Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Sawit Diserang Kampanye Hitam, Indonesia Melawan Supaya Sawit Tak Tinggal Kenangan
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Nasional

Sawit Diserang Kampanye Hitam, Indonesia Melawan Supaya Sawit Tak Tinggal Kenangan

MSN Jumat, 27 September 2024 | 07:28 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Bagikan

YOGYAKARTA, TELEGRAF.CO.ID — Produk kelapa sawit Indonesia mendapat banyak tantangan, terutama lewat kampanye hitam dan hambatan aturan Uni Eropa. Indonesia pun melawan supaya sawit tak tinggal kenangan seperti komoditas unggulan gula dan karet.

Demikian mengemuka dalam diskusi dan bedah buku “Sawit, Anugerah yang Perlu Diperjuangkan” terbitan Indonesian Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) di gedung Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada (MM UGM), Kamis (26/9/2024).

Dewan Pengawas IPOSS Yuri O Thamrin menjelaskan bahwa dengan luas tanam mencapai 16 juta hektar, kelapa sawit telah menghidupi 18 juta petani dan menyumbang 12 persen ekspor Indonesia.

“Dari hulu ke hilir, industri sawit menyerap banyak tenaga kerja. Sawit mengurangi kemiskinan, menyejahterakan banyak tempat, mengurangi kesenjangan pendapatan, bahkan mengurangi dampak perubahan iklim. Kontribusi sawit untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) besar sekali,” ujarnya.

Dengan arti strategis sawit tersebut, Indonesia mesti mengamankan pasar global sawit dengan mengembangkan industri agribisnis ini secara berkelanjutan. “Kita telah memperkuat sustainability (keberlanjutan). Kita tidak omdo (omong doang) dengan menciptakan ekosistem yang baik,” tandasnya.

Ia menyebut Indonesia tak ingin nasib sawit seperti sejumlah komoditas yang dulu pernah berjaya namun kemudian pasarnya surut, seperti gula, teh, dan karet. “Jangan sampai sawit kita tinggal kenangan,” ujarnya.

Langkah tersebut mendapat tantangan dari pihak-pihak yang tak ingin melihat sawit Indonesia menguasai pasar. Kampanye hitam pun dilayangkan. “Industri sawit kita diserang isu lingkungan, deforestasi, isu kesehatan, human traficking, sampai mempekerjakan buruh anak. Padahal ini persaingan dagang,” katanya.

Baca Juga :  Ini Respon Jaksa Saat Diminta Untuk Periksa Jokowi di Kasus Pertamina

Namun saat ini citra negatif sawit itulah yang banyak beredar. Apalagi pada akhir 2024, Uni Eropa akan memberlakukan secara penuh European Union Deforestation Regulation (EUDR). Melalui aturan ini, berbagai komoditas termasuk sawit akan dihalangi masuk Uni Eropa kecuali mampu memenuhi aturan tentang bebas deforestasi melalui skema ketertelusuran.

“Ini sulit dipenuhi petani sawit kita sehingga mereka terusir dari rantai pasok yang berujung pada kemiskinan. Eropa maunya pokoke (harus). Kita akan melawan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Sawit Institut Pertanian Bogor (IPB) Budi Mulyanto menambahkan kelapa sawit sebenarnya bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Afrika. “Tapi sawit menemukan rumah terbaiknya yakni di Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan saat ini sedikitnya ada 160 produk turunan dari kelapa sawit. Efek bergandanya sangat besar. Kelapa sawit bahkan layaknya mesin besar penyerap emisi karbon. Jadi kalau ada yang bilang sawit penyebab emisi karbon, itu sangat salah,” tandasnya.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Ini Respon Jaksa Saat Diminta Untuk Periksa Jokowi di Kasus Pertamina
Waktu Baca 2 Menit
Susul Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara Juga Ikutan Mundur Dari OJK
Waktu Baca 2 Menit
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar Mundur Dari Jabatan
Waktu Baca 4 Menit
Tekan Unbanked, LPS Targetkan Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan
Waktu Baca 2 Menit
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Waktu Baca 8 Menit

Senator Dayat El: Polri Lebih Efektif di Bawah Komando Presiden Langsung

Waktu Baca 2 Menit

eSIM XL PRIORITAS Solusi Konektivitas Digital untuk Gaya Hidup Modern

Waktu Baca 4 Menit

SPPG Yang Tolak Pasokan Dari UMKM dan Petani Kecil Bakal Disanksi BGN

Waktu Baca 2 Menit

Prabowo Bakal Hadiri Seremonial Penerimaan Pesawat Tempur Rafale Buatan Prancis

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Nasional

378 Pendaftar Lolos Seleksi Administrasi Calon Anggota KIP 2026-2030, Ini Daftarnya

Waktu Baca 12 Menit
Nasional

Menteri KKP Terjatuh dan Pingsan Saat Upacara Pelepasan Korban Pesawat ATR

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Seorang petugas kebersihan sedang membersihkan gedung KPK. ANTARA
Nasional

KPK Sita Ratusan Juta Tunai Dari Kasus Korupsi Wali Kota Madiun

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Tim SAR Temukan Total 10 Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi terjadi hujan lokal di beberapa wilayah di DKI Jakarta pada hari ini. IST. PHOTO
Nasional

Pramono Anung: Perpanjangan Modifikasi Cuaca Hingga 27 Januari

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Akan Diperiksa KPK Terkait Korupsi Haji

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Ahok Pastikan Bersaksi Terkait Korupsi Kilang Pertamina Pekan Depan

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Prabowo Tak Tetapkan Status Bencana Nasional, Ini Alasannya

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?