Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Mengenang Gus Dur, Merindukan Perdamaian
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Mengenang Gus Dur, Merindukan Perdamaian

Fajri Setiawan Kamis, 1 Februari 2018 | 12:51 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendengarkan pertanyaan wartawan saat menyampaikan Catatan Kritis Akhir Tahun di Jakarta, Selasa (26/12/2006). KOMPAS/Totok Wijayanto
Bagikan

Tanpa terasa 7 tahun Gus Dur telah meninggalkan kita. Rasanya seperti baru kemarin, kita melihat cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyíari itu berada di barisan depan dalam memperjuangkan keadilan, membela nasib orangorang yang telantar dan menjadi pahlawan dalam membumikan nilai-nilai kemanusiaan universal. Begitu lekatnya sumbangsih Gus Dur bagi kemanusiaan dalam memori kita. Sehingga kita selalu mengenangnya dan merindukan.

Mengenang Gus Dur berarti merindukan perjuangan-perjuangannya dalam menegakkan perdamaian. Spirit inilah yang sangat dibutuhkan kita hari ini. Sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama dan ras, tentu saja kita harus belajar kepada Gus Dur. Dalam buku Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2003) yang ditulis Greg Barton dijelaskan bagaimana Gus Dur memperjuangkan nasib kaum minoritas yang ditindas. Juga perhatiannya yang besar terhadap masa depan umat manusia. Lewat media organisasi keagamaan (NU) dan jalur politik (PKB), Gus Dur sebenarnya menebarkan perdamaian. Dan itu dilakukan Gus Dur hingga akhir hayatnya.

Damai di Tengah Perbedaan

Bagi Gus Dur, perbedaan adalah bagian dari rencana besar Tuhan untuk menguji setiap umat manusia apakah mereka sanggup memaknai esensi di balik adanya perbedaan atau pluralitas itu sendiri. Mengingkari pluralitas, dalam berbagai bentuknya, sama halnya dengan mengingkari eksistensi Tuhan. Gus Dur, melalui ide-idenya yang segar, memberikan cara pandang yang luas tentang bagaimana menghargai perbedaan.

Karena itu, fenomena keberagamaan yang keruh dan menyulut terjadinya konflik horizontal sepanjang sejarah umat manusia, dan bahkan masih terjadi hingga kini, adalah implikasi dari cara pandang yang parsial terhadap hakikat pluralitas sebagaimana yang diajarkan Tuhan kepada nabi-nabi-Nya. Agama dipahami sebagai instrumen teologis yang dalam waktu bersamaan mengakui ke-esa-an Tuhan sekaligus mengingkari sunnah-Nya. Sehingga, kelompok-kelompok agama yang berbeda dianggap sebagai the other yang pantas dimusuhi, atau bahkan dilenyapkan dari muka bumi.

Baca Juga :  Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Mengakui ke-esa-an Tuhan dan kemahamutlakan-Nya berarti harus bersiap sedia menerima segala bentuk perbedaan yang terjadi. Itulah yang diajarkan Gus Dur. Menolak keanekaragaman dan menginginkan keseragaman adalah bagian dari penentangan terhadap ketentuanNya. Pola pikir semacam ini masih menguat pada setiap penganut agama. Sehingga, tak pelak cara pandang semacam itu melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang parsial. Bahkan, ayatayat Tuhan yang bertebaran dijadikan justifikasi untuk membenarkan bahwa (hanya) keyakinan kelompoknyalah yang sah dan layak bereksistensi.

Fanatisme keberagamaan, dalam batas-batas tertentu, memang harus dikobarkan. Sejauh hal itu menjadi pelecut dalam meningkatkan keyakinan (iman). Namun demikian, yang berbahaya adalah ketika cara pandang keberagamaan menjelma fanatisme buta, di mana perbedaan dianggap sebagai  ‘racun’ yang dapat meredupkan ajaran Tuhan.

Dalam konteks inilah kita mesti memahami bahwa pluralitas itu adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, kita harus berupaya untuk memaknainya dengan jernih dan bijak sebagaimana diajarkan Gus Dur, bahwa ada nilai-nilai esensial di balik keanekaragaman itu sendiri.

Hakikat Keberagamaan

Hakikat keberagamaan adalah cinta. Setiap nabi yang diturunkan ke muka bumi, dengan membawa kitabnya masing-masing, adalah untuk menebarkan kesejukan yang tidak lain adalah cinta itu sendiri. Fondasi keberagamaan yang tidak dibangun di atas cinta akan mengalami keretakan dan berpotensi menimbulkan klaim-klaim subjektif.

Beragama dengan cinta berarti dengan sepenuh hati berkomitmen menebarkan nilainilai kemanusiaan universal. Mencintai berarti lebih dari sekadar peduli. Cinta itu adalah hakikat keberagamaan yang di dalamnya tidak ada tendensi apa pun kecuali hanya mengabdi kepada Tuhan dengan cara memuliakan saudara-saudara sesama umat manusia, menghargainya, dan menyayanginya dengan penuh cinta.

Itulah yang diperjuangkan Gus Dur sepanjang hidupnya. Semoga kita bisa hidup damai, tenteram dan saling menghormati di tengah perbedaan.

________________________

Oleh : A Yusrianto Elga. Penasihat PPMahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit
Dokumen Digital Palsu
Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi
Waktu Baca 3 Menit
Bite Me Sweet
Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia
Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

KPI Social Media 2026: Strategi Baru Biar Konten Makin Naik

Waktu Baca 6 Menit

Aussie Beef Fair Hadir di Jakarta dengan Daging Sapi Premium New South Wales dan Kesempatan Terbang ke Sydney

Waktu Baca 6 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Waktu Baca 4 Menit
Opini

Permohonan Maaf Kepada Seluruh Rakyat Lebanon

Waktu Baca 13 Menit
Opini

The Art Of War Dari Sun Tzu dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Black Swan, Dekolonialisasi dan Tatanan Dunia Baru

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Menilik Campur Tangan Asing Dibalik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

Waktu Baca 6 Menit
Opini

Impeachment dan Dampaknya Terhadap Rakyat Kecil

Waktu Baca 5 Menit
Gerakan Hemat Energi
Opini

Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja

Waktu Baca 5 Menit
Opini

Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?