Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Pernyataan Lama Ketua DPD Kembali Viral, Densus Digital Soroti “Politik Daur Ulang”
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Pernyataan Lama Ketua DPD Kembali Viral, Densus Digital Soroti “Politik Daur Ulang”

Idris Daulat Rabu, 25 Februari 2026 | 21:13 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Foto : Ilustrasi (doc.AI)
Foto : Ilustrasi (doc.AI)
Bagikan

Telegraf — Fenomena beredarnya kembali potongan pernyataan lama Ketua DPD RI, Sultan Baktiar Najamudin, menuai perhatian. Kali ini, sorotan datang dari Idris Daulat dari Densus Digital yang menyebut praktik tersebut sebagai bentuk “politik daur ulang” di era algoritma, Jakarta (25/2/26).

Menurut Idris, di ruang digital saat ini, waktu bisa dimanipulasi. Pernyataan yang disampaikan berbulan-bulan lalu dapat muncul kembali di linimasa publik dengan kemasan baru—judul baru, visual baru, serta narasi yang disesuaikan dengan situasi terkini.

“Pernyataan lama bisa tampil seolah-olah respons terhadap isu yang sedang panas hari ini. Padahal itu bukan pernyataan baru,” ujar Idris dalam keterangannya.

Belakangan, potongan pernyataan Sultan Baktiar Najamudin kembali beredar luas di media sosial. Narasi yang diangkat terdengar provokatif, yakni seolah-olah rakyat diminta menyumbangkan uang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Konten tersebut disandingkan dengan gambar nampan makanan dan memicu beragam reaksi publik, dari sindiran hingga kemarahan.

Namun, Idris menegaskan bahwa konten tersebut merupakan pernyataan lama yang diangkat ulang tanpa mencantumkan konteks waktu maupun latar diskusi aslinya.

“Tanpa tanggal, tanpa penjelasan, tanpa konteks bahwa itu bagian dari wacana kebijakan di masa lalu. Ketika waktu dihapus dari narasi, maknanya ikut berubah,” katanya.

Algoritma dan Emosi

Idris menjelaskan bahwa algoritma media sosial tidak bekerja berdasarkan kronologi, melainkan interaksi dan emosi. Konten yang memicu kemarahan cenderung memiliki tingkat klik (click-through rate) lebih tinggi, waktu tonton lebih lama, serta kolom komentar yang lebih ramai.

“Dalam logika platform, kemarahan adalah performa,” ujarnya.

Ia menyebut praktik ini sebagai out-of-date content—bukan kebohongan sepenuhnya, melainkan informasi yang dipindahkan dari konteks waktunya. Secara teknis, isi pernyataan tersebut memang pernah diucapkan.

Gambar yang digunakan pun nyata. Namun, ketika disajikan tanpa penanda waktu, publik menangkapnya sebagai pernyataan baru yang relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.

Akibatnya, perdebatan publik bukan lagi mengenai substansi kebijakan, melainkan persepsi bahwa gagasan tersebut baru saja dilontarkan.

Arsip sebagai Amunisi Politik

Fenomena ini, kata Idris, menunjukkan bahwa dalam ekosistem digital Indonesia yang masih beroperasi dalam logika Web 2.0, arsip bukan sekadar catatan masa lalu. Ia bisa menjadi amunisi politik yang dipoles ulang sesuai momentum.

“Yang viral bukan selalu kebohongan. Sering kali yang hilang justru konteks,” ujarnya.

Terkait pertanyaan mengenai siapa pihak yang memainkan isu tersebut dan apa motifnya, Idris menilai hal itu memerlukan penelusuran digital lebih lanjut.

Namun secara umum, ia menyebut motifnya bisa beragam—mulai dari kepentingan politik, pembentukan opini publik, hingga sekadar mengejar trafik dan monetisasi konten.

“Yang jelas, publik perlu lebih kritis. Cek tanggal, cek sumber, dan pahami konteks sebelum bereaksi,” kata Idris.

Fenomena ini kembali mengingatkan bahwa di era algoritma, bukan hanya informasi yang bergerak cepat—tetapi juga emosi.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

PGN Bentuk Satgas RAFI 2026, Amankan Pasokan Gas Selama Ramadhan dan Idul Fitri
Waktu Baca 3 Menit
Lonjakan Aktivitas Migas Picu Tantangan Baru bagi Industri Asuransi Energi
Waktu Baca 5 Menit
Budi Rahardjo
Presiden Prabowo Mendengar, Indonesia Melangkah: Bebas Aktif di Tengah Pusaran Dunia
Waktu Baca 5 Menit
OJK: Ekonomi Februari 2026 Tumbuh Solid, Waspadai Tekanan Geopolitik dan Volatilitas Pasar
Waktu Baca 4 Menit
Pemerintah Gelontorkan Rp55 Triliun untuk THR ASN 2026, Swasta Wajib Bayar Penuh H-7 Lebaran
Waktu Baca 4 Menit

Strategi OJK Kelola Risiko Iklim: Perkuat Pengawasan, Wajibkan CRMS, dan Bentuk Kemitraan Internasional

Waktu Baca 4 Menit

Pernyataan Lama Ketua DPD Kembali Viral, Densus Digital Soroti “Politik Daur Ulang”

Waktu Baca 3 Menit

LPS Bayar 88 Persen Rekening Nasabah BPR Prima Master Bank, Proses Klaim Dilanjutkan Bertahap

Waktu Baca 2 Menit

BSN Ekspansi ke Ekosistem Muhammadiyah, Dongkrak Pangsa Pasar Perbankan Syariah

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

Vatikan dan Indonesia di Persimpangan Arsitektur Perdamaian Dunia

Waktu Baca 5 Menit
Foto : Stephanus SBR (Pengamat Sosial) (doc.ist)
Opini

Indonesia ASRI di Tengah Dunia yang Berubah, Oleh: Stephanus SB Raharjo (Pengamat Sosial)

Waktu Baca 4 Menit
Opini

Trump, Indonesia dan Titik Nol Baru

Waktu Baca 16 Menit
Opini

Hak Presiden Atau Cawe-Cawe?

Waktu Baca 7 Menit
Opini

Menyelami “Mens Rea” Polisi

Waktu Baca 8 Menit
Opini

Dua Jalan ke Israel: Gus Dur di Jalur Merpati, Yahya Staquf Meniti Sayap Elang

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Zeitgeist: Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional

Waktu Baca 7 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?