Waspada Lonjakan Penularan Virus Covid-19 di Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H

"Tantangannya adalah adanya kasus baru kembali karena saat ini akan menghadapi bulan Ramadhan dan Idul Fitri kita harus siaga yang diperkirakan akan adanya kasus baru, kita tidak boleh lengah untuk itu,"

Waspada Lonjakan Penularan Virus Covid-19 di Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H


Telegraf – Pandemi Covid -19 sudah memasuki bulan ke 12, tetapi menurut data yang di terima penularan masih cukup tinggi per 26/3/21 per hari masih diatas 3000 penularan. Walaupun sudah terbantu dengan vaksin baik untuk tenaga kesehatan (Nakes) dan masyarakat. Nakes masih harus terus waspada dan mengantisipasi lonjakan penyebaran kasus baru yang akan terjadi mejelang Ramadhan dan Idul Fitri 1442H.

“Tantangannya adalah adanya kasus baru kembali karena saat ini akan menghadapi bulan Ramadhan dan Idul Fitri kita harus siaga yang diperkirakan akan adanya kasus baru, kita tidak boleh lengah untuk itu,” ungkap Satinah, S.Kep, Ners, M.Kep, Kepala Bidang Keperawatan RSUP Persahabatan dalam giant webinar bertajuk Perawat Tangguh, Indonesia Bebas Covid-19, Masyarakat Sehat, yang di selengarakan oleh RS Premier Bintaro dengan IKAMARS, PPNI, RSUP Persahabatan, dan STIKES Pertamedika Jakarta, Minggu (28/3).

Satinah menjelaskan beban mental psikologis staf keperawatan juga merupakan tantangan karena 12 bulan bukan waktu yang sebentar untuk merawat pasien Covid-19, sehingga bisa jadi nakes sudah kelelahan yang berdampak pada penurunan imunitas.

Selain menjaga mental staf keperawatan melalui pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) RSUP Persahabatan juga menyediakan fasilitas dan sarana prasarana harus apakah layak atau tidaknya untuk membuka satu arean pelayanan Covid.

“Bukan saja SDM-nya saja tetapi failitas dan saranannya juga harus di penuhi sehingga sebelum kita membuka satu arena pelayanan covid RS Persahabatan memberikan suatu kebijakan dimana dalam pengelolaan SDM melalui screning dan Medical Check Up (MCU) apakah bener bener keperawatan yang kakan terjun untuk memberikan pelayanan kesehatan ini layak untuk pelayanan covid atau tidak, apakan kami memiliki komorbit atau tidak. Sementara untuk fasilitas, prasarana kami bekerjasama dengan Komite Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI) sehingga PPI yang merekomendasikan apakah ruangan tersebut layak untuk pelayanan covid atau tidak,” jelas Satinah.

Baca Juga :   11 Saksi Korupsi Asabri Diperiksa Kejagung

Ia juga mengungkapkan bekerjasama dengan harmonisasi antara staf satu dengan yang lain sangat mendukung untuk memberikan pelayanan pasien covid yang optimal, karena tanggungjawab bukan hanya kepada managemen bukan hanya kepada profesi tetapi juga tanggungjawab kepada Tuhan.

Di waktu yang sama Rosdelima Simarmata,BN, SE, MARS, Manager Keperawatan RS Premier Bintaro menerangkan selama pandemi Covid-19, RS Premier Bintaro melakkan beberapa hal, antara lain, pembaharuan regulasi, pengaturan alur pelayanan, pengelolaan SDM keparawatan, supervisi keperawatan dan sebagainya.

“Pengaturan alur pelayanan dilakukan dengan adanya pembagian zona yakni zona hijau untuk pasien yang tidak terpapar Covid-19. Zona grey untuk pasien yang masih menunggu hasil PCR dan zona merah untuk pasien yang positif Covid-19,” ungkap Rosdelima.

Pengelolaan SDM keperawatan dilakukan karena kebutuhan tenaga perawat di masa pandemi sangat tinggi. dengan cara screnning di dalam dan luar gedung untuk tenaga kesehatan serta melakukan vaksinasi untuk seluruh perawat yang hingga saat ini sudah mencapai 79 persen.


Photo Credit: Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. XINHUA

 

Atti K.

close