Indonesia Masih Menjanjikan Bagi Prospek Investasi

Indonesia Masih Menjanjikan Bagi Prospek Investasi

“Hal yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengurangi potensi pertumbuhan minus dengan menyelesaikan kompleksitas ekonomi di masa pandemi yang ada di Indonesia seperti belum validnya database milik negara, sisi supply dan demand yang terkontraksi, sektor UKM yang terdampak, serta rendahnya literasi keuangan,”

Indonesia Masih Menjanjikan Bagi Prospek Investasi


Telegraf – Perusahaan konsultan dan audit pajak RSM Indonesia menilai Indonesia masih memiliki prospek investasi yang menjanjikan di mata investor asing. Apalagi, secara umum investor akan berpikir bahwa pandemi Covid-19 akan berlalu atau bersifat sementara sehingga para investor akan melanjutkan rencana usahanya.

“Dari perspektif asing, ada beberapa persepsi yang menjadi pertimbangan seperti kemudahan menjalankan usaha, transparansi dalam menjalankan bisnis, kepastian hukum, kenyamanan investor untuk berinvestasi di Indonesia, seberapa besar pasar, dan keadaan geopolitik. Namun, persepsi tersebut berbeda-beda tergantung negara yang mau berinvestasi,” kata Managing Partner Business Services RSM Indonesia Nicholas James Graham dalam diskusi online bertajuk “Bedah RAPBN 2021: Bagaimana Investor Global Menilai Prospek Investasi di Indonesia”, Selasa (02/09/2020).

Graham mengatakan untuk meningkatkan iklim investasi di Indonesia, pemerintah harus dapat fokus kepada perekonomian yang membutuhkan biaya tinggi seperti logistik, pendanaan para pekerja, regulasi yang baik, dan go digital.

“Selain itu ada baiknya jika menjalankan kerja sama dengan usaha-usaha kecil yang berpotensi berkembang,” ujarnya.

Executive Director Indef Tauhid Ahmad menuturkan, investasi menyumbang sebanyak 30,61% perekonomian Indonesia.

“Untuk menumbuhkan kembali investasi di Indonesia syaratnya adalah penanganan pandemi menjadi prioritas, mengawal implementasi pemulihan ekonomi nasional, pasar keuangan global membaik dan keyakinan investor meningkat, dan memperkuat implementasi program infrastruktur,” katanya.

Direktur Fasilitasi Promosi Daerah BKPM Indra Darmawan menyebutkan, di semester I 2020, realisasi investasi telah mencapai 49,3% dari target Rp 717,2 triliun. Sedangkan hasil investasi tersebut telah menyerap sebanyak 566.194 tenaga kerja.

“Di sini ada agreement bahwa investasi itu penting untuk menjadi pondasi perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Sementara, Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono menyatakan Indonesia memiliki independensi yang tidak dimiliki oleh negara-negara di Eropa. Ia pun menyatakan Indonesia masih bisa bertahan bila tidak melupakan investasi dalam negeri.

“Tidak harus kita mencari investor baru. Yang lama juga punya aset yang bisa reinvest. Tenaga kerja di Indonesia saat ini bersaing dengan pertumbuhan Artificial Intelligent sehingga manusia dapat digantikan dengan robot,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa lapangan kerja dan infrastruktur, serta kepastian hukum juga menjadi pertimbangan utama bagi para investor di Indonesia. Usaha kecil menengah patut dipertimbangkan karena melahirkan peluang usaha baru yang nantinya akan berkembang dan memiliki kontribusi dalam pencegahan krisis di Indonesia.

Sedangkan, Ketua II HIPMI Ajib Hamdani membedah RAPBN 2021 sebagai agregator dan pendorong peningkatan kesejaterahan masyarakat seharusnya menjadi fokus pada masalah perekonomian di Indonesia, yakni kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan atau gini ratio.

“Hal yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengurangi potensi pertumbuhan minus dengan menyelesaikan kompleksitas ekonomi di masa pandemi yang ada di Indonesia seperti belum validnya database milik negara, sisi supply dan demand yang terkontraksi, sektor UKM yang terdampak, serta rendahnya literasi keuangan,” terangnya.


Photo Credit: Sejumlah pekerja konstruksi bangunan sedang menyelesaikan proyek gedung bertingkat. ANTARA

 

A. Chandra S.

close