Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Menjamurnya Industri Survei, Asosiasi Diminta Turun Gunung
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Menjamurnya Industri Survei, Asosiasi Diminta Turun Gunung

Didik Fitrianto Rabu, 16 Maret 2022 | 05:14 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Photo Credit : Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Public Intitute (IPI) Karyono Wibowo. TELEGRAF
Photo Credit : Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Public Intitute (IPI) Karyono Wibowo. TELEGRAF
Bagikan

Telegraf – Belakangan ini semakin banyak lembaga survei yang merilis hasil survei terkait tokoh-tokoh untuk pemilihan presiden 2024. Hasil survei sejumlah lembaga nyaris ada perbedaan dari elektabilitas masing-masing tokoh yang sangat mencolok.

Demikian disampaikan pengamat politik Karyono Wibowo, dalam keterangan kepada Telegraf, Selasa, (16/03/2022).

Karyono mengaku tidak heran dengan menjamurnya lembaga survei akhir-akhir ini. Sebab, ini sudah memasuki musim pemilihan umum, di mana setiap musim pemilu selalu muncul lembaga survei dadakan. Hal ini disebabkan karena semakin terbukanya kebebasan berpendapat yang memberikan ruang bagi siapa saja untuk melakukan survei.

Namun, dirinya menyayangkan terjadinya karut marut hasil survei belakangan ini, yang menurutnya disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kata dia, terjadinya simbiosis mutualisme antara aktor-aktor politik dengan lembaga survei yang saling menguntungkan.

Kedua, iklim kompetisi politik yang semakin terbuka (liberal) menciptakan peluang industri baru lembaga survei yang juga saling berkompetisi. Kemudian yang ketiga, adanya keyakinan aktor politik bahwa hasil survei bisa mempengaruhi opini publik dan preferensi pemilih.

“Padahal, hasil survei perilaku pemilih membuktikan bahwa hasil survei elektabilitas yang dipublikasikan tidak berpengaruh signifikan terhadap pilihan masyarakat terhadap kandidat. Justru yang berpengaruh signifikan yakni faktor kebribadian (personality), rekam jejak positif, success story, kapabilitas, kompetensi, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) ini lantas menyoroti hasil jajak pendapat yang dirilis Lembaga Survei Jakarta (LSJ). Dari segi urutan capres potensial, kata Karyono, hasil jajak pendapat LSJ menempatkan posisi elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto di peringkat pertama dalam kontestasi pilpres masih bisa dipertanggungjawabkan dalam kaedah survei.

Namun, jika dicermati dari persentasenya, antara elektabilitas Prabowo dengan Ganjar, dan antara Ganjar dengan Anies, menunjukkan perbedaan cukup signifikan dengan hasil survei yang dirilis lembaga survei lain.

“Banyak hasil survei yang bisa diperbandingkan dengan hasil LKJ. Tetapi untuk mempermudah, dirinya mengambil satu hasil survei sebagai contoh, yakni dengan membandingkan hasil survei LKJ dengan hasil survei yang jarak waktunya dan jumlah sampelnya tidak terpaut jauh, yakni Litbang Kompas,” imbuhnya.

Dari segi waktu pelaksanaan, hanya selisih kurang lebih 1 (satu) bulan. Survei LKJ dilakukan pada Februari, sementara Litbang Kompas melakukan survei pada Januari 2022. Jumlah sampel LKJ 1225. Sedangkan Litbang Kompas menggunakan sampel 1200 responden.

Tetapi hasilnya, lanjut Karyono, ada selisih elektabilitas yang mencolok. Utamanya elektabilitas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dijelaskan, pada survei Litbang Kompas elektabilitas Ganjar 20,5 persen. Sementara hasil survei LKJ elektabilitas Ganjar hanya 16,3 persen. Dengan itu, kata Karyono, nampak ada jarak yang jauh.

Sedangkan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam survei Litbang Kompas elektabilitasnya 14,2 persen, di survei LKJ memang tidak terlalu jauh selisihnya dengan Litbang Kompas, yakni 15,6 persen.

Begitu pula dengan elektabilitas Prabowo yang tidak bergeser jauh antara hasil survei LKJ dengan Litbang Kompas, yaitu pada hasil survei Litbang Kompas elektabilitas Prabowo 26,5 persen, sementara berdasarkan survei LKJ 27,2 persen.

“Dari analisis tersebut masyarakat bisa menyimpulkan sendiri, mana hasil survei yang dapat dipercaya,” paparnya.

Sedangkan soal elektabilitas Dedi Mulyadi yang lebih tinggi dari Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, kata dia, mungkin bisa disebabkan karena Dedi pernah memimpin suatu daerah, yakni menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Jawa Barat, dua periode dan pernah menjadi calon wakil Gubernur Jawa Barat, di Pilgub Jabar, dan cukup populer kala itu. Dengan sederet posisi itu, kata Karyono, setidaknya Dedi sudah memiliki modal sosial dan rekam jejak dalam kontestasi elektoral dibanding Airlangga.

Karyono mendorong agar sengkarut hasil survei ini menjadi perhatian lembaga asosiasi seperti Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) dan Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepsi) untuk melakukan pengawasan, penertiban, audit data, peringatan, sanksi dan memberikan pendidikan kepada lembaga survei yang tidak memenuhi kaedah ilmiah.

“Sekarang saatnya AROPI dan PERSEPI segera bertindak,” pungksnya.

Photo Credit : Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Public Intitute (IPI) Karyono Wibowo. TELEGRAF
Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit
Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara

Waktu Baca 11 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?