Memproyeksikan Nasib Partai Baru Amien Rais, Ini Kata Pengamat

“Sehingga ibarat kapal kemana akan berlabuh, akan tergantung kepada nahkodanya, yaitu Amien Rais. Namun, menggantungkan kepada sosok Amien Rais ada plus minusnya."

Memproyeksikan Nasib Partai Baru Amien Rais, Ini Kata Pengamat

Telegraf – Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyoroti soal Amien Rais yang berencana akan mendirikan partai baru yang bakal menjadi oposisi baru di pemerinthan Jokowi. Sedkit clue soal warna partai ayang akan dibentuk Amien Rais adalah partai yang berasaskan islam.

Oleh karena hal tersebut, Karyono memahami nampaknya Amien sengaja mengambil posisi diametral dan non kompromis dengan pemerintahan Jokowi, sebagai salah satu pembeda.

Standing position partai baru Amien Rais tersebut dinilai memiliki perbedaan dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang didirikan Amien Rais dahulu. PAN berasaskan Pancasila dan besifat terbuka, majemuk, berasal dari berbagai pemikiran, latar belakang etnis dan agama. PAN tidak menjadikan Islam sebagai asas tapi agama menjadi landasan perjuangan PAN.

Berbeda dengan PAN, Amien secara tegas memastikan partai yang ia dirikan berasaskan Islam meskipun ada tambahan “Rahmatan Lil alamin” di belakang.

“Islam rahmatan lil alamin (menjadi rahmat bagi semesta) dipilih menjadi asas partai seolah ingin menunjukkan identitas partai yang didirikan Amien adalah partai islam yang moderat,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima oleh Telegraf, Sabtu (12/09/2020).

Dengan demikian, kata Karyono, standing position partai baru yang didirikan Amien dan koleganya termasuk dalam golongan partai islam. Jika demikian, maka dalam merebut suara di pemilu nanti, partai baru yang didirikan Amien akan berebut ceruk pemilih islam dan bersaing dengan partai berhaluan islam lainnya.

“Oleh karenanya, partai baru besutan Amien Rais harus bekerja keras untuk merebut ceruk pemilih yang sudah “terkavling” itu. Salah satunya, perlu membuat diferensiasi yang membedakan dari yang lain. Jika gagal membangun deferensiasi yang dapat menarik simpati, maka sulit bagi Amien Rais dan koleganya meloloskan partainya ke senayan,” imbuhnya.

Dijelaskan juga bahwa dengan posisi seperti itu, partai baru Amien sulit untuk berkembang lebih besar. Mungkin Amien berharap dapat merebut suara dari basis Muhammadiyah secara signifikan dan berharap dukungan dari golongan umat islam lainnya.

Tetapi nampaknya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, basis pemilih Muhammadiyah menyebar ke sejumlah partai. Sebagian preferensi pemilih Muhammadiyah menyalurkan aspirasinya ke PAN, sebagian lagi ke partai lain dimana sejumlah partai juga mengakomodir tokoh-tokoh Muhammadiyah yang tentu saja dapat menyedot suara Muhammadiyah.

Salah satunya, katanya, perlu membuat diferensiasi yang membedakan dari yang lain, pun demikian umat islam yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama (kalangan nahdliyin), Persis, LDII dan lain-lain, dikatakan Karyono, telah menjadi rebutan sejumlah partai, tidak hanya partai islam tapi juga partai nasionalis.

Dari situ Amien seperti sengaja mengambil posisi diametral dan non kompromis dengan pemerintahan Jokowi, sebagai salah satu pembeda. Sikap politik dan pemikiran Amien berpotensi akan mendominasi gerak partai tersebut.

“Sehingga ibarat kapal kemana akan berlabuh, akan tergantung kepada nahkodanya, yaitu Amien Rais. Namun, menggantungkan kepada sosok Amien Rais ada plus minusnya. Plusnya mungkin masih bisa menampung suara yang kecewa dengan PAN pimpinan Zulkifli Hasan dan sebagian suara yang tidak puas dengan pemerintahan dan keadaan saat ini. Sedangkan minusnya adalah menurunnya pamor Amien Rais dan meningkatnya sentimen negatif terhadap sosok yang menjadi salah satu lokomotif reformasi tersebut,” pungkasnya.


Photo Credit: Amien Rais. FILE/DOK/IST

 

A. Chandra S.