Rizal Ramli Sarankan Jokowi Untuk Copot Posisi Ahok di Pertamina

“Saya sudah pernah kasitau pak Jokowi, kalau Ahok itu tidak cocok di BUMN, karena memang gak punya kapasitas disana (BUMN). Lihat saja, gara-gara sesumbar, hasilnya apa..?, Pertamina malah merugi 11 triliun, dan bahkan Pertamina keluar dari 500 Fortune Global,”

Rizal Ramli Sarankan Jokowi Untuk Copot Posisi Ahok di Pertamina

Telegraf – Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli secara terbuka meminta kepada presiden Joko Widodo (Jokowi) agar presiden Jokowi mengganti posisi Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama di PT Pertamina. Rizal menyebut bahwa sosok mantan Menteri ESDM Iganasius Jonan lah yang dinyatakannya lebih pantas untuk menempati posisi jabatan tersebut.

Dimana hal ini ia sampaikan melalui akun Twitternya, @RamliRizal, hari ini. “Mas @jokowi, memang berat melepas teman, yang sudah tahu luar dalam. Apalagi ini jadi “money-bagman”. Sudahlah,, wes wes wareq Grinning face Daripada merusak dan bikin Pertamina lebih rugi,” tulisnya.

Selain itu, Rizal juga mengaku bahwa Ahok pantas mendapatkan posisi sebagai duta besar, atau memberikan jabatan kepada Ahok di luar pemerintahan. “Kasih ajalah Dubes atau telfon Aguan (Chairman Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma) supaya diangkat jadi Preskom Podomoro Slightly. Smiling face Angkat Jonan, lebih baik,” tambah Rizal.

Rizal Ramli sendiri memang, sempat menyatakan, bahwa Ahok tidak pantas menduduki jabatan sebagai komisaris Utama Pertamina, karena tak memilii kapasitas mengurus korporasi.

“Saya sudah pernah kasitau pak Jokowi, kalau Ahok itu tidak cocok di BUMN, karena memang gak punya kapasitas disana (BUMN). Lihat saja, gara-gara sesumbar, hasilnya apa..?, Pertamina malah merugi 11 triliun, dan bahkan Pertamina keluar dari 500 Fortune Global,” tutupnya.

Sebagai informasi, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi sorotan publik. Setelah diketahui, PT Pertamina (Persero) mencatatkan kerugian senilai USD 767,92 juta atau setara Rp 11,28 triliun pada tahun berjalan semester I 2020.

Baca Juga :   Efisiensi, Pertamina Cilacap Manfaatkan EBT

Ironisnya, pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan masih meraup untung USD 659,9 juta. Adapun dalam laporan terbaru Pertamina pada Senin (24/08/2020), setidaknya terdapat kerugian di semester I 2020 terjadi karena total penjualan dan pendapatan usaha lainnya anjlok 24,7 persen dari USD 25,54 miliar menjadi USD 20,48 miliar.

Hasil ini tentunya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan Ahok yang merupakan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Dimana ia sebelumnya menyebutkan, pendapatan Pertamina yang mencapai Rp 800 triliun sangat besar karena hampir setara APBN.

Selain itu, dengan besarnya pendapatan BUMN sektor migas itu, ia menyebut bahwa dibutuhkan pengawasan yang kuat. Dengan begitu, Pertamina akan selalu untung.

“Kalau enggak diawasi dengan baik, direksi Pertamina enggak punya KPI (key performance indicator). Padahal KPI sifatnya administrasi semua. Jadi merem juga untung,” tegas Ahok dalam sebuah sesi wawancara dengan Andy F. Noya di akun instagram KickAndy Show, Sabtu (27/06/2020) lalu.


Photo Credit: Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat memberikan keterangan doors stop kepada wartawan. TELEGRAF/Koes W. Widjojo

Didik Fitrianto