Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Fenomena Fantasi Kerakyatan
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Fenomena Fantasi Kerakyatan

Didik Fitrianto Senin, 23 April 2018 | 07:15 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Jokowi ketika blusukan dalam rangka kampanye. REUTERS
Bagikan

Hidup dalam satu situasi kultural yang disebut sebagai fantasi kerakyatan. Fantasi kerakyatan adalah segala hal yang muncul ke permukaan atas nama rakyat, yang eksis adalah rakyat, yang terdominasi dan terhegemoni adalah rakyat. Rakyat menjadi aktor utama, semua atas nama kepentingan rakyat. Akan tetapi, di balik itu, hal terdalam yang sesungguhnya terjadi adalah bekerjanya kapitalisme dalam sifatnya yang subtil.

Kapitalisme adalah semua proses (rangkaian/rentetan) produksi dan reproduksi yang ujungnya adalah keberpihakan atau keuntungan yang didapatkan untuk mereka kelas penguasa yang ‘bersenyawa’ dengan kelas elite dan/atau kelas pemilik modal. Dalam rangkaian atau rentetan produksi dan reproduksi tersebutlah justru rakyat kebanyakan yang menjadi tokoh utama dan sangat berperan dalam sistem tersebut.

Kesadaran Palsu

Pertanyaannya, apakah kita tidak mengetahui situasi itu? Jawabannya, sangat tahu. Inilah yang membedakan apa yang disebut sebagai kesadaran palsu (Marx) dan kesadaran sinis (Slavoj Zizek). Dalam kesadaran palsu, ketika kita melakukan tindakan tertentu, karena ada ideologi tersembunyi bekerja, maka kita seperti tidak sadar melakukannya. Kesadaran sinis adalah kita melakukan sesuatu, sebagai misal kita tahu jika membeli barang mahal (membeli sesuatu di luar fungsi aslinya) itu hanya menguntungkan pihak pemilik modal. Tetapi kita tetap melakukannya.

Kita mulai dari bagaimana rakyat, atau atas nama rakyat, bekerja mendukung fantasi tersebut. Yang paling massal adalah berbagai bentuk demonstrasi. Dari dulu hingga sekarang, berbagai bentuk demonstrasi selalu seolah memberikan keberpihakan pada kepentingan rakyat. Baik di dalamnya bergerak berdasar ideologi tertentu, atas nama ketidakadilan, atas nama demokrasi, dan sebagainya.

Kenyataannya, demonstrasi tidak lebih digerakkan oleh kepentingan elite tertentu yang berusaha ‘mengambil alih’ kekuasaan. Di balik motif atas nama rakyat, hal terselubungnya adalah ada segelintir elite yang juga ingin berkuasa. Hal yang disembunyikan, yakni upaya melakukan investasi modalitas ekonomi, sosial, simbolik, dan kultural (Pierre Bourdieu). Dengan demikian, hal terdalamnya adalah kapitalisasi kuasa.

Hal paradoks adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia seni, seperti sastra, musik, teater, lukisan dan sebagainya. Kadang kita masih memiliki keyakinan bahwa dunia seni seharusnya merupakan praktik yang mampu menegosiasikan ideologi yang berkuasa (dominan) dengan memberi ruang kepada ideologi alternatif. Ideologi alternatif tersebut diharapkan memberi keberpihakan terhadap rakyat.

Baca Juga :  Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Akan tetapi, kenyataannya tidak. Ada ruang kemungkinan yang terjadi. Pertama, ideologi alternatif yang dinegosiasikan berhadapan dengan kapitalisme hanya menjadi bagian dari komoditas, agar karya mendapatkan peluang ekonomi yang tinggi. Kemungkinan kedua, tanpa disadari karya-karya seni tersebut justru menjadi bagian dari rangkaian kapitalisme. Hal itu bisa dibuktikan dengan menggali secara dalam kandungan ideologis karya-karya seni tersebut.

Hal yang muncul ke permukaan adalah karya seni secara langsung menjadi bagian bagaimana produksi dan reproduksi kapitalisasi modal bekerja. Bagaimana pun mereka yang terlibat di dalamnya, senimannya, para broker, kolektor, tidak akan tertarik bekerja pada seni jika seni tidak mampu memberikan kapitalisasi, baik dalam jangka waktu pendek atau panjang. Terdapat modal-modal yang selayaknya mereka dapatkan kembali. Tentu saja terkait dengan upaya transformasi ekonomi dalam pengertiannya yang paling elementer.

Strategi Oposisi

Contoh lain yang juga tidak kalah nyatanya adalah posisi para pengeritik, pengamat, akademisi, bahkan, mohon maaf, para ìpelestariî agama. Para pengeritik secara terselubung menginvestasikan kritiknya dengan melakukan strategi oposisi untuk mengakumulasi modal. Tidak peduli apakah kritiknya akan diperhatikan atau tidak, tetapi para pengeritik justru menikmati kritiknya sendiri.

Tidak terkecuali para akademisi, seolah apa yang dimilikinya merupakan modal yang layak diperjualbelikan. Padahal, hal modal yang dimiliki tidak lebih cuma reproduksi, ambil sana-sini, yang kemudian dikomoditaskan atas nama keilmiahan. Hal yang paling parah adalah para ‘pelestari’ agama, yang seolah kemudian memperjualbelikan agama, atau bahkan yang mempersulit agama agar peran ulama tetap dirasakan penting.

Dalam konteks tersebutlah sebetulnya fantasi ideologis bekerja. Fantasi ideologis adalah satu cara kamuflase tertentu yang menutupi pengetahuan kita terhadap the real. Kita tahu, tetapi fantasi ideologis menyebabkan kita purapura tidak tahu. Karena kalau kita tahu the real yang sesungguhnya, maka tatanan sosial atas nama rakyat tersebut menjadi terbukti hanya hampa.

___________________

Oleh : Dr Aprinus Salam. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial
Waktu Baca 4 Menit
Magang Nasional
Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta
Waktu Baca 3 Menit
vivo Y31d Pro
vivo Y31d Pro Resmi Masuk Indonesia, Andalkan Baterai 7000mAh dan Fast Charging 90W
Waktu Baca 2 Menit
Gindaco - Promo Hari Kartini
Rayakan Semangat Kartini, F&B ID Hadirkan Promo Spesial untuk Perempuan di Seluruh Indonesia
Waktu Baca 6 Menit
BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang
Waktu Baca 2 Menit

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit

Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

The Art Of War Dari Sun Tzu dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Black Swan, Dekolonialisasi dan Tatanan Dunia Baru

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Menilik Campur Tangan Asing Dibalik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

Waktu Baca 6 Menit
Opini

Impeachment dan Dampaknya Terhadap Rakyat Kecil

Waktu Baca 5 Menit
Gerakan Hemat Energi
Opini

Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja

Waktu Baca 5 Menit
Opini

Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda

Waktu Baca 4 Menit
Budi Rahardjo
Opini

Presiden Prabowo Mendengar, Indonesia Melangkah: Bebas Aktif di Tengah Pusaran Dunia

Waktu Baca 5 Menit
Foto : Ilustrasi (doc.AI)
Opini

Pernyataan Lama Ketua DPD Kembali Viral, Densus Digital Soroti “Politik Daur Ulang”

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?