Situasi Semakin Kacau Puluhan Orang Tewas di Myanmar

"Namun demikian, pada saat yang sama, menghormati dan menjalankan prinsip dan nilai - lain dalam Piagam ASEAN, termasuk demokrasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah sama pentingnya. Saya ulangi, sama pentingnya,"

Situasi Semakin Kacau Puluhan Orang Tewas di Myanmar


Telegraf – Sedikitnya 11 orang tewas dalam rangkaian bentrokan berdarah antara aparat keamanan dan demonstran yang menentang kudeta militer di Myanmar, hari Rabu (03/03/2021).

Kematian dilaporkan namun belum dapat dipastikan di Mandalay, Monywa dan Myingyan.

Para saksi mata mengatakan tentara melepaskan tembakan tanpa peringatan.

Unggahan di media sosial menunjukkan seorang anak laki berusia 14 tahun meninggal karena luka tembak. Satu orang dilaporkan meninggal di kota terbesar Yangon ketika beberapa aksi unjuk rasa di seluruh Myanmar berubah menjadi kekacauan.

Myanmar gempar sejak 1 Februari lalu, ketika militer melancarkan kudeta dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Kudeta militer mengakhiri eksperimen selama satu dekade negara itu dengan demokrasi dan memicu protes massal setiap hari.

Banyak aksi unjuk rasa dibubarkan secara paksa dengan menggunakan tembakan gas air mata.

Seruan untuk menahan diri dari negara-negara tetangga Myanmar dan pemerintahan lain tampaknya tidak dindahkan oleh pemerintah junta militer.

Banyak korban mengalami luka di bagian kepala dan dada dan mereka yang meninggal menunjukkan bahwa tentara dan polisi menembak untuk membunuh demonstran peserta aksi perlawanan terhadap kudeta militer itu.

Sementara itu, tekanan dari dunia internasional meningkat. Kekuatan Barat telah berulang kali menghantam para jenderal dengan sanksi dan pemerintah Inggris telah menyerukan pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB pada Jumat (05/03/2021) besok.

Selain menentang kudeta, para demonstran juga menuntut dibebaskannya Aung San Suu Kyi. Getty Images

Demonstran menuntut dibebaskannya Aung San Suu Kyi. Getty Images

Tetapi junta telah mengabaikan kecaman global, menanggapi pemberontakan dengan kekuatan yang meningkat. Anggota keamanan junta kembali menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran pada Rabu.

Militer juga telah mengenakan tuduhan kriminal enam jurnalis yang ditahan. Dakwaan tersebut dapat membuat mereka menghabiskan hingga tiga tahun penjara jika terbukti bersalah.

Seruan ASEAN Tak Didengarkan Militer

Bentrokan berdarah ini terjadi sehari setelah organisasi negara-negara Asia Tenggara, ASEAN, menyerukan semua pihak untuk menahan diri.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi meminta Myanmar untuk “membuka pintu” bagi ASEAN dalam upaya mencari penyelesaian situasi di negara itu “yang mengkhawatirkan”.

Retno mengatakan dalam jumpa pers virtual bahwa ia menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan informal antara para menteri luar negeri ASEAN yang dilakasanakan secara online pada Selasa (02/03) untuk membahas situasi di Myanmar.

“Menghormati prinsip non-interference (tak campur tangan) adalah wajib. Dan dalam pernyataan tadi saya sampaikan bahwa saya yakin tidak ada satu pun negara anggota ASEAN, yang memiliki intensi untuk melanggar prinsip non-interference,” kata Retno terkait pertemuan informal secara virtual antara para menteri luar negeri ASEAN pada Selasa (02/03) untuk membahas situasi di Myanmar.

“Namun demikian, pada saat yang sama, menghormati dan menjalankan prinsip dan nilai – lain dalam Piagam ASEAN, termasuk demokrasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah sama pentingnya. Saya ulangi, sama pentingnya,” imbuhnya.

Sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu, protes besar terus berlanjut menentang kudeta dan dibebaskannya pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Retno Marsudi menekankan pentingnya seluruh negara anggota ASEAN untuk menghormati nilai-nilai dan prinsip-prinsip blok regional dalam sebuah keutuhan.

“Menghormati prinsip non-interference, adalah wajib. Dan dalam pernyataan tadi saya sampaikan bahwa saya yakin tidak ada satu pun negara anggota ASEAN, yang memiliki intensi untuk melanggar prinsip non-interference,” kata Retno.

Tentara dan polisi meningkatkan penggunaan kekerasan dengan tidak hanya memakai peluru tajam, juga menggunakan meriam air, peluru karet.

Namun demikian, pada saat yang sama, menghormati dan menjalankan prinsip dan nilai lain dalam Piagam ASEAN, termasuk demokrasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia, good governance, rule of law, dan constitutional government adalah sama pentingnya,” terangnya.

Ia menyampaikan kepada media pernyataan yang ia berikan dalam acara pertemuan informal antara para menteri luar negeri ASEAN yang dilaksanakan secara virtual pada Selasa (02/03) untuk membahas dan mencari penyelesaian atas situasi di Myanmar.

“It takes two to tango (dibutuhkan dua pihak untuk bekerja sama). Keinginan dan niat baik ASEAN untuk membantu tidak akan dapat dijalankan jika Myanmar tidak membuka pintu bagi ASEAN,” tegasnya.

Dalam rapat itu, Retno menyampaikan keprihatinan Indonesia atas perkembangan situasi di Myanmar yang ia sebut dapat mengancam perdamaian dan keamanan kawasan jika tidak diselesaikan dengan baik.

“Indonesia sangat prihatin melihat meningkatnya kekerasan di Myanmar yang telah memakan korban. Situasi ini sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Petugas medis membawa pergi pengunjuk rasa yang terluka di Dawei. REUTERS

Petugas medis membawa pergi pengunjuk rasa yang terluka di Dawei. REUTERS

Penahanan Suu Kyi dan Penembakan Pada Demonstran

Aung San Suu Kyi sendiri untuk pertama kalinya terlihat Senin (01/03), sejak dia ditahan awal Februari lalu.

Suu Kyi, yang muncul di pengadilan melalui tautan video, tampak dalam “keadaan sehat” dan meminta untuk bertemu dengan tim kuasa hukum, kata pengacaranya.

Dia ditahan di lokasi yang dirahasiakan sejak kudeta 1 Februari.

Aparat keamanan menembaki para pengunjuk rasa menewaskan setidaknya 18 orang, menurut organisasi HAM PBB, menjadikan aksi protes hari Minggu (28/02) sebagai yang paling banyak memakan korban sejak kudeta militer pada 1 Februari.

Baca Juga :   10 Diplomat Rusia Diusir Dari AS

Tiga kota di Myanmar tengah menyaksikan tindakan keras berdarah terhadap pengunjuk rasa oleh pasukan keamanan pada Rabu. Pihak berwenang di Monywa, wilayah Sagaing, mencatat jumlah kematian tertinggi dengan setidaknya tujuh korban jiwa.

“Yang bisa kami konfirmasikan adalah tujuh orang telah meninggal,” kata seorang dokter darurat, yang menolak menyebutkan namanya.

Beberapa petugas medis juga mengatakan telah melihat dua orang lainnya diseret oleh pasukan keamanan, meskipun mereka tidak bisa cukup dekat untuk memastikan apakah keduanya telah meninggal.

Di wilayah tetangga, Mandalay yang adalah kota terbesar kedua di Myanmar, dua pengunjuk rasa tewas menurut konfirmasi seorang dokter kepada AFP. Ia menambahkan, salah satu korban berusia 19 tahun dan ditembak di kepala.

Protes di Myingyan berubah mematikan ketika pasukan keamanan mengerahkan gas air mata, peluru karet, dan peluru tajam melawan pengunjuk rasa. Demonstran membawa perisai merah buatan sendiri yang dihiasi dengan lambang tiga jari, simbol perlawanan untuk gerakan anti-kudeta.

Beberapa petugas medis memastikan seorang pemuda ditembak mati. “Zin Ko Ko Zaw, 20 tahun, ditembak mati di tempat,” kata seorang anggota tim penyelamat kepada AFP, seraya menambahkan bahwa timnya telah merawat 17 orang dari protes itu.

Tujuan Demokrasi

Media lokal di negara bagian Kachin utara juga melaporkan adegan kekerasan serupa, menerbitkan gambar polisi menindas pengunjuk rasa di Hpakant.

“Beberapa terkena peluru karet dan beberapa mati lemas karena gas air mata,” ujar seorang dokter kepada AFP, yang mengatakan rumah sakit pribadinya merawat 10 orang terluka.

Dua orang yang terluka parah, satu tertusuk di dada dan lainnya di leher, harus dibawa ke rumah sakit ibu kota negara bagian itu dengan jarak sekitar empat jam perjalanan.

Bagian dari pusat komersial Yangon diubah, dengan demonstran menggunakan ban darurat dan barikade kawat berduri untuk memblokade jalan-jalan utama.

Di dekat persimpangan Pagoda Sule yang terkenal, pengunjuk rasa menempelkan cetakan wajah pemimpin junta Min Aung Hlaing di tanah. Taktik itu bertujuan memperlambat pasukan keamanan yang akan menghindari berdiri di potret tersebut.

Di San Chaung, yang telah menjadi lokasi bentrokan hebat dalam beberapa hari terakhir, gas air mata dan awan pemadam kebakaran memenuhi jalan-jalan ketika polisi anti-huru hara menghadapi pengunjuk rasa. Sementara bentrokan di pinggiran Yangon menyebabkan sedikitnya 19 orang terluka.

“Beberapa tertembak peluru karet. Kami harus memindahkan satu orang ke rumah sakit untuk operasi karena peluru karet mengenai kepalanya,” ungkap seorang pejabat kepada AFP.

Minggu (28/2) tetap menjadi hari paling berdarah sejak pengambilalihan militer. Perwakilan PBB mengatakan, sedikitnya 18 demonstran tewas di seluruh negeri.

Di Dawei pada Rabu, satu dari empat korban tembakan dari akhir pekan lalu telah dikremasi. Para pelayat memegang karangan bunga dan potret Lwin Lwin Oo (33) saat pembawa peti mati, diapit oleh ratusan nyanyian.

“Kami bersatu, ya kami, demokrasi adalah tujuan kami,” serunya.

Aksi protes di kota terbesar Yangon pada hari Minggu (28/02/2021). REUTERS

Jurnalis Ikut Didakwa

Kekerasan Rabu terjadi setelah berita bahwa enam jurnalis Myanmar akan didakwa berdasarkan undang-undang yang melarang menyebabkan ketakutan, menyebarkan berita palsu, atau membuat marah pegawai pemerintah secara langsung atau tidak langsung. Laporan ini disampaikan pengacara mereka, Tin Zar Oo.

Di antara mereka adalah fotografer Associated Press (AP) Thein Zaw, yang ditangkap pada Sabtu (27/02) saat meliput demonstrasi anti-kudeta di Yangon. Sementara lima jurnalis lainnya berasal dari Myanmar Now, Myanmar Photo Agency, 7Day News, media Zee Kwet Online, dan seorang pekerja lepas.

Hukuman maksimum untuk pelanggaran tersebut telah ditingkatkan dari dua tahun menjadi tiga tahun, menyusul amandemen yang dibuat oleh junta bulan lalu setelah mengambil alih kekuasaan.

Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), lebih dari 1.200 orang telah ditangkap sejak kudeta. Sekitar 900 orang masih di balik jeruji besi atau menghadapi tuntutan.

Tetapi jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, dengan media yang dikelola pemerintah melaporkan lebih dari 1.300 orang ditangkap pada Minggu saja. Pada Selasa (02/03), media melaporkan sekitar 500 orang telah dibebaskan di Yangon.

Beberapa tetangga regional Myanmar telah mengecam kudeta tersebut. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pekan ini mengatakan, kembalinya negara itu ke pemerintahan militer adalah langkah tragis yang sangat besar.


Photo Credit: Pengunjuk rasa anti junta militer di Myanmar lari dari gas air mata yang ditembakkan oleh polisi selama demonstrasi di Yangon pada hari Senin, (01/03/2021). Setidaknya 18 orang tewas selama akhir pekan karena polisi Myanmar dilaporkan menggunakan amunisi peluru tajam langsung terhadap pengunjuk rasa. GETTY IMAGES

A. Chandra S.

close