Penyakit Tidak Menular Lebih Berbahaya

"Penyakit terbagi dua pertama penyakit tidak menular dan penyakit menular, dimana penyakit tidak menular ini justru lebih berbahaya dibanding penyakit menular, kalau penyakit menular pasti takut deket deket dengan orangnya karena pasti menularkan. Sementara penyakit tidak menular memang kayaknya ringan tidak menularkan ini justru sangat berbahaya"

Penyakit Tidak Menular Lebih Berbahaya


Telegraf, Jakarta – Kemajuan teknologi yang cepat di Indonesia mempunyai dampak terhadap kesehatan, dimana manusia disuguhkan kemudahan kemudahan yang bisa megakibatkan datangnya penyakt ditubuh manusia.

Hal itu di ungkap Prima Yosepin Kepala Subdit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI dalam program Unilever mengajak masyarakat waspadai asupan gula, garam dan lemak di Jakarta.

“Penyakit terbagi dua pertama penyakit tidak menular dan penyakit menular, dimana penyakit tidak menular ini justru lebih berbahaya dibanding penyakit menular, kalau penyakit menular pasti takut deket deket dengan orangnya karena pasti menularkan. Sementara penyakit tidak menular memang kayaknya ringan tidak menularkan ini justru sangat berbahaya,” tutur Prima Selasa (18/12).

Prima menjelaskan penyakit tidak menular justru berbahasa dikarenakan satu kali kita endapati penyakit itu,di tubuh kita, seumur hidup kita akan terus dengan penyakit itu, dan kematian di indonesia sebagian besar di sebabkan oleh penyakit tidak menular (PTM).

Seperti cancer, diabetes, jantung prima mencontohkan, belum lagi biaya yang di keluarkan untuk penyembuhan PTM ini lebih besar kerena butuh banyak fase dalam penyembuhannya, ungkapnya.

“Penyakit katastropis ungkapan PTM, ini jauh menyita pembiayaan belum lagi PTM ini di fase fase awalnya itu tidak begejala biasanya kalau sudah fuul biasanya ngantuk,” kata Prima.

Melihat kondisi tersebut Unilever Indonesia mengajak masyarakat Indonesia waspada sedini mungkin terhadap penyakit penyakit yang menyerang tubuh manusia dengan cara mengatur asupan gula garam dan lemak, dengan cara memilih makanan dan produk produk berkualitas dan memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh.

Selain asupan faktor tekanan (Stress) juga mempengaruhi masuknya penyakit karena Stress bisa menimbulkan berbagai macam efek pada tubuh, seperti meningkatnya nafsu makan Emotional Eating.

“Unilever Indonesia memahami adanya fenomena emotional eating. Sebagai bagian dari komitmen kami untuk membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, kami mengambil tema Emotional Eating, Waspadai Asupan Gula, Garam, Lemak (GGL) dalam Jakarta Food Editor’s Club (JFEC),” ungkap Maria Dewantini Dwianto selaku Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia, Tbk.

Sementara itu Tara de Thouars, psikolog yang kerap menangani kasus emotional eating, mengungkapkan, kita membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tetapi ada makanan tertentu yang kita konsumsi dalam kondisi spesifik. Dimana dalam kondisi tertentu seseorang menginginkan makanan yang berkalori tinggi dan nilai gizi yang minim. pada saat kondisi tubuh mengalami stress.

“Faktor psikologis dan fisiologis mempengaruhi apa yang kita konsumsi dan menentukan hubungan yang dimiliki antara makanan dan emosi. Kita membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tetapi ada makanan tertentu yang kita konsumsi dalam kondisi spesifik. Dalam kondisi ini, seseorang biasanya menginginkan makanan berkalori tinggi dengan nilai gizi yang minim. Jenis makanan yang biasanya dikonsumsi biasa disebut comfort food, seperti es krim, kue, coklat, kentang goreng atau pizza,” jelasnya.

Melalui Jakarta Food Editor’s Club (JFEC) Unilever Indonesia selain memberikan edukasi kepada masyarakat juga memberikan produk produk dengan rendah gula, serta kandungan nutrisi yang baik bagi masyarakat.

Maria berharap melalui edukasi dan inovasi produk yang kami miliki, kami bisa membantu masyarakat Indonesia untuk bisa meningkatkan kesehatan masyarakat sehingga mendukung terciptanya Indonesia sehat. (Red)


Credit Photo : Prima Yosepin Kepala Subdit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI memberikan keynote dalam rangka JFEC di Jakarta/telegraf


Atti K.

close