Telegraf, Jakarta – Memasuki babak putaran kedua Pilkada DKI Jakarta semakin hari terasa semakin ramai, orang-orang membicarakan dan memprediksi kemungkinan siapa yang akan lolos dan memenangkan pertarungan untuk bisa meraih kursi panas Gubernur DKI Jakarta.
Sepertinya pertarungan nanti akan terasa semakin sengit dimana kandidat Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur kini hanya tersisa dua pasang Paslon saja, setelah sebelumnya pasangan calon Gubernur DKI nomor urut satu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) – Sylviana Murni kalah dalam perolehan suara di putaran pertama Pilkada DKI, yang kini hanya menyisakan dua pasangan saja, yaitu Petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Syaiful Hidayat dan pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno.
Dengan adanya dinamika seperti itu maka dengan tujuan untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat luas tentang sosialisasi Pilkada damai, PASKAS (Pengkajian Strategi Kebangsaan) mengadakan sebuah diskusi publik yang diadakan di Max One Kramat Raya, dengan menghadirkan antara lain Aminullah (mantan komisioner KPU DKI), Bambang Dirgantoro (Direktur Lembaga Kajian Paskas) dan Redim Oktofudin (GP Ansor DKI) pada, (28/02/2017).
“Sepertinya Pilkada DKI kali ini adalah totalitas perjuangan dari Paslon maupun timses dan pendukung, belum lagi dibelakangnya ada pemodal politik, yang sudah menggelontorkan banyak uang untuk investasi politik di Pilkada DKI 2017 ini, jadi mereka pasti berorientasi harus menang atau untung, bahkan negara juga sepertinya hadir dan ikut repot dalam hal memberikan dukungan kepada salah satu Paslon .” Ungkap Redim.
Memang sepertinya Pilkada DKI kali ini bagaikan Pilkada rasa Pilpres dimana eforianya bergaung kemana-mana, seluruh masyarakat DKI Jakarta dibuat bingung oleh polemik dan dinamikanya, wajar saja jika hal tersebut harus di antisipasi agar jika nanti sudah berlangsung pemilihan putaran kedua keadaan Jakarta tetap kondusif dan terjaga dimana jika salah satu Paslon nanti kalah, sudah pasti akan timbul kekecewaan pada pendukungnya, apalagi belakangan muncul banyak pendukung yang fanatis terhadap Paslon jagoannya.
“Isu-isu yang keluar seputar Pilkada ini memang banyak isu yang seksi dan sensitif serta riskan serta bisa diolah oleh pihak tertentu, dimana efeknya akan bisa berdampak luas terhadap banyak hal, jadi kita harus bisa menyikapinya dengan baik dan obyektif.” Tutur Bambang.
Sebelumnya isu yang berkembang adalah seputar Petahana yang tak kunjung melakukan cuti karena sudah akan memasuki masa kampanye kembali di putaran kedua dan status terdakwa yang disandangnya atas dugaan penistaan agama, begitu juga dengan Paslon nomor tiga yang sedang ramai dibicarakan soal program DP rumah dalam kampanyenya. Memang sepertinya Pilkada DKI kali ini kan benar-benar menyita perhatian publik luas dan tidak hanya di Jakarta saja. (Red)
Photo credit : Telegraf/Koeshondo W. Widjojo