Secercah Harapan Perjuangan Istri Bela Suaminya

Harapan mendapatkan keadilan yang diimpi-impikan Elly Nurdiana, sang istri mulai menemukan secercah titik terang manakala hakim Pengadilan Negeri Denpasar Bali yang mengadili perkara yang menimpa suaminya, dinilainya independen dan bertindak sangat adil.

Secercah Harapan Perjuangan Istri Bela Suaminya

Telegraf, Denpasar – Elly Nurdiana, seorang ibu rumah tangga dari Bali, tanpa kenal menyerah berjuang menuntut keadilan. Hari demi hari ia terus mengupayakan agar suaminya I Made Anom Antara bisa diputus bebas alias tidak bersalah di hadapan majelis hakim.

Berawal dari masalah bisnis, entah kenapa Made Anom tiba-tiba dijebloskan oleh mitra usahanya ke penjara dengan tuduhan penipuan. Padahal dalam bisnis tersebut Made Anom menjaminkan tanahnya dan kini tanah harta kekayaannya dijual oleh mitra usaha yang menjebloskannya ke penjara.

Selain telah kehilangan hak tanah yang menjadi harta harapan hidupnya, kini hari demi hari Made Anom harus tidur dibalik jeruji besi penjara yang pengap dan harus menjalani jadwal sidang di Pengadilan Negeri Denpasar.

Harapan mendapatkan keadilan yang diimpi-impikan Elly Nurdiana, sang istri mulai menemukan secercah titik terang manakala hakim Pengadilan Negeri Denpasar Bali yang mengadili perkara yang menimpa suaminya, dinilainya independen dan bertindak sangat adil.

“Saya sangat mengharapkan Bapak hakim yang mengadili suami saya lebih terbuka hatinya dan memahami masalah yang menimpa suami saya, dan saya melihat Bapak Hakimnya sangat baik sekali,” ujar Elly kepada wartawan disela-sela mengikuti sidang suaminya.

Saat Elly mengikuti sidang dirinya melihat sang hakim tidak mudah begitu saja menerima dan mempercayai pengakuan sepihak dari saksi pelapor. Bahkan sang hakim sangat kritis ingin menggali fakta yang sebenarnya dari kedua belah pihak yang sedang bersengketa.

“Pak hakimnya sangat kritis saat mengajukan pertanyaan ke para saksi,” kata Elly.

Elly yakin keadilan dan independensi hukum masih berpihak di negeri ini.

Kebetulan jadwal sidang hari itu mendengarkan pengakuan saksi pelapor yang berhasil menjebloskan I Made Anom Antara (49), warga Kecubung Denpasar ke balik jeruji besi dengan tuduhan menipu dirinya.

Made Anom harus menghadapi kursi pesakitan sebagai terdakwa gara-gara dikriminalisasi oleh rekan bisnisnya sendiri, Al Njoo Dino Dhinata. Padahal justru Dino lah yang menjual tanah milik pribadinya namun ia justru yang didakwa sebagai penipunya.

Beruntung sang Hakim tidak begitu saja percaya terhadap kasus yang sedang ia tangani. Ia berusaha mencari fakta yang benar terkait duduk permasalahannya secara adil dan tidak memihak dengan mengorek banyak keterangan dan masukan dari saksi pelapor.

Hakim ingin mengetahui apa motif pelapor ingin memenjarakan sahabat bisnisnya tersebut.

Dengan nada kritis beberapa kali Hakim mengajukan pertanyaan kepada saksi pelapor yang gagap saat menjawab karena kasusnya memang sejak awal penuh kejanggalan tersebut.

Peristiwa ini terjadi saat persidangan kasus dugaan pemalsuan surat perjanjian dengan terdakwa Direktur PT. Panorama Bali, I Made Anom Antara memasuki agenda pemeriksaan saksi-saksi di Pengadilan Negeri Denpasar.

Dalam sidang yang berlangsung Senin (13/5/2019), dua orang saksi hadir, diantaranya, Dino Dinatha yang merupakan saksi pelapor dan Raja Ashiva yang merupakan Komisaris dari PT. Panorama Bali.

Sidang yang dimulai pukul 16.00 sore dan berakhir pada pukul 22.00 malam tersebut, kedua saksi ini dicecar sejumlah pertanyaan baik dari Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum dan juga Penasehat Hukum terdakwa.

Dihadapan majelis hakim pimpinan IGN Putra Admaja dan JPU Dewa Rai Anom dan Raka Arimbawa, Dino Dinatha sebagai saksi pelapor mengaku sebagai korban dari Anom Antara dalam bisnis investasi untuk membangun perumahan kondominium, kondotel yang akan diberi nama Outrige Penorama Bali, tetapi oleh terdakwa itu tidaklah benar.

Namun pengakuan Dino tersebut langsung dikritisi penasehat hukum terdakwa. Raja Nasution selaku penasehat terdakwa membalikkan tuduhan dan alibi Dino dengan pertanyaan sebagai berikut : ’’Seperti dalam MoU, apakah benar dalam waktu enam bulan saksi bisa membereskan masalah utang-utang dari PT. Panorama Bali?

Dino Dinatha mengelak dengan menjawab kesepakatan awal MoU itu bukanlah patokan, namun masih ada surat perjanjian yang ada setelah MoU tersebut.

Selanjutnya, saat ditanya oleh pengacara tentang siapa pendiri dari PT. Panorama yang dikatakan ada 4 orang (Anom Antara, Raja Ashiva Feranaz, Richard, dan Michgran) Dino Dinatha membenarkan hal ini.

‘’Betul ada 4,’’ kata Dino, namun, di muka persidangan Dino Dinatha mengelak terkait kedua orang asing (Richard dan MichGrant).

“Bukan termasuk orang asing (Richard dan Michgrant),” kata Dino.

Kembali Penasihat hukum terdakwa menjelaskan, jika salah satu pihak dalam sebuah perjanjian ada yang ingkar janji maka disebut wanprestasi dan jika ada sengketa dalam iplementasinya maka dilakukan musyawarah, Dino mengamini hal itu.

“Kami sudah melakukan musyawarah namun terdakwa tidak hadir,’’ jelas Dino Dinatha lagi.

Selanjutnya Penasihat Hukum terdakwa menanyakan terkait pelaporan yang dilakukan Dino yaitu berdasarkan surat perjanjian yang dibuat oleh Anom Antara dan Raja Ashiva Feranas.

‘’Saksi, terkait laporan anda yaitu berdasarkan surat yang dibuat oleh Anom Antara dan Raja Ashiva, apakah Raja Ashiva juga sudah dilaporkan dalam perkara ini di kepolisian?’ Tanya Raja Nasution, namun oleh Dino Dinatha dijawab enteng, katanya tidak tahu, malah, ia menyuruh untuk menanyakan ke pihak kepolisian.

“Kan anda sebagai pelapor punya kepentingan sepatutnya anda tahu, apakah sudah diperiksa atau sudah menjadi tersangka, sementara pak Anom sudah menjadi Terdakwa sekarang’’ timpal raja Nasution lagi, tetapi dijawab oleh Dino, katanya, ia kurang tahu dan tidak mempunyai kapasitas untuk menjawabnya. Namun, sepengetahuannya sudah diperiksa.

Disinggung terkait tanah yang sudah dijual oleh Dino Dinatha, atas nama Made Anom Antara, Penasihat hukum terdakwa bertanya, dalam akta jual beli apakah ada tanda tangan Made Anom Antara dalam jual beli tersebut. Dino menjawab, ada, namun lagi-lagi Raja Nasution meminta untuk dibuktikan.

“Mana buktinya, tolong dibuktikan,” pinta Raja Nasution.

Namun, Dino Nampak tidak bisa membuktikan permintaan dari penasihat hukum dan menjelaskan di depan mejelis hakim bahwa Anom Antara bersama istri telah menjual tanah tersebut secara pribadi kepada PT. Panorama Bali yang saat itu direkturnya adalah Anom Antara sendiri.

“Jadi saya tidak ikut campur dalam urusan jual beli tersebut, karena sudah jelas disini jual beli tersebut antara Anom Antara sebagai pribadi bersama istri menjual kepada PT. Panorama Bali, kalau sudah dilakukan baru saya bisa masuk. Sudah jelas disini,’’ terang Dino Dinatha.

Lagi-lagi Raja Nasution meminta, apakah ada tanda tangan dari Made Anom Antara sebab pihaknya mempunyai dua sertifikat sebelum HGB. Dan kenapa bisa berubah.

Sebab, dijelaskan oleh penasihat hukum, HGB itu terjadi pada tahun 2018 yang dibuktikan dengan surat dari BPN Badung, sementara Dino Dinatha masuk di Panorama Bali pada tahun 2011.

Menjawab pertanyaan itu, Dino Dinatha mengatakan, kenapa pada tahun 2011 pihaknya tidak bisa membalikan nama, karena alasan ada gugatan dari PT. Tiga Mitra.

Jawabaan ini langsung disambar oleh Raja Nasution, dan langsung balik bertanya, kapan PT. Tiga Mitra melakukan gugatan?

Jawab Dino, pada November 2011. Raja Nasution bertanya kembali, apakah saksi dikasih surat kuasa? Dino kembali menjawab, ada. Saya dikasih surat kuasa untuk bantu menyelesaikan masalah Anom Antara.

“Orang membantu kok, suruh menyelesaikan,’’ tandas Dino.

‘’Jadi begini Yang Mulia saat itu terjadi pemblokiran, jadi kami tidak bisa melakukan pembayaran, jadi kami minta penetapan pengadilan karena tidak memiliki status quo, jadi kami melakukan RUPS. Karena kami panggil Anom Antara untuk RUPS aja tidak pernah datang,’’ lanjut Dino.

Baca Juga  Semarak Kemerdekaan, Novotel Potong Tumpeng Merah Putih

“Karena tidak memenuhi qorum, kami minta putusan pengadilan, itupun dihalang-halangi oleh pihak Anom Antara, dan pada akhirnya pemblokiran itu dibuka dan tidak ada penyitaan sehingga bisa membayar ke pihak tiga mitra, baru kami bisa balik nama,’’ tambah Dino.

Raja Nasution kembali menyanggah, katanya, yang Mulia klien kami mengatakan tidak pernah menandatangani sertifikat jual beli, bahkan dikatakan pada 2018, Made Anom Antara sudah ditetapkan jadi tersangka di Polda Bali.

Persidangan pun menjadi seru manakala kembali ke soal perdebatan mengenai MoU dan surat perjanjian.

Menurut Penasihat hukum terdakwa, MoU merupakan yang utama sedangkan surat perjanjian adalah aksesosris dikarenakan semua hak dan kewajiban ada di dalam MoU, namun pihak Dino membalikan, bahwa MoU sebagai aksesoris yang berlaku adalah surat perjanjian.

‘’Dalam MoU tersebut, saksi juga sudah tandatangani. Siapa yang ingkar janji, apakah pihak pertama atau pihak kedua’’ jelas Raja Nasution.

Raja Nasution selanjutnya melemparkan pertanyaan terkait kehadiran semua pembeli saham ke Notaris Ketut Ariana.

“Apakah pembeli saham semua datang ke Notaris Ketut Ariana?’ Tanya Raja Nasution.

‘’Semua hadir, kecuali, Andri Susanto yang diwakili oleh saya,’’ jawab Dino Dinatha.

‘Tetapi, saksi bilang semua hadir,’’ timpal Raja Nasution.

‘’Itu BAP,’’ jawab Dino lagi. Dan Hakim langsung memotong yang dipakai adalah keterangan saksi di muka persidangan.

‘’Sementara dalam BAP Ketut Ariana hanya anda yang datang, tolong, anda sudah disumpah,’’ tukas Raja Nasution.

Sidang pun terus berlanjut, dan Dino kembali ditanyakan lagi terkait PKPU Yang dilakukan oleh penggugat atas nama MX. Kusmono dan Ketut Apriana, karena kondotel tersebut tidak kunjung dibangun, Dino Dinatha menjawab, ia betul.

Raja Nasution mencecar lagi beterkaitan waktu Dino masuk ke PT. Panorama Bali, serta tujuan didirikannya PT. Panorama Bali dan apakah sudah menjalankan seperti yang tertera di MoU.

Dino menjawab, pada bulan Oktober 2011 dan menjadi direktur utama, dan tujuan dibangunnya Perusahan ini adalah untuk kondotel, Namun, sebagai direktur utama dan menjalankan pembanunan Dino meminta untuk menyakan kepada terdakwa karena bermasalah.

‘’Bagaimana mau meminjam uang kalau tanahnya bermasalah,’’ tandas Dino Dinatha.

Saat itu juga Raja Nasution langsung menyambar pertanyaan terkait tanah yang dijual oleh pihak Dino Dinatha, apakah sebanding dengan kerugian yang dialami oleh dirinya. Tetapi Dino Dinatha menjawab, itu adalah kerugian, yang dimana seharusnya kami tidak mengeluarkan uang tersebut tetapi kami mengeluarkan uang.

Dikatakan Dino, bukan masalah sebanding atau tidak sebanding. “Tidak konteknya pa pengacara. Disini konteksnya adalah surat jaina yang dibuat oleh terdakwa pada tanggal 10 Agustus 2011, yang menyatakan kami bebas dari segala hutang. Dan supaya tahu saja, ini tannah sudah mau dilelang. Terdakwa juga menghalang-halangi kami,” terang Dino.

‘’Kapan Tanah dijual?’’ Tanya Raja Nasution dan dijawab Dino pada Juni 2018.

Saat ditanya terakit dengan pengembalian saham milik Made Anom Antara, Dino beralasan, karena Anom Antara memiliki kredibilitas yanang buruk , maka pihaknya harus menjadi mayoritas.

“20 Persen itu merupakan nomini yaitu milik Grant dan Richard seperti yang bapak sebutkan tadi. Tetapi dalam perjalannanya Anom Antara dan Raja Ashiva telah menjual kembali kepada saya,’’ jawab Dino, langsung disambar lagi oleh Raja Nasution, apakah sahamnya itu telah dikembalikan berdasarkan isi MoU pasal 6.

Raja Nasution kembali bertanya, terkait dengan Anom Antara yang tidak mendapatkan haknya karena pihak Dino menganggap minus.

“Apakah sudah dilakukan audit bahwa itu benar terhadap utang-utang dan kewajiban Anom shingga ia Minus,” tanya Raja Nasutin.

Dino menjawab, sudah, tetapi Raja Nasution kembali bertanya, apakah dilakukan audit secara independen karena ini adalah PT bukan punya pribadi. Dino kembali menjawab, tanya ke Anom.

‘’Saya tanyakan lagi, apakah sudah diaudit secara independen. Sehingga menyatakan kerugian sepihak,’’ tanya Raja Nasution, dijawab oleh Dino, belum, dan katanya lagi, pihaknya sudah mengundang Anom Antara untuk datang melihat bukti-buktinya.

Tetapi Raja Nasution mengejar lagi katanya, apakah dalam bukti tersebut pihak Anom ada kerugian.

Lagi-lagi, pihak Dino menyanggah, bahwa dalam permasalahan ini konteksnya adalah bukan soal penjualan lahan.

Namun oleh Raja Nasution menangkis, objek dari jaminan itu adalah tanah atas nama Anom dan Anom punya hak 20 Persen.

Kemudian Raja Nasution kembali bertanya terkait nilai tanah dengan nilai investasi. Dan dijawab oleh Dino Dinatha bahwa tanah tersebut dibeli dengan nilai Rp. 21 Milyard.

‘’Tanah (asset PT. Panorama) itu dijual hamper 100 sampai 150 mIlyard, hampir,’’ terang Raja Nasution sesuai keterangan dari BPN Badung.

Dino menjawab, katanya, ‘’pak tanah itu dua puluh tahu lagi pasti mencapai 30 juta Dolar, tetapi pada waktu itu kami sebagai pembeli melihat apakah uangnya masuk ke rekening, terbukti di lapangan tidak ada itu 60 juta dolar, 68 milyard pak. Terbukti di lapangan tidak ada pengerjaan apapun. Dimana yang ada kabelfind dan rumah gubuk. Pertanyaan saya sekarang, kemana uang 60 juta dolar itu,’’ terang Dino, tetapi menurut Raja Nasution itu adalah itu merupakan asset tanah.

Atas keterangan dari Saksi Pelapor ini, terdakwa Anom Antara mengaku sebagian besar benar dan yang lainnya tidak benar diantaranya dalam pembelian tanah itu saya meminjam uang kepada PT. Tiga Mitra, kemudian surat jaminan dan pernyataan yang dibuat di Notaris yang dibuat di notaris Ketut Arian, kami datang bersama Ashiva dan itu sudah ada drafnya atas permintaan saudara saksi dan itu bersamaan dengan jual beli saham. Dan yang hadir hanya saudara saksi sendiri. Serta saya tidak ada tanda tangan jual beli tanah yang menjadi HGB.

Untuk diketahui, sidang pekan depan masih mendengarkan keterangan saksi dari advokat Putu Subadha Kusuma, notaris Ketut Arya dan dua orang pemilik PT Panorama Bali Grant dan Richard. (KDB)

Sebagai bahan informasi I Made Anom Antara (49), warga Kecubung Denpasar diduga menjadi korban terjadinya persekongkolan jahat dalam penegakan hukum.Terdakwa sejatinya adalah korban justru menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.
Tanah Made dijual mitra usahanya, namun ia justru dijebloskan ke tahanan dan kini menghadapi sidang kasus penipuan.

Penasehat hukum terdakwa I Made Anom Antara, Mhd.A.Raja Nasution seusai sidang perdana pembacaan dakwaan di PN Denpasar, Bali senin silam kepada sejumlah wartawan mengatakan kekecewaan atas proses hukum yang dialami kliennya.

Bagaimana tidak, tanah milik terdakwa seluas 3,17 hektar yang berada di wilayah Pecatu di jual tanpa sepengetahuan I Made Anom Antara selaku pemilik sah tanah tersebut.

“Tanda tangan klien saya dipalsukan dalam surat jual beli tanah tersebut. Tapi kini klien saya justru dilaporkan ke polisi, dijebloskan ke tahanan dan kini diadili di pengadilan dalam perkara kasus penipuan, kasihan sudah terjatuh masih ditekan,” kata Raja Nasution.

Anehnya, terdakwa yang sempat melaporkan soal tanahnya itu ke Polda Bali justru tidak ditanggapi oleh penyidik. Tetapi justru Made Anom Antara yang dilaporkan telah melakukan penipuan oleh penjual tanah yang juga mitra bisnisnya Njoo Daniel Dino Dinatha. (tim)


Credit photo : Ibu rumah tangga, Elly Nurdiana saat menemani suaminya I Made Anom menuntut keadilan di pengadilan Denpasar Bali/ telegraf
Share



Komentar Anda