Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Produksi Menurun Drastis, Industri Rokok Akan Berakhir?
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Produksi Menurun Drastis, Industri Rokok Akan Berakhir?

Didik Fitrianto Selasa, 9 November 2021 | 04:29 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Photo Credit: Penjual rokok asongan. REUTERS
Photo Credit: Penjual rokok asongan. REUTERS
Bagikan

Telegraf – Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) mencatat sejak 2013 sampai 2021 produksi rokok mengalami penurunan 3,56 miliar batang per tahun. Ketua Gappri Henry Najoan mengatakan penurunan produksi akan berdampak ke petani, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan negara.

“Kondisi produksi rokok legal di Indonesia sejak 2013 ke 2021 terus menurun. Secara trend linear produksi rokok turun 3,56 miliar batang setiap tahunnya sejak 2013 sampai 2021,” katanya dikutip dari Swa, Selasa (09/11/2021).

Henry merinci pada 2013, produksi rokok sebanyak 345,89 miliar batang, 2014 menjadi 344,52 miliar batang, 2015 naik menjadi 348,10 miliar batang. Pada 2016 kembali turun menjadi 341,72 miliar batang, 2017 ada 336,34 miliar batang, 2018 menjadi 332,68 miliar batang.

Pada 2019 produksinya sempat 363,56 miliar batang. Lalu kembali turun pada 2020 yang ada 330,59 miliar batang, dan di 2021 menjadi 297,53 miliar batang.

Henry menganggap penurunan produksi tersebut juga tidak terlepas dari maraknya rokok ilegal. Maka itu, dia meminta pemerintah serius untuk memberantas rokok ilegal.

“Mengusulkan dilakukan strategi penindakan rokok ilegal secara extra ordinary dalam pemberantasan peredaran rokok ilegal, sehingga mampu tertelusur, transparan, terpadu, dan ada efek jera bagi pelaku produksi dan pengedar rokok ilegal,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad meminta pemerintah tidak menaikkan cukai rokok pada tahun depan. Hal ini perlu mempertimbangkan aspek pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Saya kira menarik bahwa rokok itu nomor dua konsumsinya gitu, fase pemulihan ini ketika dituntut (harga cukai) naik saya khawatir ini kontraproduktif terhadap upaya pemulihan (ekonomi) karena konsumsi justru nomor dua, saya kira kekhawatiran kita malah justru lebih lambat pemulihannya,” ucapnya.

Tauhid menganggap kenaikan cukai rokok juga akan berimbas ke industri dan penyetoran ke kas negara, sehingga tarif cukai tersebut pada 2022 harus diperhitungkan secara matang.

Baca Juga :  Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

“Artinya memang industri hasil tembakau ini industri yang sangat diatur sebuah regulasi. Jadi maju tidaknya IHT, seberapa jauh pemerintah mengaturnya, termasuk mengendalikan berapa persen kenaikan tarif cukai pada 2022 mendatang,” tuturnya.

Peneliti FEB Universitas Padjadjaran Wawan Hermawan menyebut rata-rata prevalensi merokok usia 15 tahun ke atas di negara-negara OECD sebesar 17,1 persen dan OECD bagi usia 6 tahun ke atas sebesar 17,4 persen. Adapun mayoritas negara dalam pengamatan menunjukkan tren penurunan dalam prevalensi merokok bagi usia 15 tahun ke atas termasuk Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan rata-rata prevalensi merokok bagi usia 15+ yang lebih tinggi dari pada rata-rata OECD dan OECD 6+.

“Kenaikan harga cukai rokok di Indonesia sudah berhasil menurunkan prevalensi merokok, sehingga peningkatan rokok yang terlalu tinggi dikhawatirkan bisa menyebabkan perubahan konsumsi pada jenis rokok yang lebih murah (substitusi/rokok ilegal), alhasil bisa meningkatkan prevalensi merokok akibat mengkonsumsi rokok yang lebih murah,” katanya.

Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik (BPS) Ahmad Avenzora mengakui masih ada sebanyak 1,55 persen pada 2019 dan 1,58 persen pada 2020 anak usia 5-17 tahun yang merokok selama sebulan terakhir. Penduduk berumur 30 tahun ke atas menjadi kelompok yang paling banyak dalam merokok sebulan terakhir.

Sekitar 3 dari 10 penduduk berumur 30 tahun ke atas merokok selama sebulan terakhir, yakni 51 persen pada 2019 dan 31,10 persen pada 2020. Rata-rata konsumsi rokok dan tembakau per kapita seminggu terhadap jenis rokok filter adalah yang terbesar, baik 2019 maupun 2020 sebanyak 12,56 batang dan 12,34 batang.

“Rata-rata pengeluaran rokok dan tembakau per kapita seminggu untuk jenis rokok kretek filter merupakan yang terbesar baik 2019 maupun 2020 sebesar Rp 12.876 dan Rp 13.424, ” jelasnya.


Photo Credit: Penjual rokok asongan. REUTERS

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit
Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara

Waktu Baca 11 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Aktivitas pelayanan di Kantor Regional 2 Jawa Barat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Bandung, Jawa Barat. JIBI/Rachman
Ekonomika

Lawan Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Masyarakat Melek Literasi Keuangan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?