Reog Ponorogo Nggruduk Rumah Dinas Plt Gubernur

Reog Ponorogo Nggruduk Rumah Dinas Plt Gubernur

Di hadapan para seniman Reog Ponorogo, Soni punya gagasan dan ide agar grup Reog Ponorogo punya sanggar sendiri di Jakarta. "Sanggar ini untuk melestarikan kembali budaya reog, menghasilkan seniman-seniman baru reog dari kalangan anak muda," ujar Soni.

Reog Ponorogo Nggruduk Rumah Dinas Plt Gubernur

Sumarsono menerima cenderamata dari perwakilan Reog Ponorogo DKI Jakarta

Jakarta, Telegraf,- Puluhan seniman dan pelestari budaya yang tergabung dalam Komunitas Reog Ponorogo, Selasa (17/1/2016) menemui Soni Sumarsono, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta di rumah dinasnya, Taman Suropati, Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Mereka menyampaikan uneg-unegnya mengenai kondisi seniman dan grup Reog Ponorogo yang kian tahun kian terpinggirkan.

“Dari 80 grup reog Ponorogo yang pernah berjaya di era lalu, kini yang aktif tinggal sekitar 50 an grup,” ujar Ketua Suryo Mulyono Ketua Dewan Pembina Komunitas Grup Reog Ponorogo se Jabodetabek.

Persoalan yang dihadapi grup Reog Ponorogo selama ini mereka kesulitan dana untuk membeli properti reog yakni dadak merak. Seringkali saat tampil diberbagai kesempatan, bulu gagak merak ini dicabut oleh penonton. Alhasil, harus dilakukan perbaikan dengan anggaran yang tidak sedikit.

“Satu bulu gagak merak harganya Rp 9.000, sedangkan untuk satu reog dadak merak membutuhkan 2,000 helai bulu merak,” kata Suryo.

Sehingga untuk membuat Dadak Merak sebagai ikon seni Reog Ponorogo membutuhkan dana sebesar Rp40 juta.

Suryo khawatir seni budaya khas Indonesia ini makin lama makin punah tergerus jaman. Oleh karenanya mereka menemui Plt Gubernur Soni yang selama ini sangat peduli budaya Indonesia.

Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono menyambut hangat silaturahmi dari Komunitas Reog Ponorogo. Ia didampingi Asisten Bidang Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Bambang Sugiyono yang selama ini menjadi Ketua Warga Jawa Timur di Jakarta. Hadir juga Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Catur Laswanto.

Di hadapan para seniman Reog Ponorogo, Soni punya gagasan dan ide agar grup Reog Ponorogo punya sanggar sendiri di Jakarta. “Sanggar ini untuk melestarikan kembali budaya reog, menghasilkan seniman-seniman baru reog dari kalangan anak muda,” ujar Soni.

Terkait pengembangan seni Reog, seorang ibu peneliti dan dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang selama ini membina kesenian Reog di kalangan mahasiswa mengaku kesulitan mereka selama ini mengadakan properti Dadak Merak dan kebanyakan siswa Reog perempuan. Mereka tidak kuat memanggul Dadak Berat yang beratnya belasan ton.

Terkait beratnya properti Reog berupa Dadak Merak, Soni punya usulan membuat modifikasi Dadak Merak yang ringan, tidak berat dan murah. Sehingga siswa-siswa yang peduli pengembangan budaya Reog bisa belajar menggunakan Dadak Merak yang sudah dimodifikasi. “Misalnya bahan bulu meraknya dipakai bahan sintetis,” katanya.

Para seniman Reog Ponorogo juga meminta bantuan dana ke Pemprov DKI untuk pengembangan budaya reog sebesar Rp2,7 miliar. Namun selama ini terkendala oleh kelembagaan. Karena grup-grup seni Reog Ponorogo selama ini tidak memiliki badan hukum.

Padahal untuk mendapatkan dana hibah dari pemerintah, grup Reog Ponorogo wajib memiliki badan hukum. Beruntung mereka kini memiliki sudah bergabung dalam Komunitas Reog Ponorogo di Jakarta yang berbadan hukum.

Dana hibah ini akan digunakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana 80 komunitas yang ada. “Mereka mengajukan proposal untuk sarana dan prasarana senilai Rp 2,7 miliar. Selama ini, mereka belum pernah mendapatkan dana hibah, ini demi nguri-uri budaya asli Indonesia,” kata Soni.

“Mereka sudah mengajukan resmi, kemudian saya berdiskusi ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Setidaknya, mereka bisa diberikan bantuan,” pungkasnya.

Edo W.

close