Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Polemik Tampang Boyolali, Harusnya Prabowo Hati-Hati Berbicara
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Polemik Tampang Boyolali, Harusnya Prabowo Hati-Hati Berbicara

Telegrafi Rabu, 7 November 2018 | 20:43 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Calon presiden (capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto (PS) menyayangkan politisasi oleh sejumlah pihak terkait pernyataannya mengenai “Tampang Boyolali”. Politisasi ini pun dilakukan dengan cara berbahaya dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden 2019.

“Saya sudah mengobrol dengan Pak Prabowo, pada prinsipnya kami menyayangkan ada upaya politisasi terhadap statement Pak Prabowo soal tampang Boyolali,” kata koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak dalam konferensi pers di Media Center Prabowo-Sandi di Jakarta, Selasa (06/11/18).

Padahal, menurut Dahnil, Prabowo berupaya berkomunikasi dengan masyarakat dan berusaha melakukan interaksi yang dekat dan bersahabat.

“Hal itu selalu dilakukan Pak Prabowo di beberapa kesempatan, interaktif, bersahabat, friendly di setiap kampanye yang Prabowo hadiri,” katanya.

Menurutnya, politisasi “Tampang Boyolali” sejak awal dinilai dilakukan dengan cara berbahaya untuk kontestasi Pilpres kita di 2019.

“Kalau teman-teman ikuti rekaman yang utuh ada interaksi yang mendalam antara Pak Prabowo dan audiens. Prabowo menyayangkan upaya-upaya politisasi tersebut. Namun, kami menanggapi isu ini dengan cara yang baik pula,” terangnya.

Prabowo Anggap Tampang Boyolali Sebagai Candaan

Prabowo Subianto sendiri tidak menyangka ucapannya terkait “Tampang Boyolali” beberapa waktu lalu akan dipersoalkan oleh banyak pihak padahal menurutnya pernyataannya itu hanya bercanda.

“Saya bingung kalau ucapan bercanda dipersoalkan. Kalau saya begini dipersoalkan, begitu dipersoalkan,” kata Prabowo.

Namun, dia menyadari saat ini adalah tahun politik, sehingga ucapannya dalam kesempatan apa pun akan disorot masyarakat.

Prabowo pun mengaku akan lebih berhati-hati dalam berbicara terutama banyak acara yang disorot oleh media massa.

“Jadi omongan bercanda sekarang harus dibatasi. Jadi saya bingung mau bicara apa, tapi saudara sudah mengerti,” terangnya.

Sedangkan, Sekjen PAN Eddy Soeparno mengatakan bahwa pernyataan Prabowo terkait “Tampang Boyolali” ingin memberikan penekanan bahwa masyarakat kecil sering mendapatkan diskriminasi dan marginalisasi.

Dia menegaskan bahwa Prabowo tidak ada maksud untuk mengejek atau merendahkan masyarakat dengan perkataan tersebut.

“Saya kira itu bukan berarti kita merendahkan seseorang atau pihak tertentu atau kelompok tertentu. Tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Ia mengaku prihatin segala sesuatu yang diucapkan itu rawan untuk dipolitisir, sehingga jangan sampai semua ucapan dianggap merendahkan atau menghina.

Atas ucapan “Tampang Boyolali” itu membuat Prabowo dilaporkan ke polisi oleh seorang warga Boyolali bernama Dakun. Dalam laporan bernomor : LP/6004/XI/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 2 November 2018, ucapan Prabowo dianggap telah melecehkan dan menyatakan bahwa warga Boyolali miskin dan tidak pernah masuk mal dan hotel.

Eddy mengatakan untuk menjaga tahun politik ini menjadi teduh, maka harus selalu berpikir positif bukan hal yang justru memecah belah bangsa ini.

Sebelumnya, Prabowo di hadapan pendukungnya pada Selasa (30/10/18) melontarkan ucapan bahwa warga Boyolali tidak bisa masuk hotel mewah, sehingga mereka bisa saja diusir karena “Tampang Boyolali-nya”.

Dalam salah satu bagian dalam pidatonya, Prabowo membicarakan mengenai belum sejahtera masyarakat sehingga memberi perumpamaan tampang Boyolali yang belum pernah masuk hotel mewah.

“Kalian kalau masuk mungkin kalian diusir karena tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian, ya, tampang-tampang orang Boyolali,” kata Prabowo. (Red)


Photo Credit : Calon Presiden (capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto (PS). REUTERS

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?