Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Alasan Nadiem Hapus UN: Sekolah Negeri Isinya Anak Kaya
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

Alasan Nadiem Hapus UN: Sekolah Negeri Isinya Anak Kaya

Yuliana Minggu, 13 Desember 2020 | 17:26 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Photo Credit : Mendikbud Nadiem Makarim. FILE/Kemendikbudristek
Photo Credit : Mendikbud Nadiem Makarim. FILE/Kemendikbudristek
Bagikan

Telegraf, Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pada hari jum’at (11/12) dalam siaran langsung bersama aktor Iqbaal Ramadhan di akun Instagram pribadinya. Pada obrolan yang masih bisa disaksikan di sini, Nadiem dan Iqbaal ngobrol panjang lebar, salah satunya perihal terobosan Kemendikbud era Nadiem menghapus Ujian Nasional (UN) yang, mengutip istilah Nadiem, malah jadi “instrumen diskriminasi”.

Mengutip dari Vice, Nadiem mengawali perbincangan seputar polemik UN dengan menyebut hasil Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang memperlihatkan bagaimana masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi mayoritas bersekolah di sekolah negeri, sedangkan masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah malah menuntut ilmu di sekolah swasta. Nadiem kaget karena hasil ini mematahkan persepsi publik bahwa sekolah swasta identik dengan siswa kaya. Pemicu semua ini terjadi? UN.

“Itu terjadi karena UN. Semua anak-anak yang dapat UN tinggi bisa masuk sekolah negeri, yang enggak dapet harus masuk sekolah swasta. Anak-anak yang bisa dapet UN tinggi itu anak-anak yang orang tuanya mampu bimbelin anaknya untuk dapat nilai lebih tinggi. Orang tua yang enggak punya uang untuk bimbelin anaknya ya enggak masuk. Lucu kan?” ujar Nadiem.

“Suatu hal [UN] yang tadinya untuk kebaikan, malah jadi instrumen diskriminatif yang luar biasa. Itu kita hilangkan, enggak ada lagi. Sekarang [jadinya] Asesmen Nasional.”

Latar belakang tersebut menjadi dasar Nadiem mengganti UN menjadi Asesmen Nasional (AN). Terobosan ini diharap Nadiem bisa menyelesaikan masalah sebab AN enggak bisa dipelajari di bimbingan belajar. Dalam AN, hanya beberapa siswa yang akan diuji sebagai sampling untuk melakukan evaluasi. Itu pun bukan dilakukan pada murid, melainkan terhadap kualitas pengajaran yang dilakukan di sekolah masing-masing.

Logika UN toxic ini disepakati Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Retno Listyarti. Desember silam, Retno menyoroti bagaimana siswa kaya memang mampu membayar bimbel, memiliki nilai UN tinggi, dan bebas memilih sekolah negeri mana pun.

Di sisi lain, Retno mengkritik kebijakan Nadiem yang malah mengurangi jatah warga sekitar pada sistem zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) dari 80 persen menjadi 50 persen. Retno menganggap, jatah keluarga kurang mampu di sekitar sekolah unggulan jadi berkurang. “Pemerintah wajib menambah jumlah sekolah negeri, bukan menurunkan persentase zonasi murni,” kata Retno kepada Tempo.

Belum fair memang kalau pengin langsung melihat dampak reformasi Nadiem terhadap pemberantasan kesenjangan pendidikan. Hasil itu kayaknya pun masih jauh mengingat Nadiem merenovasi sistem satu demi satu. Berkaca dari proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020, penghapusan UN membuat Jawa Tengah, misalnya, malah menerapkan penerimaan berdasarkan nilai rapor siswa mulai semester 1-5.

Artinya, yang dilihat tetap nilai. Kalau ngomongin nilai, meminjam logika Nadiem, para siswa kaya masih punya keunggulan privilese. Pada konteks ini, penghapusan UN jelas enggak menyelesaikan masalah utama.

Kebijakan penghapusan UN sendiri enggak sepenuhnya diterima dengan lapang dada oleh praktisi pendidikan. Kepala Sekolah SMAN 1 Jakarta Masayu Yuliana berharap pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan penghapusan UN sebab menurutnya berguna untuk memetakan mutu pendidikan.

“UN itu kan untuk pemetaan, seberapa mutu pendidikan, bukan hanya di Jakarta tapi juga di pelosok-pelosok, daerah terkecil,” ujar Masayu kepada BBC Indonesia.


Photo credit : Nadiem Makarim. Kemdikbud.go.id


 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial
Waktu Baca 4 Menit
Magang Nasional
Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta
Waktu Baca 3 Menit
vivo Y31d Pro
vivo Y31d Pro Resmi Masuk Indonesia, Andalkan Baterai 7000mAh dan Fast Charging 90W
Waktu Baca 2 Menit
Gindaco - Promo Hari Kartini
Rayakan Semangat Kartini, F&B ID Hadirkan Promo Spesial untuk Perempuan di Seluruh Indonesia
Waktu Baca 6 Menit
BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang
Waktu Baca 2 Menit

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit

Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?