Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan Untuk Bangsa
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan Untuk Bangsa

Aji Cahyono Jumat, 9 Januari 2026 | 13:59 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Photo Credit: Pemerintah dinilai perlu memprioritaskan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam pemulihan ekonomi. Hal ini karena sektor UMKM bisa memberikan efek berganda atau multiplier effect kepada masyarakat, termasuk dalam menciptakan permintaan. VOI/Angga Nugraha
Photo Credit: Pemerintah dinilai perlu memprioritaskan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam pemulihan ekonomi. Hal ini karena sektor UMKM bisa memberikan efek berganda atau multiplier effect kepada masyarakat, termasuk dalam menciptakan permintaan. VOI/Angga Nugraha
Bagikan

Telegraf — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menilai kebijakan hilirisasi industri yang dijalankan pemerintah sejak 2010 hingga hari ini belum mencerminkan arah industrialisasi nasional yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan. Penilaian ini disampaikan sebagai bagian dari evaluasi kritis terhadap arah pembangunan ekonomi nasional yang dinilai masih bertumpu pada logika investasi asing dan ekspor produk bernilai tambah rendah.

Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Industri dan Hilirisasi, Prima Dwi Dzaldi, menegaskan bahwa hilirisasi seharusnya dimaknai sebagai proses penguatan rantai nilai industri secara menyeluruh, mulai dari penguasaan bahan baku hingga kedaulatan teknologi dan hubungan industrial yang adil. Namun, menurutnya, praktik hilirisasi saat ini justru mengalami penyempitan makna.

“Hilirisasi kita masih bersifat kuantitatif dan transaksional, mengejar angka investasi dan ekspor, tetapi lemah dalam membangun kedaulatan teknologi, kapasitas industri nasional, dan perlindungan tenaga kerja,” ujarnya dalam keterangan rilisnya, Jum’at (9/6/2025).

Dalam catatan akademiknya, GMNI menyoroti stagnasi kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang hanya berkisar 18–19% pada 2023, jauh di bawah capaian awal 2000-an yang berada di angka lebih dari 30%. Data tersebut, menurut GMNI, menunjukkan bahwa hilirisasi yang digadang-gadang memperkuat industri nasional belum merombak struktur ekonomi secara fundamental. Produk hilir yang dihasilkan sebagian besar masih berada pada tingkat setengah jadi, belum memasuki rantai produksi berteknologi tinggi.

GMNI juga menilai kuatnya dominasi modal besar dan asing dalam sektor strategis membuktikan bahwa negara belum mengambil posisi sebagai pengendali arah industrialisasi. Pemerintah justru lebih menampilkan peran sebagai fasilitator investasi, sementara nilai tambah ekonomi tertinggi tetap mengalir ke luar negeri. Kondisi ini terlihat jelas pada kawasan industri seperti Morowali, di mana pendapatan daerah meningkat tetapi mayoritas nilai tambah tetap terpusat pada perusahaan besar dan investor asing.

Persoalan berikutnya menyangkut lemahnya transfer teknologi. GMNI menilai sejak hilirisasi dijalankan lebih dari satu dekade lalu, belum muncul pusat riset nasional yang menopang peningkatan kemampuan industri dalam negeri. Ketergantungan pada teknologi ekstraksi dan pemrosesan dari China atau Jepang masih dominan, khususnya pada komoditas seperti nikel dan tembaga. Di saat yang sama, keterampilan tenaga kerja lokal di banyak daerah industri tidak mengalami peningkatan signifikan.

Di sisi hubungan industrial, GMNI menemukan akar masalah lain seperti praktik upah murah, belum meratanya peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, serta perlindungan buruh yang lemah di kawasan-kawasan hilirisasi. Menurut Prima, hilirisasi tidak boleh dipisahkan dari kualitas kerja yang layak. “Jika buruh hanya menjadi penopang struktur produksi yang eksploitatif, maka hilirisasi tak akan pernah berpihak pada rakyat,” katanya.

Baca Juga :  Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

GMNI juga mengkritik minimnya keterlibatan UMKM dan industri kecil-menengah dalam rantai pasok hilirisasi. Fragmentasi rantai pasok membuat hilirisasi hanya menguntungkan segelintir korporasi besar, bukan menjadi lokomotif pemerataan ekonomi sebagaimana dijanjikan pemerintah. Selain itu, dampak lingkungan turut disorot sebagai aspek yang diabaikan dalam proses hilirisasi. Peningkatan produksi nikel dan ekspansi perkebunan sawit di sejumlah daerah berkontribusi pada deforestasi, pencemaran air, serta tekanan sosial terhadap masyarakat lokal. Ketiadaan standar keberlanjutan yang kuat membuat hilirisasi rentan melahirkan masalah ekologis jangka panjang.

GMNI juga menyinggung tekanan global yang menyertai kebijakan hilirisasi, mulai dari sengketa perdagangan dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) hingga risiko ketergantungan industri terhadap pemain global. Kebijakan larangan ekspor bijih, misalnya, memunculkan perlawanan dari negara lain dan menempatkan Indonesia dalam posisi tawar yang rumit dalam perdagangan internasional.

Berdasarkan kajian ini, DPP GMNI merumuskan sejumlah rekomendasi strategis. Pertama, mengarahkan hilirisasi dari sekadar mengejar ekspor menuju penguatan kedaulatan industri dan teknologi nasional. Kedua, memperkuat peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pengendali rantai pasok industri. Ketiga, mewajibkan transfer teknologi yang konkret dan terukur, termasuk pembangunan pusat riset dan keterlibatan perguruan tinggi dalam inovasi industri. Keempat, memastikan hubungan industrial yang adil melalui standar upah layak dan perlindungan buruh. Kelima, mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok hilirisasi. Keenam, menjadikan keberlanjutan lingkungan dan sosial sebagai indikator utama keberhasilan.

Di ujung pernyataannya, Prima menegaskan pentingnya menempatkan hilirisasi kembali pada landasan ideologis, yakni Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. “Jika hilirisasi tidak mengubah struktur ketergantungan ekonomi, maka yang kita bangun bukan industrialisasi nasional, melainkan kolonialisme ekonomi dalam wajah baru,” tutup Prima.

DPP GMNI menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengawalan kritis terhadap kebijakan hilirisasi agar benar-benar menjadi alat perjuangan ekonomi nasional dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit
Dokumen Digital Palsu
Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi
Waktu Baca 3 Menit
Bite Me Sweet
Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia
Waktu Baca 4 Menit
AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat
Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

KPI Social Media 2026: Strategi Baru Biar Konten Makin Naik

Waktu Baca 6 Menit

Aussie Beef Fair Hadir di Jakarta dengan Daging Sapi Premium New South Wales dan Kesempatan Terbang ke Sydney

Waktu Baca 6 Menit

SATSET Belanja Aman Tanpa Khawatir, Lazada Ajak Konsumen Lebih Waspada terhadap Penipuan

Waktu Baca 5 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

BTN Salurkan 6 Juta KPR, Perkuat Akses Hunian bagi 24 Juta Masyarakat Indonesia

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

PGN Perkuat Ekosistem BBG, Dorong Penggunaan Gas untuk Kendaraan Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

BTN Genjot Penyaluran Kredit, Tembus Rp400,63 Triliun di Kuartal I/2026

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?