Survei Capres Yang Terlalu Dini Bingungkan Masyarakat

"Hal ini tentu membuat masyarakat semakin bingung dalam memahami hasil survei. Karenanya, masyarakat perlu memahami mana hasil survei abal-abal, hasil survei yang diframing, dan mana hasil survei yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah,"

Survei Capres Yang Terlalu Dini Bingungkan Masyarakat

Telegraf – Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, memandang, survei elektabilitas calon presiden (Capres) yang saat ini mengemuka, mesti disikapi secara bijak. Pasalnya, hasil survei ini bukan mencerminkan hasil akhir.

Ia menyampaikan, bahwa melakukan survei jauh sebelum Pilpres dilaksanakan memang tidak bisa dilarang. Sebab, itu merupakan bagian dari ekspresi kebebasan berpendapat.

“Hasil survei yang dilakukan jauh sebelum pelaksanaan pemilu bukan menggambarkan hasil akhir. Hasil survei saat ini hanya untuk memetakan peta dukungan capres pada kondisi sekarang (kondisi saat melakukan wawancara dengan responden). Dengan demikian, hasil survei yang dipublikasikan bukan hasil final,” katanya, Kamis (01/04/2021).

Karyono menilai, peta dukungan dan elektabilitas Capres Cawapres masih akan mengalami fluktuasi. Apalagi, rentang selisih elektabilitas masing-masing kandidat yang diuji masih sangat memungkinkan terjadi volatilitas.

“Hasil survei yang masih jauh dari waktu pelaksanaan berpotensi ambigu dan belum pasti,” ujarnya.

Ia juga menyoroti hasil survei yang menunjukkan hasil berbeda antara lembaga yang satu dengan yang lain. Padahal, waktu pelaksanaan survei tak jauh beda, metodologi yang digunakan sama dan jumlah responden tak jauh beda.

“Hal ini tentu membuat masyarakat semakin bingung dalam memahami hasil survei. Karenanya, masyarakat perlu memahami mana hasil survei abal-abal, hasil survei yang diframing, dan mana hasil survei yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah,” ungkapnya.

Karyono menyebut hasil survei yang memenuhi kaedah ilmiah bisa saja tak sama, jika waktu pelaksanaannya berbeda relatif jauh. Hal ini disebabkan adanya perubahan atau pergeseran dukungan terhadap kandidat karena dipengaruhi faktor-faktor tertentu dan kondisi tertentu. Perbedaan jumlah responden (sampel) juga bisa mempengaruhi selisih prosentase elektabilitas.

“Hal ini disebabkan adanya selisih margin of error yang berbeda. Perbedaan jumlah sampel akan membedakan jumlah margin error, perbedaan data hasil survei juga bisa dipengaruhi metode pengambilan sampel yang tidak proporsional, condong pada segmen pemilih tertentu, sehingga membuat hasil survei tersebut bias pada segmen pemilih tertentu. Alhasil, data survei yang dihasilkan tidak mewakili populasi yaitu keseluruhan subjek penelitian,” terangnya.

Diketahui, Indikator Politik Indonesia melakukan simulasi terhadap 17 nama calon presiden dalam survei nasional anak muda pada Maret 2021. Hasilnya, Anies Rasyid Baswedan (15,2 persen), Ganjar Pranowo (13,7 persen), dan Ridwan Kamil atau Kang Emil (10,2 persen) menjadi tiga tokoh teratas yang dipilih anak muda jika pemilihan presiden dilakukan sekarang.

Adapun survei Charta Politica menunjukkan Prabowo Subianto berada di urutan pertama Capres terpilih dengan 22,2 persen. Disusul Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan presentase 20 persen dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 14,2 persen. Urutan capres pilihan masyarakat berikutnya yakni Sandiaga Uno dengan tingkat keterpilihan sebesar 12,7 persen dan Ridwan Kamil 9,2 persen.


Photo Credit: Surat suara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pemilu 2019 selesai divalidasi dan disetujui oleh kedua tim pemenangan masing-masing pasangan calon di Jakarta, Jumat (04/01/2019). Liputan6/Helmi Fithriansyah

 

Indra Christianto

close