Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Menghidupkan Kembali Tagoreisme
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.
Cakrawala

Menghidupkan Kembali Tagoreisme

MSN Selasa, 3 September 2024 | 08:58 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Bagikan

JAKARTA, TELEGRAF.CO.ID — Membaca Tagore itu menerima diktum ana al-haq (tuhan yang menubuh dan tubuh yang menuhan). Nama lengkapnya Rabindranath Tagore (1861-1941). Guru purba bagiku ini merupakan penulis besar India yang mencuat di peta sastra dan spiritualis dunia. Aku mengoleksi karya-karyanya sejak SMA saat nyantri di Gontor bersamaan dengan mengoleksi semua karya Kahlil Ghibran.

Bagiku, gurunda ini adalah pembawa suara kebudayaan spiritual yang santun sekaligus kuat singularitasnya. Sedangkan bagi dunia dan India sendiri, beliau adalah legenda hidup. Ia dikenal sebagai penyair, cerpenis, novelis, penulis drama, musisi, dan guru bangsa. Banyak sastrawan besar, seperti Andre Gide, Ezra Pound, dan W.B. Yeats, mengakui keunggulan karya-karyanya.

Bersama sahabat karibnya Mahatma Gandhi (1869-1948), Tagore dianggap oleh masyarakat India sebagai perlambang insan setengah dewa. Tahun lahirnya bersamaan dengan seniman ambisius Frederic Remington (1861-1909) yang karyanya tersebar di semesta.

Kehebatannya juga ditandai oleh meluasnya terjemahan karyanya di banyak sekali negara sekaligus penghargaan Nobel Sastra yang diterimanya pada tahun 1913. Sebagaimana kita tahu, belum banyak waktu itu nobelis dari benua Asia. Yang agak mengasikkan, ia juga menulis puisi berjudul “Kepada Tanah Jawa,” tertanda tahun 1927.

Di buku ini, Tagore bicara mengenai satu yang tak-terbatas: ia yang ada pada setiap diri kita. Ia yang mengalirkan kebahagiaan, kebenaran, kesempurnaan, cinta dan simpati yang melintasi semua halangan kasta dan warna, kemerdekaan sejati dari pikiran dan jiwa yang tidak dapat datang dari luar diri kita.

Sungguh, ekspresi akan pencarian kebenaran dan kebahagiaan ini menjadi sesuatu yang kreatif, sedangkan hasrat untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu konstruktif.

Tagore membawa proporsi ini dari tiap individu lalu ke tingkatan rakyat, bangsa, pemerintahan, hingga hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Sangat eksploratif, mengguncang dan reflektif.

Bukunya kali ini berjudul “Kesatuan Kreatif” yang lumayan tipis karena ketebalannya hanya 224 hlm. Berbentuk bookpaper, berukuran 11X18 cm, berbahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Narasi Yogyakarta, bulan Mei tahun 2020, serta berISBN: 9786025792342.

Yudhie Haryono

Ia menulis keren sekali layaknya mengirim surat untukku, “yang tak terbatas bisa menyatu dengan sang diri; pada saat itulah kesatuan menjadi kreatif. Yang awal sudi menerima yang akhir lalu membuat satuan yang banyak dan yang banyak jadi satuan.” Orang jawa menyebutnya “manunggaling kawulo gusti.”

Tagore memastikan bahwa semua manusia akan terus mendapati 5K sepanjang hidupnya: Kesibukan, Kebutuhan, Keinginan, Kebingungan dan Kebimbangan.

Kesibukan adalah merasa harus ada yang dikerjakan. Dus, kesibukan memang menjadi jalan meraih kebermanfaatan hidup. Sumbernya jiwa dan raga. Sedangkan kebutuhan adalah keperluan yang dicari manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya secara alamiah melalui pencapaian kesejahteraan. Kebutuhan dapat dibedakan berdasarkan tingkat kepentingan, waktu, sifat, dan subjeknya. Sumbernya pikiran.

Keinginan adalah hasrat pada benda atau jasa yang ingin dimiliki, maupun hal yang ingin dilakukan tapi tidak selalu berdampak signifikan jika tidak terpenuhi. Sumbernya ego.

Sedang kebingungan adalah gejala yang membuat manusia merasa tidak bisa berpikir jernih. Manusia merasa tidak bisa fokus sehingga sulit membuat keputusan. Manusia pasti mengalami disorientasi dan delirium.

Dari kondisi bingung, manusia merasa bimbang. Dus, kebimbangan adalah perasaan ragu-ragu atau cemas. Kebimbangan sangat berpengaruh dalam pemilihan keputusan yang akan dilakukan oleh manusia dalam hampir semua aspek hidupnya. Menghadapi lima kondisi ini, manusia harus tenang dan berkawan, berguru serta hening cipta (reflektif, proyektif dan berdoa).

Sungguh, di zaman modern yang menghasilkan mental volatile dan ruang bising, kita perlu menghidupkan tagoreisme. Dengan begitu, kita bisa lebih fokus, ceria dan optimis dalam hidup agar mencapai cita-cinta sejati.(*)

(teks : Yudhie Haryono | Presidium Forum Negarawan)

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupas Jaran Kepang Temanggung, Agus Gondrong Ditunggu Tropi Abyakta Pada Puncak HPN 2026.
Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional
Waktu Baca 4 Menit
DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan untuk Bangsa
Waktu Baca 5 Menit
Bank Jakarta Luncurkan Kartu Debit Visa, Gubernur Dorong Transformasi dan Persiapan IPO
Waktu Baca 3 Menit
Rock Ngisor Ringin Part #2 Jadi Ajang Kumpul Musisi Rock Tanah Air
Waktu Baca 4 Menit

Program FLPP Capai Rekor 263 Ribu Unit, BTN Dominasi Penyaluran Rumah Subsidi Nasional

Waktu Baca 4 Menit

BSN Resmi Beroperasi Usai Spin-Off dari BTN, Bidik Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional

Waktu Baca 3 Menit

Tradisi Warga Indonesia Dalam Merayakan Malam Tahun Baru di New York

Waktu Baca 6 Menit

OJK Bentuk Departemen UMKM dan Keuangan Syariah, Pengawasan Bank Digital Berlaku 2026

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Cakrawala

Temanggung Bangkit, CATEC Gelar Pameran “Adu Roso” Karya Pelukis se Jawa-Bali

Waktu Baca 4 Menit
Cakrawala

Dzikir Visual Karya YSH

Waktu Baca 3 Menit
Cakrawala

Kasih Di Mata Dua Perupa

Waktu Baca 4 Menit
Cakrawala

Muda Mudi Turi Mendominasi Pelatihan Produksi Video Tentang Desa

Waktu Baca 3 Menit
Cakrawala

YMKI Apresiasi MUI Terbitkan Kriteria Produk Terafisial Israel, Jangan Salah Pilih

Waktu Baca 3 Menit
Cakrawala

Empat Resep Anti Miskin Pemerintahan Baru

Waktu Baca 4 Menit
Cakrawala

Melatih Karya Dengan Pelatihan, Bertukar Cerita Tentang Keindahan Alam

Waktu Baca 3 Menit
Cakrawala

Pengacara Kritik Adanya Ancaman Hukum ke Konsumen Yang Keluhkan Galon ‘Jentik Hitam’

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?