Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja

Idris Daulat Rabu, 1 April 2026 | 01:51 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Gerakan Hemat Energi
Foto : Budi Rahardjo (doc/Ist)
Bagikan

Telegraf — Di tengah riuhnya wacana publik, ada satu hal yang sering terlewat: ketenangan. Padahal, justru di situlah indikator paling jujur dari kepercayaan bisa dibaca. Belakangan ini, situasi terasa relatif tenang.

Stok BBM aman, stabilitas fiskal terjaga. Tidak ada kepanikan, tidak ada gejolak berarti.

Negara tetap bekerja—dan cukup rapi hingga nyaris tak menimbulkan kegaduhan. Dalam ruang yang tenang itu, pemerintah mulai menyisipkan satu gagasan yang lebih halus: perubahan perilaku. Sebuah upaya menggeser budaya kerja nasional.

Bukan perubahan yang riuh. Bukan pula yang dipaksakan. Tapi yang bergerak pelan, nyaris seperti kebiasaan baru yang tumbuh tanpa disadari. Dari situ, kebijakan Work From Home (WFH) untuk aparatur sipil negara—satu hari dalam sepekan, setiap Jumat—mulai menemukan konteksnya.

Ini bukan sekadar memindahkan meja kerja dari kantor ke rumah. Ini soal cara pandang.

Selama bertahun-tahun, kerja diukur dari kehadiran. Absen jadi simbol disiplin. Kantor jadi tolok ukur produktivitas. Tapi dunia berubah. Teknologi mengubah ritme. Dan negara, mau tak mau, harus menyesuaikan diri.

WFH—kerja dari rumah, bukan work from anywhere—ditetapkan seragam: Jumat. Berlaku untuk pusat dan daerah. Pesannya jelas: ini bukan fleksibilitas tanpa arah, tapi bentuk disiplin yang berbeda.

Kata kuncinya: hemat

Bukan sekadar memangkas biaya operasional atau listrik. Hemat di sini adalah cara berpikir. Cara hidup. Cara bekerja. Sebuah kesadaran bahwa energi—baik listrik, bahan bakar, maupun tenaga manusia—perlu dikelola dengan bijak.

Karena itu, narasi yang dibangun bukan soal krisis. Bukan juga penghematan karena terpaksa. Negara tidak sedang kekurangan. Justru dalam kondisi stabil, ada ajakan untuk naik kelas—dari pola hidup boros yang tak terasa, menuju kebiasaan hemat yang disadari.

Lalu, bagaimana dengan sektor swasta? Imbauan mulai diarahkan ke sana. Ini bisa dibaca sebagai sinyal: dorongan menuju ekosistem kerja yang lebih digital dan adaptif.

Bayangkan satu hari tanpa perjalanan pulang-pergi ke kantor. Jalanan sedikit lebih lengang. Konsumsi BBM turun, mungkin tak drastis. Emisi berkurang, walau tak langsung terasa. Tapi jika dilakukan bersama, konsisten, dan dalam jangka panjang, ini bisa berubah menjadi gerakan.

Baca Juga :  Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda

Gerakan yang tidak berisik, tapi nyata bekerja.

Di titik ini, yang sedang dicoba pemerintah tampaknya lebih besar dari sekadar kebijakan teknis. Ini soal transformasi budaya kerja. Bukan hanya digitalisasi sistem, tapi juga cara berpikir: bahwa kerja tak lagi identik dengan tempat, melainkan dengan hasil.

Tentu, ini bukan tanpa risiko.

Pertanyaan lama pasti muncul: apakah produktivitas akan turun? Apakah layanan publik terganggu? Atau ini sekadar cara halus mengurangi beban negara?

Pertanyaan itu wajar. Justru di situlah pentingnya menjaga arah cerita.

Bahwa yang sedang dibangun adalah kepercayaan. Bahwa kerja diukur dari output, bukan sekadar kehadiran. Bahwa layanan publik tetap berjalan, dengan atau tanpa kehadiran fisik di kantor. Dan bahwa negara bukan mundur, melainkan beradaptasi.

Di sisi lain, ada tantangan yang lebih halus: budaya.

Tidak semua orang siap bekerja tanpa pengawasan langsung. Tidak semua pimpinan siap melepas kontrol yang selama ini terasa konkret. Di banyak tempat, “hadir” masih lebih dihargai daripada “menghasilkan”.

Di sinilah perubahan benar-benar diuji

Transformasi budaya tidak pernah selesai lewat surat edaran. Ia tumbuh dari keteladanan. Dari pimpinan yang berani memberi kepercayaan. Dari sistem yang mampu mengukur kinerja secara adil. Dan dari kebiasaan baru yang perlahan menggantikan yang lama.

Jumat, dalam konteks ini, bukan sekadar hari kerja. Ia menjadi simbol.

Simbol bahwa negara mulai bicara tentang masa depan—dengan cara yang sederhana. Tanpa jargon berlebihan. Tanpa klaim besar. Hanya satu langkah kecil: bekerja dari rumah, seminggu sekali.

Dari langkah kecil itu, arah besar mulai dibentuk.

Menuju cara kerja yang lebih cerdas. Lebih sadar energi. Dan lebih manusiawi.

Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan ini tidak diukur dari berapa banyak pegawai yang bekerja dari rumah. Tapi dari sejauh mana ia mengubah kebiasaan, menggeser cara pandang, dan menanamkan satu nilai yang terdengar sederhana tapi mendasar: hemat.

Karena di masa depan, negara yang kuat bukan hanya yang kaya sumber daya. Tapi yang bijak mengelolanya.


Oleh: Stephanus S Budi Raharjo (Pengamat Sosial)

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kasus Air Keras dan Isu Destabilitas Keamanan Negara, Publik Harus Waspada Soal Perang Informasi
Waktu Baca 5 Menit
Gerakan Hemat Energi
Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja
Waktu Baca 5 Menit
Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda
Waktu Baca 4 Menit
Jogja Food & Beverage Expo 2026 Siap Digelar, Sektor F& B dan Packaging Jadi Masa Depan Industri Manufaktur
Waktu Baca 4 Menit
Narasi ‘Cuci Tangan’ Disorot, Pakar: Proses Masih Berjalan
Waktu Baca 3 Menit

Penyerahan Jabatan Kabais Dinilai Tepat, TNI Jaga Objektivitas

Waktu Baca 3 Menit

Penyerahan Jabatan Kabais TNI Dinilai Jadi Contoh Bagi Institusi Lain

Waktu Baca 4 Menit

Kasus Air Keras Andrie Yunus Dinilai Lebih Tepat Disidangkan di Pengadilan Militer

Waktu Baca 5 Menit

Framing Dinilai Jadi Skenario Ciptakan Ketidakstabilan Politik dan Geostrategis

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Budi Rahardjo
Opini

Presiden Prabowo Mendengar, Indonesia Melangkah: Bebas Aktif di Tengah Pusaran Dunia

Waktu Baca 5 Menit
Foto : Ilustrasi (doc.AI)
Opini

Pernyataan Lama Ketua DPD Kembali Viral, Densus Digital Soroti “Politik Daur Ulang”

Waktu Baca 3 Menit
Opini

Vatikan dan Indonesia di Persimpangan Arsitektur Perdamaian Dunia

Waktu Baca 5 Menit
Foto : Stephanus SBR (Pengamat Sosial) (doc.ist)
Opini

Indonesia ASRI di Tengah Dunia yang Berubah, Oleh: Stephanus SB Raharjo (Pengamat Sosial)

Waktu Baca 4 Menit
Opini

Trump, Indonesia dan Titik Nol Baru

Waktu Baca 16 Menit
Opini

Hak Presiden Atau Cawe-Cawe?

Waktu Baca 7 Menit
Opini

Menyelami “Mens Rea” Polisi

Waktu Baca 8 Menit
Opini

Dua Jalan ke Israel: Gus Dur di Jalur Merpati, Yahya Staquf Meniti Sayap Elang

Waktu Baca 9 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?