Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Prospek Ekspor Kopi Manfaatkan Peralihan Minum Teh ke Kopi di Tiongkok
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Prospek Ekspor Kopi Manfaatkan Peralihan Minum Teh ke Kopi di Tiongkok

Atti K. Rabu, 16 November 2016 | 09:14 WIB Waktu Baca 6 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Beberapa perusahaan eksportir Indonesia terus membidik pasar kopi di Tiongkok, terutama specialty coffee (kopi special) dan penjualan paket souvenir gift set. Tingkat rata-rata konsumsi kopi masyarakat Tiongkok mencapai sekitar enam persen (6%) terutama segmen umur 25 – 35 tahun. “Kalau umur di atas 50 an tahun, (kebiasaan minum kopi) masih agak sulit. Tapi di bawah 50, (tren) semakin kuat. Masyarakat (umur) 50 an masih pegang budaya minum teh,” Stephen Lo dari Twind Coffee mengatakan kepada Telegraf.

Seiring dengan perkembangan industri minuman kopi, istilah specialty coffee muncul karena para peminum kopi sudah dapat membedakan kualitas kopi. Kopi yang tergolong dalam kualitas baik inilah yang mendapat sebutan specialty coffee. Penilaian masyarakat terhadap kopi semakin mengarah pada aroma dan rasa yang istimewa. Semuanya baik aroma, rasa dan harga di atas kopi rata-rata pada umumnya. “Tren (konsumsi specialty coffee) di Tiongkok karena generasi muda yang baru kembali dari Amerika, Eropah. Mereka awalnya studi, kerja di Amerika, Eropah yang kulturnya minum kopi.

Generasi muda Tiongkok tersebut bawa kultur tersebut ke negara asal mereka. Sehingga tingkat konsumsi meningkat sampai 300 persen, bahkan tahun depan sampai 400 persen. Kami yakin,” kata Stephen yang juga aktif pada AEKI (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia).

Ekspor Specialty Coffee, bukan hanya di Tiongkok dalam 10 tahun belakangan ini semakin meningkat. Terlebih lagi produk specialty coffee Indonesia memiliki rasa dan aroma yang khas dan terdapat 13 jenis kopi ini yang telah terdaftar dalam Indikasi Geografis. Selain specialty, produsen dan eksportir kopi Indonesia juga gencar menjual kopi luwak. AEKI memanfaatkan peluang pasar di Tiongkok, dan sedang jajaki kerjasama dengan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI. Fenomena ‘nongkrong di warung kopi’ di Tiongkok sangat kentara pada beberapa tempat kerja favorit generasi muda.

“Kantor Alibaba Group (perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok, didirikan Jack Ma), Huawei (perusahaan ICT Tiongkok) sekarang dihinggapi budaya coffee break. Mereka minum kopi sekitar jam tiga sore. Semua insinyur (ahli ICT) setelah jam kerja, sering nongkrong di coffee shop. Pemain specialty coffee dari Taiwan juga serbu pasar Tiongkok.”

Di sisi lain, Stephen yakin dengan prospek bisnis roasting kopi. Dengan peluang baru pada bisnis dan profesi industri roasting atau penyangraian kopi, AEKI sudah antisipatif. Sehingga AEKI membuat konsentrasi khusus dalam membantu pemerintah untuk meningkatkan SDM penguasaan teknologi roasting. Selain pelatihan rutin, AEKI bersama pusat pelatihan kopi Indonesia (PPKI) di Jakarta buka kelas bisnis micro roastery.

Roasting untuk jenis fine coffee sudah lebih dulu tren di Taiwan. Sehingga café Twind (di Gading Serpong, Tangerang) sering mengundang barista Taiwan. Kopi dengan roasting yang baik, tanpa penambahan bahan lain. Aroma dan rasa terjaga. “Sama seperti di Tiongkok, karena roasting kopinya semakin enak, kopi instan termasuk merek Nescafe turun. Masyarakat di sana semakin mengurangi konsumsi instant coffee termasuk Nescafe. Sehingga bisnis roasting di Indonesia ditingkatkan, nanti bisa terus menyasar pasar Tiongkok.”

Kopi Instan adalah produk kopi berbentuk serbuk atau granula atau flake yang diperoleh dari proses pemisahan biji kopi, disangrai, digiling, diekstrak dengan air, dikeringkan dengan proses spray drying (dengan atautanpa aglomerasi) atau freeze drying atau fluidized bed drying atau proses lainnya menjadi produk yang mudah larut dalam air. “Tren (instant coffee) turun dari tahun ke tahun, termasuk di Indonesia. Kami bikin souvenir gift set juga tidak dengan instant coffee. Kami pilih specialty coffee. Walaupun harga mahal, tetapi ini kan untuk prestige jaga relasi bisnis. Di Tiongkok, jelang Imlek juga akan ramai penjualan gift set kopi luwak atau specialty coffee.”

Sementara itu, eksportir kopi asal Jawa Timur CV Karya Semesta juga cenderung membidik pasar ekspor terutama Tiongkok, Taiwan, Korea, Malaysia, Polandia. Karya Semesta membudidaya luwak sampai lebih dari seratus ekor. “Kebun kami di Gunung Raung yang dulu dikenal dengan kawah Ijen. Perjalanan satu sampai satu setengah jam dari kota Malang. Tren ekspor semakin bagus dari tahun ke tahun,” Theresia Deka Putri, Direktur Utama Karya Semesta mengatakan kepada Telegraf.

Sebagian karyawannya berasal dari Gresik, Malang dan beberapa daerah di Jawa Timur. Café milik Theresia juga sudah menyebar sampai Malaysia. Sementara di dalam negeri, Theresia baru buka di Kediri, Malang dan Bekasi. “Prospek lebih bagus untuk pasar ekspor. Masyaralat Taiwan, Tiongkok sangat cinta kopi. Mereka suka banget dengan kopi luwak lanang.”

Budidaya luwak di gunung Raung terdiri dari tiga jenis yakni luwak lanang, kembang dan liar. Jenis luwak lanang difermentasi dengan luwak jantan. Sesuai dengan namanya, luwak jantan juga memberi rasa yang kuat. Sementara luwak betina difermentasi dan lebih mengental. “Luwak liar difermentasi di hutan. Setiap jenis (luwak) dengan taste dan aroma yang berbeda. Tetapi luwak lanang yang paling strong (rasa dan aroma),” kata Theresia yang berhasil mengumpulkan omzet sampai miliaran rupiah.

Perusahaannya juga memproduksi tiga merek kopi kemasan. Theresia membuat usaha pengolahan kopi sederhana dengan roasting biji-biji kopi. Alatnya relative sederhana ketika ia pertama kali usaha roasting, yakni penggorengan terakota.

Untuk alat penggilingan, modal awalnya, perusahaan cukup memilih menggilingnya ke tempat- tempat yang menawarkan jasa penggilingan. Perjalanan waktu, mereknya telah mampu merembah Kota Jakarta, Bali, hingga ke Makasar, dan diberbagai pasar lokal. Kebunnya di Gunung Raung mengintegrasi luwak, teh dan kakao. “Tetapi yang paling besar porsinya kopi dan budidaya ternak. Pasar kopi lebih menjanjikan terutama kondisi ekspor sekarang ini.” (S.Liu)

Photo credit : Ist. Photo


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupas Jaran Kepang Temanggung, Agus Gondrong Ditunggu Tropi Abyakta Pada Puncak HPN 2026.
Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional
Waktu Baca 4 Menit
DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan untuk Bangsa
Waktu Baca 5 Menit
Bank Jakarta Luncurkan Kartu Debit Visa, Gubernur Dorong Transformasi dan Persiapan IPO
Waktu Baca 3 Menit
Rock Ngisor Ringin Part #2 Jadi Ajang Kumpul Musisi Rock Tanah Air
Waktu Baca 4 Menit

Program FLPP Capai Rekor 263 Ribu Unit, BTN Dominasi Penyaluran Rumah Subsidi Nasional

Waktu Baca 4 Menit

BSN Resmi Beroperasi Usai Spin-Off dari BTN, Bidik Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional

Waktu Baca 3 Menit

Tradisi Warga Indonesia Dalam Merayakan Malam Tahun Baru di New York

Waktu Baca 6 Menit

OJK Bentuk Departemen UMKM dan Keuangan Syariah, Pengawasan Bank Digital Berlaku 2026

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

OJK Raih Predikat Badan Publik Terbaik Nasional 2025, Tegaskan Komitmen Keterbukaan Informasi

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Keseimbangan Energi Jadi Kunci Ketahanan Nasional, Migas dan EBT Harus Berjalan Beriringan

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Transisi Energi Terkendala Infrastruktur, Pemanfaatan EBT Masih di Bawah Target

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK: Aset Perbankan Syariah Tembus Rekor Tertinggi, Lampaui Rp1.028 Triliun pada Oktober 2025

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

OJK Terapkan Perlakuan Khusus Kredit Untuk Korban Bencana Aceh, Sumut dan Sumbar

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Resmikan Kantor Provinsi Maluku Utara, Perkuat Pengawasan Jasa Keuangan dan Pelindungan Konsumen

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

LPS Tegaskan Pentingnya Penjaminan Polis untuk Stabilitas Industri Asuransi

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Penetrasi Rendah, Industri Asuransi RI Dinilai Masih Punya Ruang Pertumbuhan Sangat Besar

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?