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Humas Undip Nuswantoro Dwiwarno membenarkan informasi adanya pemasangan poster “Garudaku Kafir” di Gedung A Kampus FISIP Undip Semarang itu. Ia mengaku mengetahui hal itu pada Selasa sore dan langsung melakukan pengecekan. Setelah berkoordinasi dengan Polda Jateng dan pimpinan perguruan tinggi negeri terkemuka di Kota Semarang itu, poster dan spanduk itu pun dicopoti.

“Informasi awal kami terima Selasa sore, kami dari pihak kampus langsung berkoordinasi dengan pihak intel Polda untuk melakukan pengecekan. Malamnya, kami langsung berkoordinasi dengan pimpinan untuk melakukan pencopotan poster-poster itu,” ujar Nuswantoro melalui siaran pers, Rabu (17/5/2017).

Informasi yang digali melalui pengguna akun Facebook Melon Murdock, poster bertuliskan “Garudaku Kafir” itu ditemukan di kampus FISIP Undip oleh aparat Satintelkam Polrestabes Semarang, Selasa sekitar pukul 15.30 WIB. Aparat menemukan poster berukuran kertas HVS yang bertuliskan “Garudaku Kafir” itu tertempel di dinding sebelah kanan Gedung Perpustakan FISIP Undip atau dekat kantin kampus oranye itu.

Selain poster, aparat yang melakukan pengecekan juga menemukan spanduk bertuliskan “Bhinneka Tinggal Duka” yang terpasang di taman belakang Gedung B FISIP Undip. Berbeda dengan pengakuan Nuswantoro bahwa yang melakukan pencopotan adalah otoritas kampus, sumber informasi kedua itu menyebut poster dan spanduk itupun dicopot oleh aparat Polrestabes Semarang setelah menanyai sejumlah saksi yang merupakan satpam dan dosen di kampus itu.

Para satpam dan dosen itu disebut-sebut tidak mengetahui siapa yang menempel poster dan spanduk yang dianggap melecehkan Pancasila itu. Kalimat “Bhinneka Tinggal Duka” belakangan hari ini populer digunakan oleh kalangan muda kreatif untuk mengampanyekan perlunya menggalang persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Selain bertuliskan “Garudaku Kafir”, dalam poster yang sebagian besar bergambar siluet Garuda tersebut tercantum pula tulisan,”Depan gedung A Fisip Undip 20 Mei 2017 pukul 15.30” di di bagian bawahnya.  Tulisan itu merujuk pada informasi terkait rencana kegiatan pada tanggal yang berdasarkan Keppres No. 1/1985 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Menjawab pertanyaan kemungkinan poster bernada keprihatinan atas kondisi mutakhir bangsa Indonesia tersebut adalah undangan suatu kegiatan, Nuswantoro mengaku tidak mengetahui pasti. Sebaliknya, ia mencoba meyakinkan khalayak bahwa jika ada pertemuan berbau radikal menentang Pancasila dan NKRI, bukan digelar oleh mahasiswa Undip Semarang.

“Bisa kami pastikan bahwa kegiatan yang direncanakan tanggal 20 Mei itu dilakukan oleh oknum dan bukan kegiatan resmi mahasiswa FISIP atau civitas academica Undip. Dekan FISIP, Mas Sunarto, yang kami hubungi memastikan bahwa pihaknya tidak menerbitkan izin dan tidak ada permohonan izin melakukan kegiatan di Kampus Oranye pada hari itu,” tegas Nuswantoro selaku juru bicara resmi kampus terkemuka di kota Semarang itu.


Photo Repro

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026
Waktu Baca 2 Menit
BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026
Waktu Baca 3 Menit
Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit

Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop

Waktu Baca 2 Menit

Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern

Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?