Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Moeldoko: Media Online Kejar Kecepatan Bukan Akurasi
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Nasional

Moeldoko: Media Online Kejar Kecepatan Bukan Akurasi

A. Chandra S. Minggu, 7 Februari 2021 | 22:45 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Photo Credit: Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai pandemi dan jaga jarak fisik atau physical distancing membuat wartawan sulit untuk hadir dan bertemu langsung dengan narasumber. FILE/Dok/KSP
Photo Credit: Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai pandemi dan jaga jarak fisik atau physical distancing membuat wartawan sulit untuk hadir dan bertemu langsung dengan narasumber. FILE/Dok/KSP
Bagikan

Telegraf – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengingatkan kepada pers terkait dampak negatif dari perubahan ekologi media.

“Perubahan ekologi media, perubahan atas kecepatan bukan akurasi, clickbait gambar, isi dan beritanya tidak sesuai, berikutnya news aggregator, media sosial, persoalan pandemi, dan pseudo journalism,” katanya di Jakarta, Minggu, (07/02/02).

Moeldoko mengatakan hal itu dalam webinar “Jurnalisme Berkualitas: Menguatkan Keberlanjutan Profesi Wartawan dan Penerbitan Pers Guna Menyehatkan Demokrasi di Tengah Gempuran Disrupsi Digital” HPN 2021.

“Pada pandemi ini terasa sekali bagaimana pengalaman KSP menghadapi situasi ini, media online saat ini dikejar dengan kecepatan bukan dengan keakuratan, yang paling cepat naik di situ dinilai sebagai keunggulannya ini yang sering terjadi,” jelasnya.

Muldoko juga mengatakan bahwa fenomena clickbait judul dan isi berita tidak sesuai bisa menyebabkan misinformasi, juga hadirnya news aggregator yang membawa portal berita yang tidak menjaga kualitas dan kode etik jurnalistik.

“Naik dan terbaca oleh orang dan dijadikan referensi, nah bisa disinformasi, berita lama bisa muncul lagi dan terbesar di media sosial sehingga terjadi disinformasi di masyarakat,” lanjutnya.

Ia juga mengatakan disinformasi menjadi biang suburnya hoax. Dari Maret hingga Januari 2021 saja ada 1.400 hoax soal pandemi dan vaksin yang tersebar di media sosial.

“Peran media ikut terlibat berpartisipasi untuk menanggulangi Covid-19 ini diharapkan tapi yang lebih jauh lagi, pemerintah pasti tak bisa jalan sendiri,” imbuhnya.

Dikatakan juga oleh Moeldoko bahwa keadaan pandemi dan jaga jarak fisik atau physical distancing membuat wartawan sulit untuk hadir dan bertemu narasumber.

“Ini menurut saya juga berpengaruh pada peliputan, biasanya kalau kita sering ketemu mungkin ada info lebih jelas lagi, tapi dengan ada pembatasan seperti ini memang ada pengaruhnya juga,” ungkapnya.

Selain hal-hal itu Moeldoko juga mengatakan bahwa yang paling penting sekali untuk dicermati yaitu pseudo journalism atau sering disebut dengan jurnalis semu.

“Para content creator membuat konten di media sosial seolah-olah produk jurnalistik, ada juga yang menamakan dirinya independen jurnalis sehingga masyarakat berpikir ini benar-benar produk jurnalistik padahal tidak menerapkan kode etik jurnalistik dan hal ini berbahaya dapat membuat masyarakat disinformasi,” tandasnya.


Photo Credit: Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai pandemi dan jaga jarak fisik atau physical distancing membuat wartawan sulit untuk hadir dan bertemu langsung dengan narasumber. FILE/Dok/KSP

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Magang Nasional
Nasional

Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Sinergi Lintas Sektoral, Pemberantasan Narkoba Jadi Prioritas Nasional

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

GAMKI dan Lembaga Kristen Kompak Polisikan JK Terkait Isi Ceramah

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Pernyataan Jusuf Kalla Terkait Isu SARA Dianggap Berpotensi Sesatkan Publik

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Proses Hukum Andrie Yunus, Aktivis 98: Jangan Ada Yang “Memancing di Air Keruh”

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Generasi Muda Harus Diingatkan Tentang Bahaya Kepentingan Asing

Waktu Baca 4 Menit
Nasional

Proses Hukum Militer Kasus Air Keras Wajib Dihormati dan Dikawal Publik

Waktu Baca 5 Menit
Nasional

Kasus Air Keras dan Isu Destabilitas Keamanan Negara, Publik Harus Waspada Soal Perang Informasi

Waktu Baca 5 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?