Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Proyek Konservasi di Parai Ditingkatkan Pada Wilayah Lain
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Proyek Konservasi di Parai Ditingkatkan Pada Wilayah Lain

Atti K. Minggu, 20 November 2016 | 07:53 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Foto:Istimewa
Bagikan

Telegraf, Jakarta – The United Nations (UN) Global Compact (GC) Indonesia akan extend kegiatan konservasi laut, dan pemberdayaan masyarakat pesisir di Parai Sungailiat Bangka termasuk pembekalan pengetahuan yang dibutuhkan nelayan. Pengelolaan kawasan konservasi perairan dan keberlanjutan sumber daya ikan (SDI) mutlak harus melibatkan nelayan, masyarakat pesisir. “Kita akan bicara (pembekalan pengetahuan) dengan nelayan terkait konservasi, SDI dan pengetahuan dasar kegiatan wisata bahari. Hasil kerja kami yang di Parai sudah memberi hasil. Kami mau extend pada wilayah (perairan) lainnya,” Johnnie Sugiarto dari UNGC Indonesia mengatakan kepada Redaksi Telegraf.

Pengelolaan kawasan konservasi perairan terpadu dan komprehensif selalu dibarengi dengan pengetahuan ilmiah. Selain ekosistem, dinamika masyarakat terutama yang tinggal di pesisir harus menuju pada aspek keberlanjutan (sustainability). Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat juga menjadi semakin signifikan. “Kebetulan saya anggota Global Compact terutama urusan terkait konservasi. Saya juga masih terus belajar setelah dan sebelum mengerjakan proyek (konservasi), investasi pariwisata (pantai) Parai. UNGC sering menyelenggarakan kursus singkat. Saya ikut, belajar seharian (mengenai konservasi).”

Pantai Parai sebagai salah satu destinasi wisata bahari di Bangka tidak ada habisnya dijelajahi. Pengunjung juga semakin banyak pilihan untuk bersenang-senang, termasuk snorkeling dan diving (selam). Kerajaan bawah laut Parai sangat luar biasa, kendatipun masih ada beberapa kapal isap timah yang cenderung merusak karang laut. Proyek Johnnie melibatkan beberapa perkumpulan diving dari berbagai daerah. “Yang punya fasilitasnya, orang asli Sungailiat (Bangka). Kami punya SDM termasuk divers (penyelam) dan kerjasama pembiayaan juga.”

Kendatipun demikian, penjajakan UNGC untuk kerjasama bukan perkara mudah. Masyarakat Bangka dan rekan Johnnie sempat menertawakan ide konservasi laut dan SDI. “Usulan saya sebagai kegiatan (konservasi), orang asli Sungailiatnya antara percaya dan tidak. Mereka sempat anggap saya bermimpi.”

Ide awalnya yakni memberi makan ikan di pesisir pantai Parai. Nelayan dan anggota UNGC menentukan spot terlebih dahulu, yakni satu pulau karang. Kondisi pasang surut air menentukan kegiatan UNGC pada saat itu. Kalau surut, permukaan air hanya satu meter dari dasar laut. Sebaliknya, ketika air pasang bisa mencapai dua meter lebih. UNGC setiap hari, yakni pagi pukul 09.00 dan sore pukul 15.00 mendatangi pulau karang tersebut. “Kami bawa makanan seperti roti. Begitu ikan dengar suara motor boat, ikan ngumpet. Kami tebar (makanan), dan kami pergi. Bulan pertama, tidak ada ikan keluar. Tetapi bulan kedua, ikan sudah tunggu ketika mendengar suara boat. Bulan ketiga, ikan semakin kerubuti boat. Akhirnya kami terjun ke air, berenang. Ikan bisa dijinakan dengan konsistensi kita. Para diver juga bisa melihat ikan-ikan dari dekat, dan biota laut. Kerja kita ada hasilnya, karena dilandasi konsistensi.”

Pekerjaan tidak berhenti sampai disitu. UNGC masih melihat perlunya pembekalan pengetahuan mengenai alat-alat tangkap nelayan yang membahayakan. Beberapa nelayan di Bangka menggunakan bahan peledak, racun dan sejenisnya yang mengancam kelestarian SDI. Lingkungan perairan akan semakin rusak, kalau nelayan tidak mengubah tradisi tersebut. Tetapi keakraban divers dan pecinta snorkeling dengan habitat ikan justru bisa memberi penghidupan buat nelayan, masyarakat pesisir. “Mereka bisa punya mata pencaharian yang tidak putus. Hal ini parallel dengan pelestarian laut dan sumber daya ikan kita. Wisata bahari harus bertumpu pada sustainability (kelestarian). Kalau tidak, investasi juga hilang.”

Pengelolaan sumberdaya ikan sangat erat kaitannya dengan pengelolaan operasi penangkapan ikan dan sasaran penangkapan ikan yang dilakukan. Usaha-usaha untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dari ancaman kepunahan, sebenarnya telah dilakukan sejak lama oleh berbagai ahli penangkapan ikan di seluruh dunia. “Kami harus mengedukasi orang yang tidak mengerti. Sehingga kami juga selenggarakan kegiatan seperti Miss Marine Tourism untuk memperkaya pengetahuan para stakeholders (konservasi laut, SDI).”

Pengetahuan untuk para divers juga terkait dengan bahaya pada racun karang di laut. Banyak para divers yang lengah dengan memegang karang. Padahal karang mengandung racun. Resikonya, badan si diver bisa langsung panas dingin. “Kami bekali pengetahuan, bahwa apa saja di laut tidak boleh dipegang. Karena kondisi air terus goyang. Kalau ada gesekan, akhirnya iritasi. Kita bisa sesak karena kena racunnya.”

Biota untuk makanan ikan yang baru lahir. Terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya. Makanan untuk terumbu karang berpengaruh pada bleaching (pemutihan). Selain, kegiatan penambangan ilegal bisa berpengaruh pada bleaching. “Waktu cuci (hasil tambang), tailing ikut gelombang air. Pori-pori karang akhirnya tertutup. Anggota kami (UNGC) semproti. Kami turun ke dasar laut, semproti karang-karangnya. Kalau tidak, kondisi bleaching semakin parah. Banyak penyebab lainnya. Kalau air terlalu dangkal, kena sinar matahari, (karang) tidak kuat. Akhirnya mati.” (S.Liu)


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupas Jaran Kepang Temanggung, Agus Gondrong Ditunggu Tropi Abyakta Pada Puncak HPN 2026.
Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional
Waktu Baca 4 Menit
DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan untuk Bangsa
Waktu Baca 5 Menit
Bank Jakarta Luncurkan Kartu Debit Visa, Gubernur Dorong Transformasi dan Persiapan IPO
Waktu Baca 3 Menit
Rock Ngisor Ringin Part #2 Jadi Ajang Kumpul Musisi Rock Tanah Air
Waktu Baca 4 Menit

Program FLPP Capai Rekor 263 Ribu Unit, BTN Dominasi Penyaluran Rumah Subsidi Nasional

Waktu Baca 4 Menit

BSN Resmi Beroperasi Usai Spin-Off dari BTN, Bidik Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional

Waktu Baca 3 Menit

Tradisi Warga Indonesia Dalam Merayakan Malam Tahun Baru di New York

Waktu Baca 6 Menit

OJK Bentuk Departemen UMKM dan Keuangan Syariah, Pengawasan Bank Digital Berlaku 2026

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

OJK Raih Predikat Badan Publik Terbaik Nasional 2025, Tegaskan Komitmen Keterbukaan Informasi

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Keseimbangan Energi Jadi Kunci Ketahanan Nasional, Migas dan EBT Harus Berjalan Beriringan

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Transisi Energi Terkendala Infrastruktur, Pemanfaatan EBT Masih di Bawah Target

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK: Aset Perbankan Syariah Tembus Rekor Tertinggi, Lampaui Rp1.028 Triliun pada Oktober 2025

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

OJK Terapkan Perlakuan Khusus Kredit Untuk Korban Bencana Aceh, Sumut dan Sumbar

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Resmikan Kantor Provinsi Maluku Utara, Perkuat Pengawasan Jasa Keuangan dan Pelindungan Konsumen

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

LPS Tegaskan Pentingnya Penjaminan Polis untuk Stabilitas Industri Asuransi

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Penetrasi Rendah, Industri Asuransi RI Dinilai Masih Punya Ruang Pertumbuhan Sangat Besar

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?