Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Istirahatlah Kata-Kata Menghadirkan Kembali Wiji Thukul ke Dunia Ini
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Entertainment

Istirahatlah Kata-Kata Menghadirkan Kembali Wiji Thukul ke Dunia Ini

Telegrafi Jumat, 20 Januari 2017 | 18:26 WIB Waktu Baca 7 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf, Jakarta  – “Aku tidak ingin kamu pergi, aku juga tidak ingin kamu pulang, yang aku ingin kamu ada”

Potongan dialog tersebut menutup film tentang penyair Wiji Thukul yang hilang, “Istirahatlah Kata-kata.”

Seperti judulnya, film yang mengisahkan saat-saat di mana Wiji Thukul harus bersembunyi dari kejaran aparat Orde Baru tersebut minim kata-kata. Sang sutradara Yosep Anggi Noen lebih menekankan pada rasa yang dibangun oleh setiap lakon.

Anggi juga menceritakan saat-saat Wiji melarikan diri ke Pontianak selama delapan bulan pasca kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta melalui puisi-puisi Wiji Thukul.

Dia menghubungkan penggalan adegan demi adegan dengan puisi Wiji. Dia menggunakan puisi untuk menggiring penonton ke dalam cerita.

Puisi Wiji dinarasikan oleh pemeran Wiji Thukul, Gunawan Maryanto. Dengan suara mirip Wiji susah untuk melafalkan huruf “r” Gunawan yang merupakan seniman teater asal Yogyakarta itu sukses menjelma sebagai Wiji Thukul.

Tak hanya lewat suara yang terdengar serupa, perawakan Gunawan juga terlihat tak jauh beda. Lebih dari itu, Gunawan bisa dikatakan berhasil menyuguhkan rasa cemas, khawatir, rindu, marah, kecewa yang membelenggu Wiji.

Perasaan cemas dan khawatir sudah dibangun Anggi sejak awal cerita, saat istri Wiji Thukul, Sipon (Marissa Anita), dan anak perempuannya Fitri ditanyai tentang keberadaan Wiji di sebuah tempat yang sepertinya kantor polisi.

Bukan dengan tindakan mengancam atau kata-kata yang mengecam, Anggi justru memvisualisasikan rasa tertekan yang dirasakan Sipon dan anaknya dalam adegan tersebut melalui sebungkus jajanan pasar yang dimakan interogator.

Sangat alami dan manusiawi. Seperti itu Anggi menerjemahkan keresahaan Sipon. Kegelisahaan ditinggalkan seorang suami yang buron dapat diterjemahkan melalui punggung dan tatapan nanar Sipon saat berada di dapur dengan latar suara minyak goreng panas.

Adegan berpindah ke Pontianak saat Wiji melarikan diri dan disembunyikan oleh kawan-kawannya. Lagi-lagi, Anggi mentransferkan rasa takut Wiji tidak melalui kata, melainkan ruang sempit kamar tidur Wiji.

Wiji yang takut dan mengisolasi diri dari dunia luar digambarkan lewat jendela kamar saat dia menutup korden karena takut ketahuan.

Wiji kemudian mulai berani menampakkan diri ke dunia luar yang diperlihatkan Anggi dengan memperluas ruang gerak dengan adegan Wiji duduk di teras rumah sambil berbincang bersama Thomas, seorang dosen yang menyembunyikan Wiji.Wiji semakin berani berkomunikasi dengan dunia luar saat mengasingkan diri ke rumah kawannya Martin (Eduwart Boang) yang juga seorang aktivis asal Medan.

Bersama Martin, Wiji mulai beraktivitas di luar rumah, meski memang masih menyimpan rasa takut terhadap “kacang ijo” (begitu Wiji menggambarkan tentara).

Rasa berani bercampur takut Wiji digambarkan apik melalui tatapan dan tingkah laku serba salah Wiji saat tidak sengaja bertemu dengan seorang tentara saat mencukur rambut.

Wiji kemudian berani nongkrong di kedai kopi pinggir sungai kapuas. Dia juga berinteraksi dengan tetangga sekitar rumah kawannya itu. Dia bahkan berani jalan-jalan berbelanja celana pendek untuk Sipon.

Sebelum tayang perdana di bioskop-bioskop Indonesia pada Kamis (19/1), “Istirahatlah Kata-kata” diputar pertama kali di Locarno International Film Festival ke-69, Swiss, pada Juli 2016.

Film tersebut juga telah diputar di sejumlah festival film dunia, diantaranya Busan International Film Festival, Hamburg Film Festival dan International Film Festival Rotterdam, serta memborong nominasi di ajang bergengsi dan memenangkan sejumlah penghargaan.

Wiji Thukul sendiri memang tak begitu populer di kalangan anak muda Indonesia saat ini. Hal ini justru menjadi alasan Anggi untuk memperkenalkan sosok yang disebutnya memudahkan anak muda memuja senja lewat akun jejaring sosial mereka.

Keluarga dan sahabat Wiji Thukul berharap dengan adanya film ini dapat mengingatkan masyarakat tentang sejarah.

Film tersebut juga diharap dapat menjadi sebuah pengingat dan usaha untuk “menolak lupa” nasib Wiji Thukul dan orang hilang lainnya.

Terlepas dari simpang siur keberadaan Wiji Thukul, bagi Anggi “Wiji ada dan berlipat ganda.”

Thukul adalah seniman sekaligus aktivis. Ia bagian dari mayoritas masyarakat Indonesia dari pulau Jawa yang miskin, tinggal di pinggiran Kota Solo, yang punya cita-cita keadilan bagi seluruh rakyat di negara kepulauan ini. Ia terlibat dalam satu gelombang besar dari semua kalangan—mahasiswa, pemuda, intelektual, seniman, kalangan terdidik, orang-orang terkenal dan orang-orang tanpa nama—dalam organisasi maupun bukan, yang melihat Indonesia saat itu, sebuah negara yang digerakkan oleh rezim otoriter, telah seenaknya diatur untuk menopang kekayaan pribadi dan jaringan kekuasaan Soeharto sejak 1967.

Kekuasaan itu bernama Orde Baru dan ia ditopang oleh istana, tangsi militer, dan partai tunggal penguasa. Kekuasaan ini lahir lewat pembantaian massal pada 1965-1967, dan selama 30 tahun berikutnya menciptakan pola pembangunan dengan membungkam suara kritis lewat pemenjaraan bahkan pembunuhan. Orang seperti Thukul melihat simbol kekuasaan saat itu, Soeharto, harus ditumbangkan.

Momennya krusial. Pada 1997 krisis finansial menghajar Asia. Indonesia-nya Orde Baru, yang bergantung pada modal asing, sempoyongan menghadapi krisis ekonomi tersebut. Nilai tukar rupiah ke dolar empat kali lebih rendah dari tahun sebelumnya. Inflasi meroket, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rupiah terjerembab. Indonesia menghadapi dua agenda politik besar: Pemilu 1997 dan Sidang Umum pada Maret 1998.

Kelompok pro-demokrasi, yang tumbuh pada 1980-an, melihat perlu ada kebebasan politik yang lebih besar.

Thukul dihilangkan pada kurun gelombang protes anti-Orde Baru pada akhir 1990-an itu. Ketika Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, ia tidak terlihat dalam ratusan ribu mahasiswa dan rakyat biasa yang merayakan keruntuhan simbol rezim otoriter itu dengan gegap-gempita. Namanya muncul dalam pemberitaan saat teman-temannya, dan organisasi hak asasi manusia, mulai menyoroti kasus penghilangan secara paksa pada 1997-1998.

Sampai sekarang, bersama 12 aktivis, pemuda, dan mahasiswa lainnya, Thukul tak pernah kembali. Pria berperawakan ceking dengan gigi tonggos dan rambut ikal itu tak pernah dikembalikan oleh negara—institusi yang paling bertanggung jawab untuk menyelidiki kasus ini kepada publik dan terutama bagi keluarga korban.

Saat sebagian besar orang Indonesia membicarakannya, Wiji Thukul adalah nama, tetapi sosoknya sendiri tidak ada. (Red)


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026
Waktu Baca 2 Menit
BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026
Waktu Baca 3 Menit
Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit

Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop

Waktu Baca 2 Menit

Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern

Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Film Ikatan Darah
Entertainment

Ikatan Darah (2026): Film Action Brutal Indonesia, Saat Kamera Ikut Berantem di Layar Lebar

Waktu Baca 3 Menit
Entertainment

Begini Kronologi Kematian Selebgram Lula Lahfah di Apartemennya di Jaksel

Waktu Baca 3 Menit
Entertainment

Blackpink Kembali Bersatu Garap Syuting Video Musik Baru

Waktu Baca 2 Menit
Entertainment

Kecelakaan Motor, Aktor Gary Iskak Meninggal di Usia 52 Tahun di Bintaro

Waktu Baca 3 Menit
Tiara Lupita Ayu Hermanto
Entertainment

Tiara Lupita Ayu, Perempuan Penyulam Reputasi di Industri Musik

Waktu Baca 8 Menit
Entertainment

Identitas Wonosobo Hadir Dalam Pementasan Tari Wayang Bundeng Gepuk

Waktu Baca 3 Menit
Entertainment

Permata Warokka: Saya Bukan Istri Fariz RM, Kami Pernah Saling Mendukung Secara Profesional

Waktu Baca 3 Menit
Entertainment

Mantan Tim Manajemen Beri Dukungan Moril untuk Fariz RM di Sidang Tuntutan Kasus Narkoba

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?