Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Menembus Keterbatasan Untuk Meraih Prestasi
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

Menembus Keterbatasan Untuk Meraih Prestasi

A. Chandra S. Sabtu, 17 Desember 2022 | 09:02 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Penyerahan buku kecil berjudul Menembus Keterbatasan diserahkan oleh Ketua Umum PP Special Olympics Indonesia (SOina) Warsito Ellwein kepada Koordinator Pengembangan Koleksi, Direktorat Deposit dan Pengembangan Koleksi, Perpustakan Nasional, Republik Indonesia. TELEGRAF
Penyerahan buku kecil berjudul Menembus Keterbatasan diserahkan oleh Ketua Umum PP Special Olympics Indonesia (SOina) Warsito Ellwein kepada Koordinator Pengembangan Koleksi, Direktorat Deposit dan Pengembangan Koleksi, Perpustakan Nasional, Republik Indonesia. TELEGRAF
Bagikan

Telegraf – Sebuah buku kecil berjudul Menembus Keterbatasan diserahkan oleh Ketua Umum PP Special Olympics Indonesia (SOina) Warsito Ellwein kepada Koordinator Pengembangan Koleksi, Direktorat Deposit dan Pengembangan Koleksi, Perpustakan Nasional, Republik Indonesia, Ramadhani Mubaroq, pada Jum’at (16/12/2022) petang.

Buku kecil itu merupakan kumpulan karya anak-anak bertalenta khusus, atau disabilitas intelektual, anggota SOina. Antologi yang terdiri dari limapuluh karya itu merupakan pertama karya tulis anak-anak bertalenta khusus yang tersimpan di sana. Sebelumnya disabilitas intelektual kesulitan untuk memenuhi kriteria untuk mendapatkan ISBN.

Para penulis berkisah tentang dirinya dan perjuangan mereka hingga dapat meraih penghargaan atas kemenangan di berbagai ajang perlombaan baik lokal maupun internasional. Salah satunya, Kemal M Rizky Avicenna bercerita dengan lancar, kemampuannya bermain bocce dan memainkan alat musik biola serta keikutsertaan dalam Special Olympics Indonesia sejak 2009.

Dalam tulisan berjudul “Biarkan Kami Menang dan Berani Untuk Mencobanya” mahasiswa program inklusi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini, meminta dukungan pemerintah bagi para atlit berkebutuhan khusus. Perjalanan ataupun perjuangan para atlit, termasuk dirinya, untuk mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional bukan hal yang mudah.

Benar, Kemal adalah salah satu sosok anak bertalenta khusus yang mendapat dukungan penuh keluarga dan lingkungannya. Dia menjadi sosok yang tampil penuh percaya diri. Pada kesempatan penyerahan buku itu, Kemal tampil berduet dengan penyanyi Lisa Ariyanto menjadi Master of Ceremony.

Penulis lain Sthepanie Handojo lewat karangan berjudul “Prestasiku” tanpa malu bertutur kegiatannya selama masa pandemic. Dia tak lupa mencantumkan prestasinya sebagai peraih emas cabang olahraga renang di banyak kejuaran di berbagai negara. Penghargaan dari Kemenpora, 28 Oktober 2017, sebagai Atlet Berprestasi pun disebutkan bersama sederet penghargaan lain.

Beberapa penulis lain mengirimkan naskah menarik sebagaimana milik Kemal dan Sthepanie, namun kualitas secara umum tak merata. Karya lain ada yang pendek dan amat sederhana meskipun sang penulis punya prestasi yang mengagumkan di dunia internasional. Hal itu bisa dimengerti.

Kekhususan Anak

Sebagaimana disebutkan dalam pengantar buku ini merupakan pembuktian bahwa setiap anak hadir dengan kekhususan mereka. Keberterimaan orangtua dan keluarga adalah modal bagi anak bertalenta khusus atau disabilitas intelektual untuk berkembang. Bila mereka diberi kesempatan pasti bisa meraih prestasi mesti harus bergelut dengan keterbatasan.
Sudah pasti karya-karya tulis itu tak mudah dihasilkan mengingat keadaan para penulisnya.

Butuh sebuah proses berliku terhitung sejak para pengurus SOina menginisiasi kursus menulis itu. Menurut Herlina Kristianti, inisiator sekaligus editor, pada awalnya dia bertindak sebagai pembimbing. Lewat komunikasi siber, baik pertemuan via Zoom maupun WhatsApps, para peserta dibimbing untuk menuangkan ide secara tertulis.

“Ini tak mudah, karena ketika mereka mendengar kata prestasi saja sulit memahaminya,” ujarnya.

Untuk itu para pembimbing beserta orang tua yang menyertainya mencari jalan agar peserta bisa mengerti apa yang dimaksud dengan prestasi. Setelah berhasil barulah peserta bisa bertutur apa saja yang telah mereka capai selama ini dan bagaimana upaya atau perjuangan untuk mencapainya.

Butuh waktu tiga bulan bagi para peserta untuk menyelesaikan karyanya dan mengirim kepada editor. Tak semua bisa menyelesaikan dua topik yakni perjuangan meraih prestasi dan profil penulis sendiri. Hambatan teknis juga muncul. Tak semua memiliki komputer sehingga pembimbing memberi toleransi peserta menuliskannya pada kertas. Hasilnya dikirim lewat telepon pintar kepada editor. Sebagian lagi hanya bisa menuangkannya dalam gambar karena tidak mampu menulis.

Menurut Herlina para orangtua amat terkejut melihat hasil penerbitan buku ini. Kendati sejak awal mereka antusias membantu anak-anaknya untuk mengikuti kursus menulis, seperti hasil akhir tak pernah terbayangkan.

Tuntutan untuk bersabar dan mengerti kondisi peserta kursus amat tinggi mengingat kondisi pandemi yang juga mempengaruhi mental mereka.

“Kadang ada yang menghubungi kami lewat tengah malam, untuk menyampaikan idenya menulis,” ujar Herlina.

Pesan seperti itu, tentu mesti segera direspon agar idea itu tidak hilang. Koleksi baru Perpustakaan Nasional ini merupakan sesuatu yang istimewa. Para orangtua para penulis pun takjub.

Saat awal mendapat tawaran ikut kursus menulis mereka tak percaya anak-anak mereka akan mampu. Menulis dipandang sebagai aktifitas sulit dan hanya akan dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tingkat daya pikir yang tinggi. Sedangkan anak-anak mereka berada di posisi sebaliknya.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial
Waktu Baca 4 Menit
Magang Nasional
Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta
Waktu Baca 3 Menit
vivo Y31d Pro
vivo Y31d Pro Resmi Masuk Indonesia, Andalkan Baterai 7000mAh dan Fast Charging 90W
Waktu Baca 2 Menit
Gindaco - Promo Hari Kartini
Rayakan Semangat Kartini, F&B ID Hadirkan Promo Spesial untuk Perempuan di Seluruh Indonesia
Waktu Baca 6 Menit
BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang
Waktu Baca 2 Menit

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit

Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?