Karir dan Perjalanan ‘gol tangan Tuhan’ Diego Maradona

"Tapi sayang, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Pada 1991, Maradona terkena hukuman larangan bermain selama 15 bulan karena kedapatan menggunakan kokain. Ia pun tak bisa membela Napoli hingga akhirnya memutuskan berpisah dengan klub itu pada 1992."

Karir dan Perjalanan ‘gol tangan Tuhan’ Diego Maradona


Telegraf – Kabar duka datang dari lapangan hijau. Legenda sepakbola dunia, Diego Maradona, meninggal dunia, akibat serangan jantung.

Sebelumnya, pemilik gol ‘tangan Tuhan’ itu sempat menjalani operasi akibat hematoma subdural, yang merupakan gumpalan darah di permukaan otak pada awal November 2020 ini. Operasi yang berlangsung di klinik Olivos, Ipensa Sanatorium di La Plata, Argentina tersebut, berjalan sukses.

Namun sayang takdir berkehendak lain, sang jago gocek di lapangan hijau itu harus menyerah akibat serangan jantung yang dialaminya pada hari Rabu (25/11/2020) kemarin. Ia menghembuskan nafas terakhir di rumahnya di Tigre, Buenos Aires, Argentina, dalam usia 60 tahun.

Meninggalnya Diego Maradona tentu membuat dunia sepakbola berduka. Sebagai pesepakbola, Maradona adalah salah satu yang terbaik di sepanjang masa, sehingga tepatlah ia dijuluki sebagai legenda sepakbola.

Lantas, bagaimana perjalanan karir Maradona di dunia sepakbola sehingga ia menjadi salah satu pesepakbola terbaik dunia?

Ikuti riwayat singkat perjalanan karir pemilik nama lengkap Diego Armando Maradona, pria kelahiran Argentina, 30 Oktober 1960 di bawah ini.

Maradona muda mengawali karier sepakbolanya di klub Argentinos Junior. Saat itu ia bermain untuk tim Argentinos U-18. Pada 1976 ia pun masuk dalam tim inti di skuat utama. Tampil mengagumkan bersama Argentinos, membuat Boca Juniors kepincut lalu merekrutnya pada 1981.

Di Boca Juniors, karir sepakbola Maradona muda semakin kinclong. Di klub keduanya ini ia berhasil mengangkat trofi Liga Argentina untuk pertama kali di debutnya bersama Boca Juniors.

Sukses mengantar Boca Juniors ke strata tinggi Liga Argentina membuat klub raksasa Barcelona asal Spanyol membelinya.

Sepertinya dewi keberuntungan selalu mengiringinya, bermain di klub catalan itu, Maradona juga sukses mengantar Barcelona menjadi jawara di kancah sepakbola Sepanyol dengan berhasil meraih beberapa trofi prestisius, seperti Copa del Rey, Piala Super Spanyol, dan Liga Spanyol. Namun di Barcelona Maradona hanya bertahan selama 2 musim, yakni pada 1982 hingga 1984.

Lepas dari Barcelona di tahun 1984, Maradona pun memutuskan berpetualang ke Liga Italia dan klub yang menjadi tujuannya adalah Napoli. Seperti dengan klub-klub sebelumnya, bermain di klub Napoli pun Maradona kembali banyak meraih sukses. Bermain di Napoli menjadi momen terbaik pemain asal Argentina tersebut berkarir di dunia sepakbola.

Tujuh tahun membela Napoli, Maradona mengantongi 259 pertandingan dan berhasil mencetak 115 gol serta menyumbang 29 assist. Berkat Maradona juga, Napoli sukses menjuarai Liga Italia sebanyak dua kali (1986-1987, 1989-1990), Piala Italia 1986-1987, Piala Super Italia 1990-1991, dan Piala UEFA atau kini disebut Piala Eropa di musim 1988-1989.

Tapi sayang, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Pada 1991, Maradona terkena hukuman larangan bermain selama 15 bulan karena kedapatan menggunakan kokain. Ia pun tak bisa membela Napoli hingga akhirnya memutuskan berpisah dengan klub itu pada 1992.

Selesai menjalani hukuman bermain, Maradona kembali ke Spanyol bergabung dengan klub Sevilla. Di klub ini kariernya pun perlahan meredup. Tak lama di Sevilla, Maradona pindah ke Newells, lalu kena larangan bermain lagi. Terakhir, ia kembali ke klub asalnya, Boca Juniors pada 1995 hingga pensiun di musim 1997.

Demikianlah sepintas perjalanan karir sepakbola Diego Armando Maradona, yang begitu luar biasa. Tak hanya gemilang di level klub, di level Nasional Maradona sempat membawa Argentina meraih gelar juara Piala Dunia 1986. Di final Piala Dunia 1986 itu, julukan ‘gol tangan Tuhan’ disematkan pada dirinya setelah ia berhasil mencetak gol ke gawang Inggris.


Photo Credit: Diego Maradona pada tahun 1986. GETTY IMAGES

 

Didik Fitrianto

close