Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Memperkuat Ketahanan Pangan Saat Pandemi
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Memperkuat Ketahanan Pangan Saat Pandemi

Didik Fitrianto Jumat, 4 September 2020 | 07:47 WIB Waktu Baca 6 Menit
Bagikan
Photo Credit: Food and Agriculture Organization (FAO) sebut Indonesia terus mengalami peningkatan produksi padi yang cukup tinggi, yakni sebesar 54,65 juta ton pada 2020. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga penghasil beras terbanyak di dunia. ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Photo Credit: Food and Agriculture Organization (FAO) sebut Indonesia terus mengalami peningkatan produksi padi yang cukup tinggi, yakni sebesar 54,65 juta ton pada 2020. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga penghasil beras terbanyak di dunia. ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Bagikan

Perbincangan mengenai ancaman krisis pangan di tengah pandemi Covid-19 menjadi diskursus publik yang hangat akhir-akhir ini. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah mengingatkan negara-negara di berbagai benua mengenai ancaman krisis pangan karena terganggunya suplai dan produksi akibat pandemi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memprediksi 30 persen wilayah yang masuk zona musim akan mengalami kekeringan yang berpotensi mengganggu produksi pangan.

Potensi persoalan pangan, terutama beras, menjadi perhatian serius pemerintah. Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet terbatas pada 22 April 2020 telah memberikan instruksi kepada para menteri Kabinet Indonesia Maju agar menjaga stok pangan utama dan menjamin akses pangan yang aman bagi masyarakat.

Dalam urusan pangan, Indonesia memiliki masalah tersendiri. Salah satunya, produksi beras yang terus menurun dari tahun ke tahun. Tabel berikut memberikan gambarannya.

Kementerian Pertanian memperkirakan, total produksi beras nasional pada 2020 mencapai 30.421.661 ton. Sementara itu, dengan jumlah penduduk 269.600.000 jiwa, merujuk Survei Penduduk Antar Sensus 2015, dan konsumsi beras per kapita per tahun 111,58 kilogram, total konsumsi beras nasional pada tahun ini diperkirakan 30.081.968 ton, dengan surplus 339.663 ton.

Data produksi dan konsumsi beras pada 2018 dan 2019 serta perkiraan produksi juga konsumsi pada 2020 menunjukkan tren surplus produksi beras yang menurun. Di sisi lain, untuk menjaga stabilitas dan ketersediaan beras yang aman, stok sebagai persediaan di gudang Bulog harus mencapai 2.000.000 hingga 2.500.000 ton. Selisih surplus produksi beras dengan stok aman untuk menjaga stabilitas itulah yang sering diimpor sebagai cadangan beras pemerintah.

Berdasar perkiraan data empiris yang ada, stok beras memang masih aman sampai akhir Desember 2020. Namun, bagaimana dengan tahun 2021 dan tahun-tahun selanjutnya. Keadaan itulah yang membuat kita harus waspada dan siaga dengan kebijakan, langkah, serta upaya nyata untuk mengantisipasinya.

Sejauh ini, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah dalam menghadapi potensi krisis pangan. Salah satunya dengan mencetak sawah baru yang merupakan solusi jangka panjang dengan belajar dari kegagalan proyek lahan gambut satu juta hektare di Kalimantan Tengah pada 1995 dan program food estate di Papua pada 2008.

Selain solusi jangka panjang, pemerintah perlu menempuh solusi jangka pendek yang tepat dan strategis. Langkah-langkah jangka pendek itu bisa dilakukan dari hulu maupun hilir.

Dari sisi on farm, terdapat beberapa langkah yang perlu ditempuh. Pertama, menjamin ketersediaan sarana produksi pertanian (saprodi) yang baik dan andal. Upayanya, bibit, benih, pupuk, obat-obatan, dan saprodi lainnya disediakan dengan melakukan mekanisasi pertanian.

Baca Juga :  Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Kedua, pemerintah perlu menerapkan manajemen pengairan dengan metode satu sungai dengan satu manajemen. Upaya itu dilakukan terutama dengan pengerukan dan fungsionalisasi waduk atau bendungan yang sudah ada maupun membuat waduk baru sesuai kebutuhan.

Ketiga, perlu diwujudkan research (riset) dan development (R&D) setiap tahun untuk menghasilkan inovasi bibit baru dengan minimal dua varietas unggul (one year two innovation).

Dari sisi off farm, terdapat sejumlah langkah strategis yang perlu ditempuh. Pertama, diperlukan gudang penyimpanan beras yang layak sehingga jauh dari hama seperti tikus dan aman dari perubahan cuaca seperti hujan untuk menjaga gabah maupun beras agar tidak basah.

Kedua, pemerintah perlu memfokuskan pembiayaan/KUR di beras dengan memasukkan setiap gabungan kelompok tani (gapoktan) yang memiliki lahan 200 hingga 300 hektare ke dalam koperasi tani. Pembiayaan KUR Rp 500 juta bagi setiap gapoktan/koperasi tani diberikan untuk membeli alat-alat pertanian seperti rice transplanter, combine harvester, dryer, power thresher, corn sheller dan rice milling unit, traktor, serta pompa air. Pinjaman diberikan dengan bunga 6 persen dan selama lima tahun kembali.

Ketiga, untuk mendorong gairah petani menanam padi, perlu ditetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) dan harga eceran tertinggi (HET) yang realistis. Keempat, memperkuat peran dan fungsi kelembagaan pangan negara sebagai buffer stock beras. Kelima, memanfaatkan teknologi digital dengan mendorong petani menjual berasnya secara e-commerce dan marketplace.

Solusi jangka panjang dan jangka pendek di atas perlu dipadukan dengan pemetaan potensi produk pangan dari tiap-tiap daerah. Dengan begitu, kita memiliki basis data yang sahih mengenai daerah kekurangan beras dan kelebihan beras.

Upaya lain adalah memperkuat dan meningkatkan penggunaan teknologi satelit sebagai penyedia informasi pertumbuhan padi untuk mengetahui data luas tambah tanam (LTT) dan luasan panen secara aktual.

Beras merupakan salah satu kebutuhan dasar yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, menjamin tersedianya beras dalam jumlah dan kualitas yang cukup serta harga yang terjangkau oleh masyarakat merupakan hal pokok yang harus dihadirkan.

Di sisi lain, peningkatan ketahanan pangan yang genuine atau tidak semu dapat memperkuat ekonomi rumah tangga petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Jika dilakukan dengan baik, sistematis, dan berkelanjutan, langkah-langkah dan upaya-upaya di atas diyakini mampu memperkuat ketahanan pangan tanpa melakukan impor. Pendek kata, Indonesia dapat dengan jalan mandiri memberi makan rakyatnya sendiri dengan memacu produksi beras dalam negeri dan siap menghadapi ancaman krisis pangan di tengah pandemi.

_________________________

Oleh: Dr. H. Soekarwo S.H. M.Hum. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit
Dokumen Digital Palsu
Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi
Waktu Baca 3 Menit
Bite Me Sweet
Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia
Waktu Baca 4 Menit
AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat
Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

KPI Social Media 2026: Strategi Baru Biar Konten Makin Naik

Waktu Baca 6 Menit

Aussie Beef Fair Hadir di Jakarta dengan Daging Sapi Premium New South Wales dan Kesempatan Terbang ke Sydney

Waktu Baca 6 Menit

SATSET Belanja Aman Tanpa Khawatir, Lazada Ajak Konsumen Lebih Waspada terhadap Penipuan

Waktu Baca 5 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Waktu Baca 4 Menit
Opini

Permohonan Maaf Kepada Seluruh Rakyat Lebanon

Waktu Baca 13 Menit
Opini

The Art Of War Dari Sun Tzu dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Black Swan, Dekolonialisasi dan Tatanan Dunia Baru

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Menilik Campur Tangan Asing Dibalik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

Waktu Baca 6 Menit
Opini

Impeachment dan Dampaknya Terhadap Rakyat Kecil

Waktu Baca 5 Menit
Gerakan Hemat Energi
Opini

Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja

Waktu Baca 5 Menit
Opini

Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?