Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Dianggap Pemecah Belah PDIP, Emak-Emak Gelar Aksi ‘Bela Risma’
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Dianggap Pemecah Belah PDIP, Emak-Emak Gelar Aksi ‘Bela Risma’

Hanna Iffah Sabtu, 28 November 2020 | 01:25 WIB Waktu Baca 2 Menit
Bagikan
Photo Credit: Pasangan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) dan Whisnu Sakti Buana (kanan) saat memberikan keterangan pers. ANTARA/Zabur Karuru
Bagikan

Telegraf – Puluhan emak-emak menggelar aksi damai di depan areal Balai Kota Surabaya, Jumat (27/11/2020).

Mercy, salah seorang peserta aksi mengatakan aksi ini adalah bentuk respon terhadap video yel-yel ‘hancurkan Risma’ yang dibuat organisasi Banteng Ketaton Surabaya yang sempat viral di media sosial.

“Kenapa ada narasi seperti itu,” protesnya.

Mercy dan puluhan rekannya menyerukan agar perhelatan Pilkada Surabaya 2020 ini berlangsung damai tidak ada ujaran kebencian.

“Surabaya adalah kota yang mencintai kedamaian,” kata Mercy, salah seorang peserta aksi.

Menurut Mercy, aksinya murni untuk memberikan support kepada Risma yang telah dianggap sebagai Ibunya warga Surabaya. Selain berorasi, peserta aksi itu juga membacakan puisi.

“Semoga mereka sadar bahwa apa yang mereka orasikan yang viral itu segera hapus atau meminta maaf,” katanya.

Sementara itu, Renny Anjani, Kordinator Aksi mengatakan pihaknya meminta agar para oknum tersebut tak lagi menghujat dan menghina Wali Kota perempuan pertama di Surabaya itu.

“Kita masyarakat Surabaya dengan ketulusan hati menikmati buah karya pembangunannya,” terangnya.

Diketahui, sebelumnya beredar video dari warga yang mengenakan kaos Banteng Ketaton Surabaya menyanyikan yel-yel ‘Hancurkan Risma’. Banteng Ketaton menyebut yel-yel itu sebagai bentuk kekecewaan mereka.

Ketua Banteng Ketaton Surabaya, Sri Mulyono Herlambang menyebut bahwa yel-yel itu sebagai bentuk sakit hati dan perlawanan Banteng Ketaton yang menilai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) sebagai pemecah belah PDI Perjuangan (PDIP).

Ditegaskan bahwa maksud dari hancurkan adalah arogansi dan kesewenangannya, bukan menghancurkan secara fisik atau kebijakan yang telah ada di Kota Surabaya.


Photo Credit: Pasangan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) dan Whisnu Sakti Buana (kanan) saat memberikan keterangan pers. ANTARA/Zabur Karuru

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit
Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara

Waktu Baca 11 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?