Macron Singgung Islam, Timur Tengah Boikot Produk Prancis

"Komentar Presiden Erdogan tidak dapat diterima. Perbuatan yang keterlaluan dan kekasaran bukanlah metode. Kami menuntut agar Erdogan mengubah arah kebijakannya karena berbahaya dalam segala hal,"

Macron Singgung Islam, Timur Tengah Boikot Produk Prancis

Telegraf – Sejumlah negara Islam di Timur Tengah menyerukan aksi terhadap boikot produk Prancis. Aksi itu dilakukan sebagai respon atas sikap dan pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang dianggap melecehkan Islam.

Seperti diberitakan Macron mencanangkan untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler negaranya dari Islam radikal. Macron mengumumkan akan menerapkan pengawasan sekolah yang lebih ketat dan kontrol yang lebih baik atas pendanaan masjid dari luar negeri. Macron mengecam pembunuhan yang menewaskan Samuel Paty, seorang guru sejarah di Conflans-Sainte-Honorine, barat laut Paris, yang ditemukan meninggal pada Jumat (16/10/2020) lalu, dengan keadaan kepala terpenggal.

Macron menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis” di seluruh dunia

Sontak ajakan boikot Macron dan semua produk Prancis pun menggema di Kuwait dan Qatar.

AFP menyebut sejumlah pekerja jaringan supermarket Al Meera mengeluarkan selai St. Dalfour buatan Prancis dari rak. Melalui pernyataan, Al Meera dan operator grosir lainnya, Souq Al Baladi, mengatakan menarik produk Prancis dari toko sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Al Meera sendiri bersaing dengan supermarket Prancis yang ada di Qatar, Monoprix dan Carrefour.

Sementara itu Prancis mengatakan menarik duta besarnya untuk Turki guna melakukan konsultasi.

Putusan ini diambil setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan koleganya dari Prancis Presiden Emmanuel Macron memerlukan pemeriksaan mental. Prancis mengutuk pernyataan itu dan menyebutnya tidak dapat diterima.

Dalam langkah yang sangat tidak biasa, seorang pejabat kepresidenan Prancis mengatakan bahwa duta besar Prancis untuk Turki dipanggil kembali dari Ankara untuk berkonsultasi dan akan bertemu Macron untuk membahas situasi setelah pernyataan Erdogan.

“Komentar Presiden Erdogan tidak dapat diterima. Perbuatan yang keterlaluan dan kekasaran bukanlah metode. Kami menuntut agar Erdogan mengubah arah kebijakannya karena berbahaya dalam segala hal,” kata pejabat itu, padaMinggu (25/10/2020).

Pejabat yang meminta untuk tidak disebutkan namanya itu juga mengatakan bahwa Prancis telah mencatat tidak adanya pesan belasungkawa dan dukungan dari presiden Turki setelah pemenggalan kepala guru Samuel Paty yang terjadi di luar Paris.

Pejabat itu juga menyatakan keprihatinan atas seruan oleh Ankara untuk memboikot barang-barang Prancis.


Photo Credit: Presiden Prancis Emmanuel Macron. Reuters/Stephanie Mahe

 

Didik Fitrianto